Sabtu, 02 Maret 2019

Usaha Kecil Juga Harus Berilmu



Menjadi pengusaha harusnya bukan hanya ditujukan untuk perusahaan perusahaan yang menengah keatas. Jika tidak sewa dan buka toko di ruko atau di mall, tidak pakai badan usaha seperti PT atau CV, investasi di atas Rp.50 juta, maka sepertinya belum bisa dikatakan "usaha" atau "pengusaha". Tidak juga, karena apapun yang sudah dikeluarkan usaha dan daya pikir didalamnya dan ditujukan untuk mendapatkan keuntungan walaupun besar kecilnya adalah relatif, maka itu sudah bisa disebut usaha. Apalagi jika sudah diinvestasikan uang di awalnya, itu hanya akan menentukan kelas/skala usaha yang kita kenal dari usaha mikro, kecil, menengah, besar, sampai usaha konglomerasi. Tapi besar atau kecil tetap saja namanya usaha dan usaha harus menggunakan ilmu untuk bisa kemungkinan lebih berhasil.

Dalam usaha mikro atau kecil mungkin biasa orang sebut sebagai "berdagang". Berdagang adalah jenis usaha/ bisnis tertua yang sudah ada ratusan tahun lalu. Bahkan Nabi Besar Muhammad SAW juga berprofesi sebagai pedagang. Pedagang yang ilmu utamanya adalah "amanah dan jujur" artinya tidak mengambil keuntungan terlalu banyak , cukup sepantasnya dan tidak mencurangi pembeli. Jika Nabi dititipkan barang untuk minta dijualkan, maka dijual dengan harga yang tidal dimarkup terlalu tinggi dari harga yang dititipkan oleh pemilik barang. Secukupnya saja yang Nabi butuhkan sebagai kelebihan untuk kebutuhan hari itu dan Nabi selalu menjelaskan secara jujur kondisi barang dan dijualnya. Tidak mengada ada, melebih lebihkan agar pembeli jadi membeli yang pada akhirnya jika sudah menemukan kejelekan produknya lalu akan merasa kecewa, tapi sudah terlambat karena sudah terlanjur membeli dan membayar. Jadi terserah pembeli apakah mau jadi membeli atau tidak.  Apakah lalu Nabi sebagai pedagang akan merugi? Nyatanya tidak, justru makin lama dagangannya makin laris dan makin banyak langganan. Karena pembeli merasa tidak pernah dibohongi jika membeli dari Nabi, mereka membayar sesuai dengan kondisi barang apa adanya. Adanya kurang lebih dari barang tsb sudah sama sama diketahui pada saat transaksi dan disepakati harganya sebelum dilakukan transaksi. Begitupun bagi pemilik barang dagangan yang menitipkan barangnya untuk dibantu jual oleh Nabi,  tidak pernah merasa dimanfaatkan karena kelebihan yang didapat Nabi lebih besar daripada pemilik modal. 

Karena karakter pedagang yang jujur dan amanah sebagai ilmu dagang yang digunakan Nabi Besar Muhammad SAW ini, justru menyebabkan banyak orang senang berbisnis dengan Nabi. Rejeki dari jalan usaha Nabi nyatanya tidak pernah berhenti atau surut. Nabi selalu dipercaya dan diajak berbisnis oleh siapa saja. Apakah itu sebagai pembeli atau sebagai pemodal. Karena nyatanya semua orang butuh orang jujur dan amanah terlebih dalam urusan bisnis dan dagang atau jual beli.

Kalaupun Nabi dalam hidupnya sangat sederhana, banyak menderita, itu bukan karena tidak berhasilnya Nabi dalam berdagang melainkan karena sifatnya yang sangat bersahaja dan di masa perjalanan Nabi Muhammad SAW berikutnya setelah beliau menerima wahyu kerasulannya, maka beliau lebih memilih takdirnya sebagai Nabi Besar dan  Rasul Alloh SWT yang betugas mulia mengajak umatnya hijrah dari kebathilan menuju jalan lurus. 
Tapi setidaknya untuk bidang berdagang, Nabi sudah mengajarkan salah satu ilmu dagang yang paling penting bagi kita semua bisa aplikasikan dalam kegiatan usaha dagang kita sehari hari, yaitu Jujur dan Amanah.

Tapi untuk skala usaha kecil bisa kita sederhanakan saja dengan bagaimana dagang ini bisa laku dijual dan bertahan untuk waktu yang lama.  Kebanyakan pelaku usaha kecil seperti pedagang ini adalah rakyat biasa, dari background level pendidikan rendah, cara berpikir yang sederhana dan bahkan cara bicara yang sangat apa adanya tanpa basa basi. Banyak dari pedagang kelontong di rumahan misalnya hanya berpakaian kaos oblong, melayani pembeli tanpa tutur sapa yang layak apalagi ucapan sapa, salam, senyum, tidak pernah mengucapkan terimakasih, maaf dan tolong kepada pembeli ataupun partner dagang misalnya kepada supplier. Semua masih berjalan secara system dagang tradisional. Kebanyakan pedagang tradisional skala kecil, mereka bersikap seakan pembeli yang butuh mereka sampai suatu saat baru sadar jika pelanggannya semua sudah pindah ke toko sebelah yang berbisnis lebih menggunakan ilmu service excellent, artinya bagaimana sepanjang jam operasional usaha, pedagang bisa lebih peduli kepada pelanggannya dan responsif memberikan usaha yang sungguh sungguh dan berkesinambungan kepada tujuan tercapainya kepuasan pelanggannya. Jadikan tujuan membentuk pelanggan sebagai pembeli seumur hidup.

Ilmu usaha lain di jaman modern adalah marketing.  Marketing adalah ilmu cara menjual yang efektif kepada calon pembeli. Didalamnya banyak aspek aspek supporting seperti komunikasi dan menginformasikan produk dengan segala tools yang dibutuhkan kepada calon pembeli, mengantisipasi dan mengatasi persaingan, cara menetapkan harga dari menghitung komponen biaya, mengalokasikan hutang dan piutang, membayar kepada supplier  dan mengalokasikan profit. 
Pedagang bisa mengkomunikasikan produknya secara baik dan benar kepada calon pembeli. Bagi kebanyakan toko semacam kelontongan atau warung makan di kawasan rumah tangga atau pinggir jalan lingkungan, biasanya cuma pasang merk toko di depan pintu toko. Bahkan banyak yang hanya buka toko saja tanpa ada plang merk toko ataupun embel embel alat promo apapun di tokonya. Akan jauh lebih baik rasanya jika plang merk tokopun harusnya didesign secara serius, warna harus menarik sehingga langsung eyecatching dan plang merk diposisikan di spot yang mudah dibaca dari arah jalan. Diplang dituliskan no. telpon, no.WA , jika perlu ada spanduk atau banner di depan ruko atau toko menginformasikan produk apa saja yang dijual. Jangan lupa dibuatkan kartu nama bisnis yang bisa selalu diselipkan di kantong plastik belanjaan untuk menyebar no kontak toko dan akun medsos toko atau resto tsb. Tujuannya agar pembeli memiliki kontak langsung toko tsb jika sewaktu waktu hanya minta untuk dikirimi barang bisa via WA atau telpon langsung. Apalagi sekarang jaman medsos, jangan sampai restorant/konter makanan/minuman anda tidak ada markom dan upaya marketing via medsos. Hal hal lain untuk usaha kecil  yang selama ini menjual produk barang, maka perlu untuk kampanye publikasi produk di luar toko/ruko, misalnya dengan dengan ikut  jualan dan liputan pameran / bazaar di kawasan yang ramai yang secara peluang bisa mengenalkan atau menawarkan produk toko atau fasilitas toko secara lebih jelas kepada target masyarakat umum. Tentu saja sesuai trend saat ini silakan menggunakan kontak nomor WA, fb dan ig untuk membantu perluas informasi dari usaha toko atau resto Anda. Walaupun demikian ingat target efektif akan datang dari pembeli di radius maks 5 km dari toko atau resto. Jika dagang makanan, maka bisa daftarkan produk Anda untuk kerjasama dengan gofood, agar pembeli lebih punya opsi channel order tanpa harus datang ke toko /resto Anda. Kemasan dan box untuk take away juga bisa menjadi marketing tools, maka harus jelas disana tercantum nomor kontak, agar mudah dihubungi kembali. Belum bicara mengenai branding, tapi dalam step yang sederhana adalah agar produk Anda punya identitas pasti dibanding banyak produk sejenis yang beredar di pasaran. Yang terpenting untuk bisnis dagang skala kecil yang penting toko atau produk dagangan Anda harus diberi label/merk agar pelanggan Anda kenal dan ingat produk anda dimanapun berada.

Masih belum lagi masalah operasional, mengelola sumber daya manusia, mengelola pemasukan dan belanja. Pada akhirnya bisnis bukan mengenai besar kecilnya, tapi bisa ditangani dengan baik atau tidak. Jangan bisnis bukannya membuat hidup lebih fun, memberi keuntungan, tapi malah menjadi tambahan beban pikiran dan financial. Maka berbisnislah dengan ilmu, agar didapat hasil yang sesuai dengan yang diharapkan.

SEMANGAT SUKSES
(Mirza A.Muthi)