Minggu, 01 Februari 2015

BAGAIMANA MEMBANGUN KEPERCAYAAN DIRI

Banyak yang bertanya via email bagaimana seorang pada posisi waiter biasa atau pelayan bisa berkomunikasi dengan pelanggan yang dia tahu mereka dari kalangan orang kaya dan orang pintar. Seringkali situasinya kaku dan tidak nyaman, sehingga standard pelayanan seperti komunikasi yang ramah,melayani dan menawarkan sesuai SOP tidak tercipta. Yang ada cuma sekedar menjawan ya dan tidak setelah itu selesai. Dan Anda menyesali diri sendiri karena seharusnya Anda pikir bisa jauh lebih baik dari yang Anda lakukan tadi. Jika Anda punya perasaan itu, sudah bagus. Berarti Anda sadar bahwa sebetulnya Anda mampu, tinggal dicarikan formulanya bagaimana lain kali Anda bisa lebih baik lagi. Bagaimana cara "men-deliver" skill dan sosok Anda secara lebih ideal kehadapan tamu Anda.

Anda harus membentuk citra diri Anda. Bukan hanya orang politik yang butuh pencitraan. Kita semua, termasuk Anda juga harus membangun citra diri Anda dengan positif. Anda ingin dikenal orang sebagai apa, sebagai siapa. Jika Anda sudah bisa mensinergikan sosok karakter positif dan skill mumpuni yang Anda miliki dan orang lain paham kompetensi Anda dibangun dari sosok dan skill tsb, maka disitulah citra diri Anda terbentuk. Tapi sebelumnya, kunci awalnya adalah Anda harus memiliki rasa percaya diri dahulu. Rasa percaya diri ada jika Anda yakin bahwa Anda menguasai bidang kerja Anda dengan baik. Misalnya sebagai waiters, maka betul betul paham SOP melayani tamu mulai dari cara berpakaian Anda, persiapan kondisi badan Anda, jangan bau badan atau bau mulut tentunya, cara menyambut tamu, penguasaan product knowledge yang harus diinfokan ke pelanggan, program promo yang tengah berjalan, penyampaian kalimat kalimat kuncinya, mimik wajah, intonasi suara dan gestur Anda.

Jika Anda kuasai semua poin ini maka Anda sudah punya modal untuk bisa percaya diri. Tapi kadang semua persiapan dan ilmunya sudah. Anda miliki, namun begitu ketemu tamu lalu Anda seperti mati kutu, kaku berdiri dan seperti susah menyampaikan semua yang sudah Anda persiapkan dan Anda pelajari. Supaya mudah penggambarannya kita buat visualisasi dan saya yakin Anda semua mungkin pernah suka sekali pada seorang wanita. Situasi ini mirip seperti waktu Anda berniat "menembak" wanita idaman Anda dulu, sudah mantap persiapan dengan kata kata gombal yang sudah disusun tapi begitu si Dia sudah tepat di depan Anda, maka seketika buyar dan Anda cuma bisa diam terpaku.
Anda tidak memiliki rasa percaya diri pada saat bertemu wanita idaman Anda karena dalam hati Anda tidak yakin,apakah "lamaran cinta" Anda akan diterima atau tidak oleh si Dia. Apakah Anda pantas mendampingi dia atau tidak. Bahkan karena terlalu ingin perfect, walaupun Anda sudah persiapkan maksimal sebelumnya, di detik detik terakhir Anda jadi terlalu fokus pada penampilan Anda, apakah baju saya sudah sesuai, apakah mulut saya tidak bau, dll. Karena fokus Anda berubah, maka begitu si Dia datang seketika Anda menjadi tidak siap dan lupa dengan kalimat indah yang sudah Anda susun. Anda merasa bahwa Anda dibawah posisi si Dia. Anda yang butuh dan si Dia menguasai situasi.
Bahkan Anda berpikir bisa hancur dunia Anda kalau saja Dia sampai menolak Anda. Semuanya itu masih hanya andai andai, tapi itu sudah cukup menghancurkan semua persiapan dan misi Anda.Begitu juga dengan pelayanan di tempat kerja pada posisi Anda sebagai waiter. Jangan posisikan Anda terlalu rendah di depan pelanggan. Memang Anda harus melayani, ramah, sopan kepada pelanggan, tapi bukan berarti merendah. Bahkan Anda harus dalam posisi sejajar dengan pelanggan Anda dalam arti Anda harus memahami kebutuhan pelanggan. Untuk memahami berarti Anda harus bisa mendengar dengan baik dan memberikan jawaban yang tepat maupun dalam bentuk pelayanan dan solusi yang tepat juga.

 Mindset ini dulu yang harus Anda tanam dalam benak pikiran Anda. Jangan merasa kerja menjadi waiter adalah pekerjaan rendah. Justru Anda harus bangga dengan pekerjaan ini karena posisi ini memungkinkan Anda bertemu dan berkomusikasi dengan berbagai macam orang. Jadi banggalah dengan pekerjaan Anda. Paling penting adalah sebut nama pelanggan Anda dengan sopan. "Selamat siang bapak Amir,ibu Risma, kakak Safa, adik Nayla, dsb. Jangan lupa juga untuk perkenalkan nama Anda kepada pelanggan. Anda maupun pelanggan akan lebih merasa dekat jika kenal dengan pelanggan Anda.

Komunikasi adalah interaksi, artinya bicara dan mendengar, 2 arah, bolak balik. Maka Anda harus meyakinkan pelanggan bahwa Anda mendengar apa yang pelanggan sampaikan. Itu bisa dirasakan pelanggan dari cara Anda merespond pelanggan saat bicara. Maka jika sedang berbicara tatap mata tamu Anda dengan pandangan antusias, artinya Anda memperhatikan apa yang mereka coba sampaikan maka Anda berusaha untuk memahami. Bukan tatapan mata yang mengintimidasi atau bahkan menggoda. Intinya dalam hati Anda harus punya niat mendengarkan untuk memahami, maka "sinar mata" Anda nanti pasti akan mengatur secara alami dan respond itu bisa ditangkap positif oleh tamu lawan bicara Anda.
Selanjutnya jika Anda sudah mulai bisa membuat komunikasi Anda dengan tamu mengalir dengan baik, maka Anda harus terus melatihnya. Jangan lupa sertakan kata: terimakasih, maaf dan tolong dalam setiap komunikasi Anda. Mungkin Anda masih sebatas merespond lawan bicara, tapi tidak apa, lakukan terus :  Anda bisa karena biasa. Aturlah intonasi, ritme, mimik wajah sebagai respond yang berirama dari setiap kalimat kalimat yang Anda komunikasikan dua arah. Jika Anda sudah bisa mengatur suasana hati Anda maka Anda bisa mulai secara aktif mengalirkan arah pembicaraan. Berikanlah pujian pada tamu, misalnya "aduuh ibu, anaknya cantik sekali, berapa tahun umurnya?", kepada ibu yang membawa anak perempuannya yang masih kecil atau "wah, bapak masih sehat ya.

Mudahan awet sehat terus ya pak" kepada seorang kakek yang datang. Jika perlu tawarkan bantuan, misal kepada pelanggan yang seperti kerepotan membawa tas belanjaannya, tawarkan membawakan tas belanjaannya sampai pada posisi tempat duduknya. Pujian dan bantuan  sebagai compliment tsb menunjukan empati dan care kita kepada pelanggan dan setiap orang senang dengan pujian dan bantuan. Hal itu bisa membawa komunikasi ke arah yang lebih informal. Dengan suasana informal maka suasana bisa dibangun lebih cair dan akrab. Jika sudah begini maka komplain dari pelanggan pun tidak disampaikan dengan cara yang terlalu keras. Akan jadi keuntungan buat perusahaan Anda.


Cobalah untuk berani memulai. Memang tidak mudah merubah karakter dari pemalu menjadi lebih aktif. Tapi bisa karena terbiasa, dan biasa selalu diawali dengan mencoba yang pertama kali. Tekadkan misal dalam sehari Anda harus mencoba lebih akrab dan intens komunikasi dengan 5 pelanggan Anda. Lalu minggu depan naik 10 pelanggan. Makin lama Anda makin ketemu pola dan cara nyaman Anda untuk berkomunikasi dengan pelanggan secara kondusif. Selanjutnya melayani dengan bicara dengan pelanggan sudah jadi kebiasaan Anda. Untuk jadi sukses, Anda harus bisa menyampaikan citra diri Anda yang positif dan kompetitif. Tapi untuk sampai ke arah sana maka Anda harus percaya diri dulu. Jadi waiter adalah tempat yang sangat bagus untuk melatih rasa percaya diri Anda. Jangan lupa semua ada prosesnya, jadi jangan rendah diri menjadi waiter karena 5 tahun lagi Anda bisa jadi pengusahanya. Amin. SEMANGAT SUKSES (Mirza A.Muthi)