Rabu, 01 November 2017

Protes? Untuk Hal Apa?



Protes adalah hal paling mudah dan paling spontan dilakukan setiap orang. Begitu mudahnya protes tsb sehingga seringkali kata kata protes keluar begitu saja dan kapan saja. Seakan akan kita adalah orang yang paling benar , paling tahu dan orang lain selalu salah. Atau seakan akan kita adalah orang yang paling tertindas, terkorbankan dan menderita. Memang gampang sekali kita melihat punggung orang lain, tapi kita susah melihat punggung diri sendiri. Protes bukannya haram atau tidak boleh dilakukan. Hanya saja kualitas protes kita akan jadi ukuran, orang seperti apa kita. Apalagi jika kita juga tidak punya jawaban jika ditanya: lalu bagaimana solusinya? Hanya bisa menggelengkan kepala saja. Karena protesnya hanya ikut ikutan atau karena terprovokasi teman.

Protes bisa terjadi karena perbedaan persepsi memaknai sesuatu hal, merasakan ketidak adilan, menerima perlakuan tidak menyenangkan, tapi bisa juga karena pengaruh ajakan orang atau kelompok lain, motivasi mendapatkan imbalan atau iming iming uang. Pada intinya protes mengandung harapan semua akan berubah jadi lebih baik sesuai dengan pandangannya. Entah dia paham atau tidak bahwa ada beberapa cara pandang dalam menilai sebuah masalah. Misal karyawan yang protes kepada pimpinan karena gajinya terlambat, tapi pimpinan juga menyatakan bahwa gaji terlambat karena para karyawan kurang gigih dalam mengejar omzet, sehingga tidak semua kebutuhan termasuk gaji bisa tercukupi tepat waktu. Lalu bagaimana dengan kasus seperti ini? Karyawan protes tapi pimpinan juga komplain.

Daripada kita protes pada hal hal yang tidak pasti, maka mari kita sama sama pastikan apa yang bisa kita kerjakan hari ini agar dimasa depan tidak ada pihak yang merasa dikecewakan. Karyawan seharusnya merasa memiliki usaha yang jadi sumber nafkah diri dan keluarganya, sehingga harus berjuang sekuat tenaga dengan iklash bagaimana "meramaikan" bisnis perusahaan. Sebaliknya, pimpinan juga harus memenuhi takdirnya sebagai pimpinan, yaitu harus bisa memotivasi dan mengatur karyawan dengan efektif dan efesien sehingga karyawan diberi arahan yang cukup bagaimana cara bekerja untuk meningkatkan omzet. Jika waktunya harus gajian tiba tapi uang gaji sampai di detik terakhir masih belum mencukupi, maka pimpinan juga perlu dituntut pengorbanan dan teladannya untuk sedikit berbagi sebagian gajinya untuk menutupi kekurangan gaji karyawannya. Setidaknya tindakan seperti itu bisa membuat karyawan sangat menghargai pimpinan yang rela berkorban demi menghargai kerja anak buahnya. sehingga di kesempatan bulan berikutnya mereka akan berjuang lebih keras lagi untuk mencapai omzet yang cukup agar semua bisa menerima gajinya secara utuh tepat waktu. Kebersamaan seperti ini jauh lebih baik daripada sekedar protes dan tidak ada solusi dan akan berakhir lebih buruk lagi dari bulan ke bulan, sampai sebuah team kerja akan benar benar tercerai berai karena menumpuknya berbagai kekecewaan.

Protes bukannya tidak boleh, untuk menyampaikan aspirasi. Juga baik sebagai fungsi pengawasan terhadap pemegang kekuasaan atau regulasi. Hanya saja itu tadi, pemrotes itu mudah sekali. Tp menjalankan yang seharusnya memang sungguh tidak gampang. Berapa banyak aktifis mahasiswa yang dulunya garang meneriakan anti korupsi, tapi pada saat sudah mencapai posisi penguasa justru terjerat kasus serupa. Berapa banyak karyawan yang masuk serikat buruh, berteriak lantang mengkritik system pengupahan, justru pada saat sudah jadi manager jadi berbalik menekan karyawan dan berpihak pada perusahaan. Memang jika memandang sebuah masalah dari sudut pandang atau posisi berbeda, maka akan berbeda juga respondnya. Melihat topik masalah ini tergantung sebagai tekanan atau sebagai kesempatan.

Jadi saya sarankan jadilah orang yang tenang, berpikir sehat dan cerdas membaca masalah. Jangan terlalu cepat terprovokasi atas sebuah hasutan atau ajakan. Pelajari dulu kejadiannya dan cobalah berpikir dari berbagai sudut pandang. Orang bisa melihat kita sebagai pribadi yang matang bijaksana karena tidak selalu ikut arah arus, tapi konsisten dalam menunjukan prestasi diri. Juga agar kelak dikemudian hari kita tidak termakan malu atau jadi bumerang atas citra diri kita sendiri. 

SEMANGAT SUKSES
(Mirza A.Muthi)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar