Sabtu, 30 Juni 2018

Perilaku Konsumen Yang Berubah



Dalam dunia marketing merefer pada pembagian generasi secara sosial, ada dideskripsikan target segmen berdasarkan generasi kelahiran periode tahun berapa. Perbedaan generasi ini membedakan karakter dan perilaku yang merupakan bahan analisa penting bagi pelaku marketing untuk mengkomunikasikan dan mendeliver produk ke segmen konsumen target yang dituju. Mari kita bahas satu persatu. 

Misal generasi "Baby Boomers". Ini adalah generasi pasca perang dunia ke 2. Generasi baby boomers ini menjadi generasi awal memulai hidup normal pasca perang. Meletakan pondasi hidup berkeluarga di tahap tahap awal. Panjang periodenya sampai Baby Boomers II. Di generasi ini ditanamkan hormat dan patuh kepada senior/ orang yang berusia lebih tua. Komunikasi sangat formal dan tertata. Jika masih bisa Generasi Baby Boomers II berinteraksi dengan Generasi Z misalnya, maka semua nilai nilai dan sikap yang di tampilkan oleh Gen Z di hadapan mereka pasti akan dipersepsikan diluar batas kesopanan dan adat ketimuran. Untuk pengeluaran di zaman generasi ini mementingkan prioritas tergantung kondisi keuangan tiap tiap keluarga. Terutama untuk kebutuhan sekolah dan gizi anak yang lebih diutamakan, karena saat itu anak adalah investasi utama setiap keluarga. Periode ini adalah kesempatan pertama bisa membesarkan anak dalam situasi yang lebih kondusif. Anak jadi sangat menghormati orang tua dan orang tua cenderung bersikap keras dan protektif terhadap anak yang jadi tanggung jawabnya. Segalanya menyangkut kebutuhan keluarga diperiode ini direncanakan dari jauh hari. 

Generasi selanjutnya adalah "Gen X", adalah anak anak dari Generasi baby boomers. Gen X masih mewarisi karakter yang diajarkan oleh orang tuanya. Berwirausaha masih juga dipersepsikan sebagai hal yang sangat berisiko, lebih aman bekerja sebagai karyawan. Lebih bergengsi jika bisa bekerja pada instansi pemerintahan sebagai pegawai negeri. Pada generasi ini teknologi computer sudah mulai masuk ke rumah rumah keluarga. Tapi komputer baru sebatas alat kerja. Handphone juga sudah dimiliki beberapa kalangan walaupun lebih sebatas alat komunikasi. Pengeluaran keluarga Gen X ini melanjutkan "program kerja" yang diwariskan dari orang tuanya. Menabung asuransi, membeli tanah, mengumpulkan asset adalah cita cita rata rata Gen X. Memiliki barang barang branded dan luxurious adalah pencapaian penting yang belum tentu bisa dicapai banyak orang.

Lalu "Gen Y Milenial", yang lahir antara 1980an sampai 1997. Inilah generasi yang dikatakan sebagai puncak dari dampak kenyamanan hidup. Mayoritas lahir dari situasi keluarga yang sudah lebih mapan, apa apa sudah disediakan. Orang tuanya yang dulu sempat mengalami masa susah "membalaskan dendam" kepada anak anaknya agar tidak usah mengalami hidup susah seperti dirinya dulu. Maka kebanyakan lahirlah generasi yang secara mental untuk pekerjaan cenderung lebih lemah dan rapuh, ingin instant. Generasi yang kata orang tua sebagai susah diatur dan dipahami. Maunya barang branded tapi malas kerja. Narsis tapi mudah tersinggung. Lebih cuek tidak peduli kepada lingkungan sekitar. HP dengan fasilitas internet atau disebut Smartphone bukan barang aneh lagi dan setiap Gen Y sudah punya. Maunya juga harus HP dengan brand dan spesifikasi tertentu. Wirausaha mulai dijadikan opsi utama disamping bekerja menjadi karyawan pada perusahaan perusahaan yang dianggap bonafid dan keren sebagai gengsi strata sosial. Tentu saja tetap ada generasi milenial yang bisa mengambil manfaat positif dari karakter ini, berhasil dengan karyanya yang biasanya sangat kreatif. Dari generasi ini lahir Gojek, marketplace, dsb. Walaupun termasuk generasi hedon, tapi bagi beberapa Gen Y yang  pemikirannya sangat progresif dan maju berhasil mendapatkan keuntungan yang sangat besar. Cara marketing juga sudah langsung on hand ke smartphone masing masing, melalui youtube, ig maupun facebook dan tweeter.

Masuk ke "Gen Z atau Gen Internet" lahir di periode 1995-2014. Diharapkan di Gen Z ini grafik mengambil manfaat dari kemajuan peradaban akan lebih maksimal. Sepenuhnya sudah teknologi minded. Banyak aplikasi networking social yang digunakan yang tidak pernah diakrabi oleh generasi sebelumnya. Komunikasi dan informasi sudah sangat terbuka walaupun ironisnya  justru secara sosial makin sedikit kawan yang kenal secara langsung karena makin individual. Bahkan baby umur 6 bulan sudah dikenalkan dengan ipad sebagai alat bantu mainnya. Misal usia tertua dari generasi Z ini yang 21 tahun sangat multi tasking. Terbiasa kerja dengan tablet sambil belanja online sekaligus main game diwaktu bersamaan dengan bantuan teknologi internet. Generasi ini lebih individual, lebih berpandangan global/open minded, lebih senang berwirausaha, lebih tidak formal dalam penampilan maupun cara bicara. Berpikirnya lebih progresif dengan latar belakang memanfaatkan teknologi dan internet sebagai platform cara berpikirnya. Jika bisa mendapatkan Rp.10 juta dalam sehari kenapa harus menunggu Rp.10 juta sebagai gaji sebulan? Para youtubers atau vlogers, seni kreatif dan semacamnya. Perilaku membeli mulai berubah. Travelling mencari pengalaman lebih dipilih dibanding membeli barang branded. Menjual mobil kepada generasi Z ini lebih susah dibanding menjual paket wisata atau paket adventure. Apartment yang ada di pusat kota lebih disukai dibanding tinggal di rumah besar luas yang tidak praktis.

Produk jualan dari masa ke masa tetap sama. Mobil, motor, rumah, resto/cafe, hotel, jasa travelling, barang barang fashion, lifestyle, dsb dari masa ke masa tetap diproduksi dan harus dijual. Para salesman dan marketer tetap dikenai target untuk bisa menjual produk/jasa tsb walaupun perilaku konsumen berubah. Maka setiap marketer harus bekerja keras menyesuaikan perilaku setiap segmen target sesuai golongan sosial generasinya. Bagaimana caranya agar tetap menarik perhatian target market , tertarik sesuai kebutuhannya dan merespond dengan membeli. Jika perlu produk utama harus diattach dengan hal lain yang jadi ketertarikannya. Misal menjual mobil dengan terlebih dahulu menawarkan safari travelling kepada grup komunitas Gen Z tertentu dengan kendaraan merk tsb ke destinasi wisata yang asyik. Itu hanya salah satunya saja.


SEMANGAT SUKSES 
(Mirza A.Muthi)

Jumat, 01 Juni 2018

MEDIA SOSIAL PROMO



Saat ini untuk berbisnis jauh lebih mudah dalam mempromosikan dan meng'aware' produk Anda dalam lingkup yang lebih luas dan lebih cepat. Jika di tahun 90an sampai 2015 generasi diatas kita yang memiliki atau mengelola bisnis, harus lebih banyak menggunakan channel marketing konvensional seperti memasang spanduk dan banner di banyak lokasi umum, menyebar brochure secara rutin. Yang lebih berbudget bisa pasang iklan di media massa. Lumayan jika bisa beriklan di majalah lokal  wilayah atau komunitas. Jika punya budget lebih, bolehlah dilakukan sedikit promo via adlips di mall2, radio lokal atau pemutaran jingle di radio atau bahkan 1 periode iklan media televisi yang biayanya bisa ratusan juta. Sesekali bikin event/ikut pameran. Memang berat bagi bisnis skala UKM untuk mempromosikan usahanya. Mungkin itu juga yang jadi banyak pertimbangan kenapa berwirausaha atau entepreneur di masa itu masih susah  bergerak dan bertambah banyak.

Tapi zaman now ini di era Gen Millenial, dimulai dari Gen Y, Gen Z atau generasi milenial, sudah tidak ada alasan lagi untuk tidak mencoba berwirausaha. Di zaman digital ini, sudah banyak sekali channel media sosial yang bisa dipakai dan dioptimalkan secara murah tapi efektif. Facebook dan Instagram merupakan channel yang banyak dipilih pengguna umum. Jika ada budget buatlah website usaha sendiri, agar Anda tidak usah tergantung dari operator dan bisa mengelola konten ataupun merencanakan promo marketing bisnis jangka panjang. Pengguna HP/ smartphone saat ini bisa mencapai 2 x dari jumlah penduduk produktif Indonesia. Ini seperti memberi brochure langsung ke tangan target konsumen tapi dalam bentuk yang lebih praktis on hand yang disukai konsumen. Bahkan Anda bisa meminta partisipasi dari penerima pesan produk Anda, misal meminta like, repost dan bawa notifikasinya ke outlet Anda untuk mendapatkan compliment produk. Seperti  saat sedang di outlet, bisa diminta memfoto produk dan mempublishnya via facebook atau instagram mereka dengan kompensasi diberi gimmick atau souvenir dan lain lain. Dengan kata lain Anda bisa meminta peran pelanggan Anda sendiri untuk membantu memasarkan produk Anda di kalangan jaringan medsos pelanggan Anda. Gen Z juga lebih menyukai produk atau brand dengan latar belakang cerita/story yang mengiringinya. Seakan cerita tsb relevan dengan pengalaman yang ingin didapatnya dan ada rasa ingin terlibat dalam kisah brand/produk Anda.

Pertama Anda tetap harus membuat promo konvensional, misal menyebar brochure yang didalamnya termuat alamat kontak facebook, instagram, nomor WA dan mungkin twitter Anda. Sedikit saja dan tidak perlu dalam jangka waktu yang panjang  sesekali penyebaran brochure ini diulang di wilayah sebat yang berbeda. Disebar secara lokal saja dengan tujuan untuk membangun base member yang akan jadi follower atau friends dari channel medsos Anda. Biasanya secara berangkai follower dan friends Anda akan terus bertambah karena itu sudah fitrah mekanistik di jaringan online. Selanjutnya setelah Anda memiliki follower atau friends, Anda bisa mulai push dan posting materi materi promo. Yang harus Anda perhatikan untuk marketing via medsos ini adalah konten yang tidak plain, spam atau membosankan. Tidak melulu harus Anda publish atau post foto foto produk atau program promo Anda. Atau repost lagi materi yang sama dalam waktu yang terlalu dekat. Akan terlalu membosankan jika itu Anda lakukan terus menerus. Untuk menghindari itu, Anda juga bisa menitipkan produk Anda di beberapa marketplace utama yang sering digunakan konsumen dalam searching produk dan jual beli online. Jadi Anda tidak perlu sering sering mengganggu follower atau friend Anda. Biar calon konsumen yang mencari produk Anda. Yang penting spek info produk Anda secara spek dan foto cukup lengkap informatif dan harga menarik. Jadi bisa tampil outstanding dibanding produk produk sejenis yang beriklan juga di marketplace. Jangan lupa, di marketplace, testimoni akan sangat terbuka dan itu akan sangat menjadi referensi bagi calon pembeli berikutnya. Maka Anda sangat perlu untuk menjaga kepuasan pelanggan.

Sharinglah sesuatu yang lebih bermanfaat sebagai variasi, sehingga penerima pesan tidak terganggu/enggan membuka pesan Anda. Kombinasikan pesan sesekali dalam bentuk foto, video yang melibatkan pelanggan saat sedang di toko/outlet Anda, video cara mempersiapkan produk Anda, design picture yang memuat quote, nasihat, pandangan hidup, testimoni pelanggan, liputan pada saat melakukan gathering dengan pelanggan, dll. Elemen sosmed yang mencakup audio dan video sangat memungkinkan Anda untuk "melibatkan" emosional pelanggan yang membuka promo medsos Anda. Dari puluhan konten promo dari berbagai produk yang masuk ke smartphone pelanggan, maka pelanggan akan mulai menseleksi konten promo mana yang akan mereka buka dan amati, bahkan mungkin bisa terlibat di dalamnya. Gunakan tagar/hashtag  ( # ) yang kira kira trend menjadi kata kunci yang paling sering terpikirkan oleh pencari informasi via medsos, agar cepat mengarahkan pencarian pasa materi promo Anda. Lalu gunakan pelanggan tidak hanya sebagai penerima informasi saja, tapi ajak juga agar menjadi influencer atau support sebagai bagian aktif dari kampanye Anda yang dibuat secara cerdas.

Maka walaupun saat ini setiap usaha bisa melakukan promo via medsos secara lebih murah, tapi jangan malah membuat ini jadi bumerang bagi promo Anda karena materi yang Anda posting melulu bersifat iklan saja, hanya menawarkan tanpa Anda bisa "memberi manfaat lebih" bagi penerima info medsos Anda. Bisa bisa karena bosan dan merasa terganggu, maka pertemanan atau follower Anda bisa didelete. Cerdas dan empati dalam menggunakan channnel medsos dalam mempromosikan produk dan brand Anda, akan membawa banyak penghematan dan percepatan dalam Anda membangun wira usaha.
#marketingsosialmedia
#promoviamedsos
#medsos
#konsultasibisnis
#UKM


SEMANGAT SUKSES 
(Mirza A.Muthi)

Selasa, 01 Mei 2018

Pentingnya Attitude di Bisnis OnLine



Banyak pengusaha muda, mungkin mulai sejak masih kuliah dan cukup berhasil. Dibanding kawan seumurannya, dia tergolong sukses dan berhasil. Di zaman internet ini, banyak kemudahan usaha bisa didapatkan daripada berusaha sebelum era internet. Terutama di bidang pemasaran jadi jauh lebih mudah, efesien dan efektif. Makin banyak orang orang di usia sangat muda sudah mulai berbisnis dari menjual produknya atau bahkan membantu menjualkan produk atau jasa orang lain. Berhasil di usia sangat muda seperti 2 mata uang yang bisa dominan terlihat hanya 1 sisi saat sisi mata uang mana yang diatas. Harusnya dilihat dari sisi manapun, harus kebaikan dan nilai potensi Anda yang terlihat.

Seperti kita tahu, usia matang bisa jadi menumbuhkan kedewasaan dan kearifan. Kaya akan asam garam jatuh bangun usaha riil  dan pengalaman hidup yang disikapi dengan positif dan prasangka baik terhadap nasib, bisa membuat sikap seseorang atau pengusaha  lebih bijaksana dan lebih rendah hati. Walaupun tidak pada semua orang,  kebijaksanaan mengikuti banyaknya usia. 

Berhasil di usia muda sangatlah bagus. Jika sukses bisa dimulai dari usia dini, maka buat apa harus menunggu sampai tua baru memulai bisnis. Tapi kesuksesan di usia dini juga bisa membawa sifat sombong dan takabur bagi pebisnis muda tsb. Apalagi diantara kawan usia sebayanya mungkin tidak banyak yang bisa sesukses dia. Seringkali akhirnya berpikir " saya sangat hebat ", " tidak banyak anak muda bisa seperti saya ", dll. Keluarga membanggakannya, teman teman menyebutnya dia boss. Maka dia memiliki ego ke"aku"an yang sangat tinggi, jadi cepat kehilangan rasa respect terhadap orang lain yang tidak sejalan dengan dia, merasa sudah lebih pintar. Parahnya bahkan sombong  terhadap kliennya sendiri, yang mendatangkan omzet buat dia. 

Sekarang ini di jaman bisnis online, dimana semua orang, semua bisnis, semua penjual dan pembeli bisa saling terkoneksi dan berkomunikasi bisnis. Kita tidak usah saling bertemu secara fisik untuk bisa berbisnis. Dengan tidak bertemu langsung, maka bisa saja penjual on line tidak  melihat langsung siapa kliennya, apakah usianya sudah jauh lebih tua dari dirinya, apakah kliennya mungkin saja punya prospek masa depan yang sangat baik jika bisa berbisnis jangka panjang. Yang difokuskan adalah bagaimana " rasa dan mood " dia pada saat berkomunikasi via Chat WA atau email dengan klien. Mungkin ada bahasa atau gaya bicara tulisan dari klien yang tidak pas dengan ego pebisnis muda sehingga dianggap kliennya ini tidak menghormatinya seperti kawan kawan sebayanya menyanjung nyanjungnya. Komplain sedikit atau koreksi sedikit dari komunikasi tulisan dari klien, sudah langsung dianggap menyerang dan jadi baper. Padahal di Indonesia ini banyak suku bangsa yang memang gaya komunikasinya blak blakan, spontan, tapi sebenarnya hatinya baik dan sama sekali tidak ada maksud untuk mengkonfrontasi lawan bicaranya. Apalagi jelas jelas kebanyakan hukum alam untuk bisnis seperti "pembeli adalah raja" masih berlaku. Maka pembeli merasa punya hak untuk berkomunikasi dengan kelas diatas penjual. Tapi seringkali kenyataannya pada pebisnis muda di bisnis internet ini jauh beda dari hukum alam bisnis konvensional. 

Misal untuk memanggil kliennya dengan menulis "bapak atau ibu" pun di chat atau di email seperti berat sekali, seakan kata panggilan tsb akan merendahkan posisinya di depan kliennya. Padahal kliennya tsb usianya jauh lebih tua dan mungkin jauh lebih berpengalaman di bisnis.  Itulah kelemahan pelayanan konsumen via online, kita tidak bisa mempertimbangkan klien berdasarkan penilaian penglihatan, karena fisik klien tidak hadir jelas di depan kita. Sedangkan di Indonesia, masalah tata krama kesopanan masih menjadi bagian dari attitude. Yang muda lebih menghormati yang lebih tua. Terlebih yang lebih muda dari pihak penjual jasa atau produk yang memang menawarkan bisnis. Dan disamping hasil pekerjaan atau jasa yang memang bagus, masalah "like and dislike" masalah attitude masih jadi pertimbangan utama. 

Bisa saja klien menilai memang pekerjaannya bagus, tapi pemilik usahanya PT. X yang beralamat di Y, orangnya sangat angkuh dan tidak sopan. Informasi ini cepat menyebar kemana mana via dunia maya. Akhirnya rejeki tidak akan panjang dan berhenti di umur bisnis yang tidak lama. Jadi apa untungnya Anda jadi pengusaha muda yang tidak rendah hati pada saat komunikasi dengan klien dan menjunjung etika kesopanan, menghormati dan lebih melihat prospek masa depan bisnis dibanding ego. 

Etika dan attitude Anda akan dinilai dari bagaimana cara Anda berkomunikasi dan di komunikasi via chat WA atau email adalah bagaimana respond Anda kalimat per kalimat pada komunikasi tulisan. Jika Anda sebagai pebisnis muda bisa menampilkan "wajah" sebagai pebisnis yang ramah, terbuka tehadap pertanyaan, masukan bahkan kritik. Respondnya sopan tapi juga cerdas dan sangat paham seluk beluk detil bisnis yang Anda tawarkan, dan harus dipastikan dengan produk atau layanan jasa Anda yang memang berstandard kualitas baik dan memuaskan klien, pasti pintu peluang terbuka lebar buat Anda. Keleluasaan bisnis via dunia maya bukan jadi ancaman bagi Anda, bahkan jadi gerbang lebar bagi Anda untuk bertemu dengan lebih banyak lagi klien klien baru. Maka biarpun klien tidak mengenal wajah Anda, bahkan mungkin klien tidak pernah bertemu langsung dengan Anda, bahkan untuk berkomunikasi lisan via telpon saja tidak pernah, karena selama ini komunikasi hanya melulu via Chat WA dan email, tapi Anda tetap bisa menjaga kelangsungan bisnis Anda dengan setiap klien karena Anda menghargai mereka, dan mereka juga menghargai Anda. Bahkan klien yang puasa secara lahir bathin, produknya puas dan juga punya penghargaan secara karakter personal Anda, maka tidak segan bagi klien mereferensikan pebisnis muda ke jaringannya yang lebih luas.  Komunikasi bisnis via tulisan dilakukan dengan Anda terasa  nyaman bagi kedua belah pihak. Bahkan makin salute dan kagum karena klien tahu Anda pebisnis sukses di usia muda belia. Siapa tahu dia jodoh Anda di bisnis untuk jadi mitra investor sehingga bisnis Anda bisa lebih cepat melesat lagi dan panjang umur.


SEMANGAT SUKSES

(Mirza A.Muthi)

Minggu, 01 April 2018

Sebarkan Informasi Kebaikan



Bumi bertabur pelajaran bagi kita yang "membaca". Ada ibu yang sudah 14 tahun mendidik, membesarkan anaknya yang kebetulan menderita autis. Tapi saat ini bahkan anak tsb sudah bs membuat panganan kue kering yang dibisniskan dan bisa bermain drum. Ada mu'alaf dari warga keturunan justru membuka warung dhuafa berharga Rp.3.000 per porsi, bahkan bisa gratis jika betul betul pelanggannya tidak ada uang. Ada ibu yang bisa menggerakan ibu ibu sekitar untuk menggalang UKM yang menghasilkan kemandirian bagi lingkungannya dengan memanfaatkan limbah. Banyak juga anak anak muda cerdas dengan ide ide bisnis yang brilian yang mampu menggerakan dunia usaha dengan cara dan sudut pandang bisnis yang baru yang mudah mudahan bisa lebih berdampak positif kepada skala masyarakat yang lebih luas.

Dibalik maraknya berita berita mengenai korupsi, pelaku penipuan, pelaku kejahatan kriminal, tapi jika kita jeli dan peka, juga banyak "agen kebaikan" yang Tuhan tunjukan di dunia ini untuk melakukan hal hal positif yang memberikan contoh seharusnya bagaimana kita berlaku terhadap sesama di dunia ini. Jika kita fokus pada hal hal baik yang bisa kita saksikan dari televisi, dengar dari radio, baca dari sosmed, dari cerita yang viral, maka akan banyak sekali kekaguman akan timbul dari hati kita bahwa sebetulnya banyak cara dan jalan untuk bisa menjadi orang baik dan berguna. Bahkan yang buat kita teharu kadang contoh kebaikan tsb datang dari mereka yang secara nalar jauh dibawah kita, lebih susah ekonominya, lebih muda dari kita, lebih tua dari kita, tapi justru berbuat lebih baik dan lebih bermanfaat dari kita. Seakan akan menyentak hati terdalam kita dan "menampar" kesadaran kita, membuat kita malu hati sendiri. Kenapa kita tidak bisa seperti mereka?

Jika saja semua media televisi, radio ataupun media online yang ada di Indonesia ini terus menyebar informasi mengenai contoh contoh nyata apa yang diperbuat orang orang baik dan berguna di dunia, jauuuh lebih sering dan lebih banyak porsi beritanya daripada berita berita hedonisme, gosip gosip tidak berguna, berita korupsi dan berita kriminal lain, insha Alloh akan dapat segera menyebarkan virus kebaikan kemana mana. Makin intens pikiran dan panca indra kita menyerap berita tentang contoh nyata kebaikan terus menerus, maka makin peka dan halus perasaan kita, sebagaimana batu yang bisa terkikis terus menerus ditetesi air.

Bahkan kita kita ini yang semua punya gadget hendaknya senantiasa memviralkan informasi mengenai kebaikan ini agar segera menyebar dan didengar diketahui kawan kawan kita yang lain. Bukan berita hoax yang belum jelas kebenaran sumbernya dan itupun isinya sama sekali tidak bermanfaat juga. Kalaupun bukan kita yang berbuat kebaikan, paling tidak menyebarkan kebaikan adalah tanggung jawab kita semua. Berlomba lomba dalam berbuat hal baik dan bermanfaat, bukan berlomba lomba dalam hal hal yang negatif dan tidak berguna. 

Jadi kita harus aware bahwa dunia ini sebetulnya masih banyak dihuni oleh orang orang baik, yang mengabdi kepada hati nurani yang bersih dan fitrah, menjadi manfaat bagi sesama, rahmatan lil alamin. Hanya saja kenyataannya yang sehari hari kita dengar dari banyak sumber justru hal hal negatif, hedonisme, korupsi, terutama dari media televisi, radio dan online dalam rangka rating dan sponsor. 

Saat ini sikap hati yang berkembang di banyak dari kita adalah kita jadi susah kalau ada orang yang senang dan jadi senang kalau ada orang yang susah. Padahal kita harus susah jika ada saudara kita yang susah dan bersyukur jika ada orang yang senang, bahkan harus berlomba lomba mengikuti cara dan langkah mereka yang bisa menyenangkan dan membantu saudaranya yang susah. Marilah bagi mereka yang punya kekuatan untuk menyebar informasi massa mulai fokus pada hal hal yang bisa menggerakan "virus kebaikan". Masing masing kita, jikapun tidak atau belum bisa menjadi pelaku langsung kebaikan tsb tapi bisa menjadi agen penerus informasi kebaikan kepada sekitar kita. Agar bangsa Indonesia hatinya lebih peka, lebih halus, terenyuh dengan kesusahan orang lain, lebih gemar dan ringan tangan untuk membantu yang lain. Bersama menyebarkan informasi kebaikan dan aktif berbuat baik bermanfaat bagi sebanyak mungkin manusia. 

SEMANGAT SUKSES
(Mirza A.Muthi)