Sabtu, 10 Desember 2011

MENTAL MEMULAI BISNIS KEMITRAAN

Seperti dijelaskan di artikel lalu bahwa adakalanya grup pemilik modal harus bersinergi dengan grup pemilik konsep dan memiliki experience dalam mengelola bisnis spesifik. Kedua grup ini bersinergi membentuk suatu badan usaha resmi dengan tugas tanggung jawab sesuai kapasitasnya. Ide konsep yang digagas oleh grup konseptor dan pengelola diwujudkan dalam suatu bentuk usaha dengan biaya investasi dari grup pemilik modal sehingga outputnya adalah bisnis yang prospek dan profitable. Bisa jadi grup pemilik modal ini adalah orang kaya yang dihibahkan dana kepada anaknya untuk berbisnis mandiri tapi ybs tidak berpengalaman membuat dan mengelola bisnis riil, karena itu investor jenis ini membutuhkan partner dari segi konseptor dan pengelolaan. Bisa jadi konseptor ini adalah karyawan skala senior manager yang sudah lama malang melintang di dunia riil bisnis jenis tertentu sehingga sudah kenyang dengan pengalaman jatuh bangun dunia bisnis dan ingin sekali pindah kuadran menjadi entepreneur tapi terkendala modal, karena itu ybs butuh mitra investor untuk mewujudkan mimpinya. Output dari kemitraan Ini yang dinamakan USAHA dari sisi entepreneurship.

Saya selalu jelaskan kepada para calon franchisee dan dalam seminar UKM mengenai mental entepreneur. Resiko gagal dan resiko berhasil dalam memulai bisnis adalah 50%: 50%. Jika tidak berani gagal silakan bisnis investasi emas atau deposito berjangka. Bahkan investasi ruko di kawasan mall atau komplek bisnis saja masih ada kemungkinan rugi. Apalagi jika ini bisnis konsep baru  yang belum ada modelnya di real business., maka resiko kegagalan cukup besar.Keberanian investor menanamkan modalnya sangat tergantung dari keyakinan akan konsep yang dipresentasikan oleh konseptor dan pengelola bahwa bisnis ini akan berhasil.

Jika diambil kemungkinannya ada 2. Gagal dan uang investasi hilang, atau berhasil dan akhirnya menjadi pemilik bisnis baru yang fenomenal dan dicari cari oleh investor lain dan pangsa pasar sehingga menjadi sangat menguntungkan.
Sebaliknya jika tidak diambil kemungkinannya hanya satu, uang aman tapi tinggal menyesal jika suatu hari menemukan bahwa konsep yang sama telah diambil investor lain dan mereka meraih sukses besar di bisnis baru, padahal opportunity itu sempat lewat di depan matanya waktu ditawarkan sebagai investor.

Tapi banyak hal hal mendasar yang membuat para pelaku usaha yakin dan optimis bahwa suatu konsep usaha baru yang akan dibangun bersama nantinya akan sukses bahkan menjadi fenomena, yaitu:
1.      demand bisnis ini di kalangan target pasar indonesia, khususnya keluarga sangat besar.

2.      arah bisnis jenis ini nyata nyata sedang trend di segmen pasar yang luas atau spesifik tapi menguntungkan untuk            jangka panjang.

3.     dilihat dari segala aspek, model bisnis ini mencakup banyak value positif yang bisa didapat oleh pelanggan dari               satu jenis usaha ini, misalnya di satu jenis bisnis ada termasuk unsur hiburan, edukasi,wadah interaktif sosial, juga           lifestyle.

4.      pengelola usaha sudah cukup berpengalaman di industri sejenis dan proven track record.

5.      jika menggunakan icon, maka icon ini apakah dari kalangan artis atau tokoh lain  juga sangat eksis di bidangnya              dan awarenessnya masih kuat di kalangan pasar yang relevan.

6.      kita bisa melakukan survey ke kalangan terbatas mengenai rasa ketertarikan mereka akan konsep bisnis kita. Jika terbukti secara konsep, walaupun belum jadi prototype outletnya, tapi sudah mampu memberikan daya tarik berbagai pihak berkepentingan karena valuenya jelas maka ini memperkuat keyakinan sukses.

Hal hal diatas yang dimaksud sebagai perencanaan yang mengurangi resiko gagal, walaupun kita dari pihak konseptor dan pengelola tidak bisa menggaransi konsep ini wajib berhasil dan anti rugi. Tidak ada bisnis di dunia ini yang anti rugi.

Dalam kemitraan, jangan sampai ada pandangan bahwa pengelola dan konseptor bisnis ada di posisi yang lemah dibanding share holder. Saya berharap para share holder terutama yg note bene masih muda harus paham bahwa inilah rules yg berlaku di bisnis. Selalu ada skenario "the worst" atau "more than expected". Tidak ada kewajiban dari pengelola untuk memberikan goodwill kepada share holder.dalam bentuk garansi.

Jika ingin strict dengan rules bisnis, untuk seorang konseptor memikirkan konsep yang innovatif saja sebetulnya sudah memiliki nilai rupiah. Konsep ini bisa dijual putus tanpa harus diimplementasi dan tidak ada garansi. Jika konsep ini bisa disinergikan dengan modal dan disadari niat sama sama mengusahakan sebaik mungkin agar bisnis terjadi maka disanalah akan terjadi "sinergi sehati". . Tidak ada pertanyaan bagaimana goodwill pengelola jika ini gagal, apakah pengelola akan buyback saham yang sudah disetor? atau sebaliknya bagaimana goodwill yang akan diberikan shareholder kepada pengelola jika hasil yang didapat melebihi diatas target?

Inti dari kemitraan adalah kita sadar masing masing pihak memiliki kelebihan sekaligus kekurangan maka sebaiknya semua pihak  bisa menerima dan tidak menyalahkan selama sama sama diketahui semua upaya sudah diusahakan sesuai kontrak dan semaksimal mungkin. Jika kita punya perencanaan bisnis, penguasaan konsep, kemampuan implementasi, skill dan pengalaman spesifik sekaligus dukungan dana yang kuat maka kita tidak perlu sinergi dengan pihak lain.

Jika semua niat dijalankan dengan motivasi sama sama ingin maju dan sukses berhasil maka pasti masa depan kesuksesan usaha bersama ini akan lebih ringan diraih. 
SEMANGAT SUKSES ( Mirza A. Muthi )