Sabtu, 24 Oktober 2020

Kecepatan Tahapan Proses


 Dalam apapun yang kita kerjakan selalu ada tahapan. Ada yang perlu riset untuk lebih dahulu mengumpulkan data, lalu perencanaan, persiapan, pelaksanaan, evaluasi, perbaiki tambah kurang modifikasi, pelaksanaan pasca evaluasi dan penilaian akhir KPI (Key Performance Indicator). Itu dinamakan proses tahapan mencapai tujuan. Jelas serangkaian proses tersebut membutuhkan waktu. Waktu sangat terkait dengan berapa banyak biaya dan pengorbanan yang dibutuhkan..semakin lama prosesnya semakin banyak yang dibutuhkan. Ada hal hal yang bisa diusahakan untuk mempercepat proses, misalnya gunakan sumber daya manusia yang sudah berpengalaman sehingga proses belajar trial error di-eliminir. Tentu saja makin expert sumber daya manusia maka makin mahal harga upahnya. Cepat karena expertise. Atau jika dalam sektor produksi/industri, gunakan sumber daya mesin atau alat yang lebih canggih tapi mahal. Proses cepat tapi mahal.  Kecepatan proses bisa juga karena sudah dipelajari sebelumnya sehingga pada saat menjalankannya sudah paham dengan akurat tepat step step efektif efesiennya. Tidak buang buang waktu dan uang yang tidak perlu. Cepat tapi tetap efesien.

 Tapi ada bagian proses yang tidak bisa dipercepat, yaitu proses connecting antara satu tahap dengan tahap berikutnya. Tahap ke 2 tidak akan bisa selesai sebelum tahap 1 selesai. Bisa jadi tahap 4 dan tahap 5 berjalan paralel, lalu hasil kedua tahap akan digabung di tahap 6. Tapi intinya tidak ada proses yang bisa dikatakan selesai sebelum semua tahapan berjalan sempurna.

Dalam kehidupan ini juga sama, kita harus mengalami semua tahap. Ada tahap senang, ada tahap susah, ada tahap harap harap cemas, bahkan kadang ada masa dimana kita sudah merasa putus asa dan hampir berniat berhenti mundur dari menjalankan proses. Kita tidak bisa melompati tahapan. Misal hanya mau ambil tahap tahap yang mudah, senang, aman saja dan tidak mau mengalami tahap tahap penderitaan, pengorbanan dan kesusahan. Bahkan juga gangguan dan ketidak yakinan muncul dari kalangan keluarga dan lingkungan dekat. Dari ibu, dari adik kakak yang menyangsikan keyakinan kita dan menganggap apa yg sedang kita kejar selama ini cuma kebodohan yang mengawang awang dan malah menimbulkan masalah. Juga mungkin dari pasangan dan anak anak yang wajar kurang sabar karena kebutuhan tetap harus dipenuhi setiap harinya. Dalam tahap ini ada harus mensiasati situasi. Jangan terlalu frontal tetap maju terus dan membuat keluarga merasa kita tidak peduli masukan mereka padahal mereka sudah membantu kesulitan kita. Tapi juga jangan berhenti, tetap gunakan waktu waktu yang disesuaikan untuk tetap follow up peluang yang Anda yakini tsb secara bertahap sampai berhasil. Jika sedikit saja kita yang sedang mengalami tahap dicoba dan langsung jadi putus asa dan berhenti, maka sayang sekali karena pasti proses terhenti dan tidak ada hasil sama sekali.

 Tidak apa untuk sebentar istirahat, merenung dan tarik napas dahulu, tapi setelah itu harus bergerak lagi. Tidak ada yang tahu siapa tahu selangkah dua langkah lagi tahu tahu Anda sudah sampai di gerbang keberhasilan. Jadi jangan sampai Anda berputus asa lalu memutuskan berhenti, padahal persis dibalik dinding Anda sudah ada cahaya terang. Menyesal tidak akan mengubah hasil dan menyia -nyiakan waktu yang sudah dan sedang kita jalani untuk berproses. 

 

SEMANGAT SUKSES 

(Mirza A.Muthi)