Sabtu, 19 Mei 2012

FENOMENA KPop DARI SUDUT PANDANG MARKETING

Saya menerima pertanyaan menarik dari salah satu rekan menyikapi fenomena Koren Pop Stars atau KPop yang bisa merubah fashion lifestyle dari mulai gaya berpakaian, makeup, style rambut,warna kulit, trend musik kearah grup style ala boyband dan girlband korea, gaya tarian personil grup, naiknya pamor etnis tertentu ke puncak keartisan di Indonesia, yang tentu saja ini gejala yang mengembirakan, bahkan trending topic terutama kalangan para ABG. Apa yang bisa kita ambil manfaat dari fenomena ini untuk marketing?

Tentu saja awalnya dimulai dari performance artis artis korea yang bening, mulus, sexy dengan kaki panjangnyanya, juga untuk boybandnya yang berwajah tidak kalah rupawan dengan wanitanya. Saat ini gambaran wanita idaman bagi para ABG pria adalah wanita type KPop stars korea dan sebaliknya cowok idaman adalah yang manis seperti actor atau KPop pria korea. Sudah ganteng dan cantik, sexy, jago actiing, bisa menyanyi ( walaupun skill nyanyi standard ) , menari lincah dan tentu s
aja kaya, terkenal dipuja banyak fans. Ini adalah contoh visualisasi  "makhluk Tuhan paling sempurna" versi mereka.

HIPNOTIS  adalah hasil akhir dari experience marketing paling sempurna untuk "things awareness". Dalam alam bawah sadarnya, karena terus memikirkan korean things akhirnya secara porsi memory pikiran membawa dirinya kepada kondisi terhipnotis.. Dalam kasus KPop ini seakan akan para ABG ini ter"hipnotis" oleh dewa dewi KPop. Dengan hipnotis ini perhatian para ABG ini ter"alihkan" hampir 100% untuk KPop. Mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi dan selalu terulang dalam keseharian dalam jangka waktu yang cukup lama terus memikirkan KPop stars secara detil dan tergambar jelas visulisasi di pikirannya.. Keinginan untuk bisa mengikuti apa saja yang dipakai, gaya rambut, warna kulit, gaya rias, lifestyle bahkan sampai cara bicara, supaya sampai bisa betul betul mirip sang idola korea. Betul betul hidup mereka ada di Zona Korea Mania. Mulai nonton sinetron, lihat konser KPop sampai menjerit jerit histeris bahkan sampai pingsan karena  berebutan bisa menyentuh atau berfoto dengan sang bintang, atau bahkan tidak apalah cukup dengan duplikatnya korean pop star versi Indonesian star look alike KPop yang sekarang banyak bermunculan, kadang membuat kita yang ada diluar zona korea mania ini bingung .

Fenomena KPop ini bagi para pengusaha  adalah kesempatan untuk membuat bisnis berbasis massa target pasar yang ada di Zona Korea Mania ini yang tentu saja tidak sedikit jumlahnya dan datang dari segmen yang paling konsumtif. Dengan membuat produk atau jasa yang berbau korea saja mereka rela untuk membeli dan melengkapinya sebagai koleksi. .Bagaimana punya kulit semulus dan sebening KPop stars, rambut dan tata rias ala KPop stars, rok mini mengembang ala korean style, accesories ala korean, sampai kursus bahasa korea dan boomingnya makanan korea. 
Memangnya kenapa karaoke keluarga sangat booming saat ini? Karena si Mamat bisa memvisualisasikan dirinya seperti Pasha Ungu. Memvisualisasikan dirinya seperti idolanya dengan mendapatkan pengalaman bernyanyi yang berkesan dengan sound system prima, lampu lampu dekorasi yang kelap kelip mengitari dirinya, teks yang dipampang di layar TV sehingga persis tahu teks lagu kata per kata, juga room yang private sehingga walaupun ada sofa duduk tapi si Mamat lebih senang berdiri agar lebih bebas bergaya berekspresi karena toh tidak ada yang mentertawakannya. Visualisasi yang melibatkan "rasa dan gerak" akan semakin kuat menghipnotis seseorang sehingga menimbulkan efek kecanduan. Besoknya diulang dan diulang lagi datang ke karaoke..

Sama halnya dengan KPop stars yang mengajak "rasa dan gerak" para korea mania dan mengalihkan sebagian besar memorynya untuk menjadikan mereka Dewa Dewi mereka, pusat perhatian mereka, dan mengikuti apa saja yang di"sabda"kan KPop Stars. Saat ini semua ABG ingin menjadi KPop Stars lengkap dengan semua atributnya. Luar Biasa! Korea Mania adalah salah satu korban Hypno selling dari KPop stars.

Jadi yang bisa diambil dari fenomena ini adalah jika ingin merebut hati konsumen produk anda, maka berikanlah marketing experience yang melibatkan rasa dan gerak pelanggan. Semakin besar rasa dan gerak pelanggan terlibat sehingga bisa menyita sebagian besar memory pikiran pelanggan, maka saat itu pelanggan akan terikat dengan produk kita.

SEMANGAT SUKSES (Mirza A. Muthi)