Sabtu, 09 April 2011

PELAJARAN BERHARGA DARI BANGSA JEPANG

Jepang berduka! Gempa 9 SR disertai Tsunami dan masih berlanjut dengan bencana radiasi nuklir ditengah badai salju -4C benar benar meluluh lantakkan sebagian besar Jepang. Kami dari Obing Mitra ikut merasakan betapa bencana yang harus mereka terima dan kepedihan yang mereka rasakan adalah sangat berat dan rasanya masa perjuangan untuk bertahan masih sangat panjang. Kami sangat bersimpati dan mendoakan semoga bangsa Jepang bisa bertahan dari cobaan berat ini. Sekaligus mengingatkan kepada kita bahwa "Kun Fayakun" pasti bisa terjadi. Jika harus terjadi, maka terjadilah. Tidak ada siapapun yang bisa menahan kehendak Tuhan. Dalam hitungan menit saja semua bisa berubah. Dari negara super power menjadi mulai kembali dari titik nol, sungguh cobaan yang sangat berat.

Tapi ada hal menarik yang tidak pernah hilang dari bangsa Jepang. Kedisiplinan, mental baja dan semangat positif yang luar biasa. Coba bayangkan jika bencana seperti ini terjadi di negara lain, mungkin sudah ditimpa bencana malah makin diperparah lagi oleh kerusuhan pasca bencana, penjarahan asset, caci maki kepada pemerintah, atau malah dijadikan ajang politik saling ambil simpati kelompok tertentu di daerah bencana. Di Jepang saat ini seakan semua melebur menjadi satu tubuh , satu jiwa. Satu sakit, semua berusaha mengobati. Pemerintah juga segera menghentikan project project yang kurang prioritas dan merubah seketika target pembangunan skala negara untuk hal hal yang urgent.


Dari segi rakyat juga tetap bisa menjaga kewarasan mereka. Warga yang menerima bantuanpun tertib mengantri, tidak ada penjarahan mengganggu warga lain yang masih aman, tidak ada gangguan pada warga etnis atau dari negara tertentu, tidak ada teriakan gusar kepada pihak tertentu, tidak ada rebutan bantuan di penampungan pengungsi., bahkan diantara para pengungsi masih saja terjadi saling bantu memberi prioritas pada yang lebih perlu. Sungguh masyarakat yang mandiri dan tidak menambah beban kepada pemerintahnya yang sedang mengarahkan prioritas  berjuang mengatasi dampak radiasi nuklir yang mencapai level 5.


Betul betul keunggulan mental bangsa Jepang terlihat luar biasanya pada pasca bencana ini. Sesuatu karakter bangsa yang diamini, dijiwai, dijalankan, dan diamalkan oleh seluruh masyarakat segala lapisan dan komponen bangsa di Jepang. Maka tidak heran dalam keadaan normal pertumbuhan ekonomi, sosial, industri dan seluruh aspek kebanggaan berbangsa bernegara di Jepang bisa tumbuh dengan sangat cepat dibanding negara lain. Karena mereka sudah memiliki mental yang tepat dan diarahkan oleh pemimpin yang tepat. Mataharipun akan selalu terbit di hati setiap orang Jepang walaupun dalam keadaan alam segelap apapun. Bertahanlah Jepang, segera matahari kalian akan bersinar cerah kembali. 



Tantangannya buat kita rakyat dan bangsa Indonesia, tirulah mental Japanese dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kita pasti juga bisa. Yakinlah bahwa nasib suatu negara adalah pemimpin dan rakyat negara itu sendiri yang menentukan. Semoga kita tidak harus ditimpa bencana besar dulu baru melahirkan kebersamaan. Masih ada kesempatan untuk berubah lebih baik.
SEMANGAT SUKSES (Mirza A. Muthi)

Sabtu, 02 April 2011

MAMPUKAH UKM MENJAWAB PERMASALAHAN KRISIS PANGAN?

Ada pertanyaan mengenai “ bagaimana UKM bisa memajukan taraf kehidupan dan ekonomi masyarakat Indonesia” sedangkan saat ini pemerintah saja masih belum bisa mengangkat taraf ekonomi masyarakat banyak di Indonesia, hanya golongan masyarakat tertentu saja yang dirasakan menikmati hasil pembangunan. Sedangkan harga bahan pokok makanan saja terus melambung tanpa bisa dikendalikan. 

Ini permasalah terkait dengan sektor UKM dan sektor pertanian. Seperti yang kita sudah sama sama tahu bahwa awalnya Indonesia dikenal sebagai negara Agraris karena sebagian mata pencaharian penduduk dari pertanian. Tanah Jawa ini terkenal dengan kesuburannya sampai kata Bimbo: tongkat dan batu ditanam jadi tanaman. Demikian suburnya dan didukung sumber air baku “kolam susu” yang bersih dan tersedia melimpah, cuaca yang teratur sehingga jika saja waktu bisa diputar kembali, lebih baik menjadikan 70% luasan P. Jawa sebagai lumbung pangan dengan menanami seluruh kebutuhan pangan kita dan memindahkan infra strukture perkotaan yang ada di kota kota besar di P. Jawa ke pulau pulau Indonesia lainnya seperti Kalimantan atau Sulawesi. Memang kebijakan pemerintah saat ini secara sistematik sudah salah kaprah dan sudah terlanjur. Yang bisa kita lakukan sekarang untuk ketahanan pangan kita yaitu membuat subur Pulau pulau lain agar layak dijadikan area pertanian. Memang biayanya menjadi mahal karena butuh teknologi rekayasa pertanian, pupuk, pengairan dan lain lain. Tapi tetap harus dilakukan karena itu tadi sudah terlanjur. Harus dilakukan jika tidak ingin masyarakat Indonesia di masa depan kekurangan pangan atau tidak mampu membeli bahan pangan lagi karena semua bahan pangan diimpor dan harganya menjadi sangat tinggi. Luasan tanah / area yang harus dijadikan persawahan untuk menanam padi juga bisa dikurangi dengan mengganti sumber bahan makanan pokok. Perubahan pola makan dari biasa makan nasi juga perlu dirubah menjadi makan ubi, singkong yang pasti juga sama kenyangnya atau gizinya dibanding nasi. Tentunya dengan diolah dalam berbagai jenis menu yang menarik.

UKM yang terkait dengan misalnya upaya membuat menu menu panganan pokok berbahan makanan selain beras atau gandum yang 100% impor, perlu digalakan.   Semakin banyak unit unit UKM bisa didirikan maka tentu saja semakin banyak masyarakat yang sudah bisa mandiri memenuhi kebutuhan hidupnya, bahkan bisa memperkerjakan orang lain. Semakin banyak tenaga kerja terserap di sektor UKM, maka semakin sedikit mereka yang bekerja pada pemerintah, seperti pegawai negeri. Skema penghasilan di struktur kepegawaian negeri memang “high cost”. Efektifitas kerja pegawai negeri kadang kurang, karena kelebihan orang.  Tapi pemerintah tetap harus membayar uang pensiun, jamsostek dalam jumlah yang banyak. Jikapun pemerintah ingin melakukan PHK pegawai negeri / pegawai pemda yang dianggap berlebih  maka akan lebih banyak lagi alokasi dana pesangon yang harus disediakan dari APBN/ APBD. Belum lagi isyu isyu miring dan negatif dari masyarakat dan media yang akan diterima pemerintah terkait kebijakan ini dan juga bisa berdampak politik dan ekonomi. Bayangkan jika cost pemerintah pusat atau pemda yang saat ini dialokasikan untuk pegawai negeri atau pemda bisa dikurangi dan bisa disubsidikan ke sektor UKM , pendidikan dan pertanian yang merupan faktor faktor asset motor penggerak kemajuan dan meningkatkan taraf hidup bangsa.

Pendidikan kewirausahaan yang diajarkan sejak dini di tingkat SMU/ kejuruan harus bisa merubah mindset bagi setiap lulusan sekolah atau kuliah bahwa selepas dari pendidikan formal mereka harus jadi pengusaha, bukan melamar jadi karyawan, apalagi jadi pegawai negeri yang membebankan APBN/ APBD. Kata pakar wirausaha, jika 2% saja dari total penduduk Indonesia ini menjadi wira usaha, maka itu sudah bisa menggerakan sektor riil dan memberi banyak lapangan kerja. Apalagi jika kita bisa boost jumlah unit wirausaha sampai 10% jumlah penduduk Indonesia bergerak di sektor riil UKM dan itu mayoritas di sektor pertanian. Maka saya rasa mungkin Indonesia bisa mencapai swasembada pangan lagi bahkan mengekspor produk produk pertanian dan menu menu olahan.

Seperti di artikel saya tahun 2010 lalu, tentu saja Pemerintah berkewajiban untuk mensupport perkembangan unit unit UKM sektor pertanian ini. Diantaranya dengan mendirikan laboratorium untuk menciptakan bibit bibit unggul dan tahan kondisi hama dan cuaca ekstrem sesuai fenomena global warming saat ini. Membuatkan unit unit usaha berbasis pangan sebagai embrio dan diserah terimakan kepada masyarakat untuk di kelola dalam unit unit usaha bersama. Mempersiapkan infrastruktur irigasi dan penyediaan air dan pupuk, Memudahkan perizinan dan kebijakan pembentukan unit UKM secara legal, intensif pajak yang menguntungkan, melancarkan channel channel distribusi, penjualan hasil olahan bahan baku dan jika perlu memasarkannya ke luar negeri sehingga memberikan kemakmuran bagi pelaku UKM

Jika ada banyak contoh nyata para pelaku UKM yang sukses, hidupnya makmur dan berhasil, bisnisnya mudah dan lancar, maka sangat mungkin banyak orang ingin beralih menjadi pelaku aktif UKM. Maka pada momentum seperti itu, jangankan jumlah pelaku UKM sampai 2% , kita genjot sampai 10% total penduduk pun masih mungkin. Pada saat itu, UKM bisa memajukan taraf kehidupan dan ekonomi masyarakat Indonesia dan sekaligus Indonesia terbebas dari krisis pangan yang saat ini makin jelas dihadapan kita dan belahan dunia lain. Pada saat kemakmuran meningkat, maka daya beli meningkat sehingga makanan jenis apapun termasuk yang impor bisa saja kita konsumsi. Tapi baiknya selalu utamakan pangan produk dalam negeri. 
SEMANGAT SUKSES ( Mirza A.Muthi )