Minggu, 18 Juli 2010

CARI TAHU DENGAN JARIMU......!!!!!


Media cetakan seperti brosur, flyers, katalog atau poster yang sudah pernah kita bahas sebelumnya kalau sudah habis dibagi-bagikan kepada konsumen, maka kita harus cetak ulang lagi beberapa kali sesuai kebutuhan Kita. Kalau kita melakukan promosi sepanjang tahun, maka dapat dipastikan bahwa kita akan mencetak brosur tersebut cukup banyak sekali. Kalau dihitung biaya cetak setahunnya bisa lumayan besar.

Ada cara yang lebih efektif dan Anda tidak perlu lagi repot untuk mencetak berulang-ulang sepanjang tahun, yaitu dengan membeli ruang iklan di buku panduan telepon (Yellow pages, Industri Niaga, dll). Selain itu Anda juga tidak perlu membayar Disainer untuk merancang iklan yang akan dimuat. Karena Salesman/Agen yang menawarkan ruang iklan di tempat tersebut biasanya bisa membantu mendisainkan iklan Anda. Sekali saja Anda memutuskan untuk berpromosi di buku panduan telepon, maka iklan Anda akan dicetak sebanyak jumlah buku yang diterbitkan pada tahun yang bersangkutan. Dan secara otomatis produk Anda sudah diiklankan setahun penuh bahkan lebih, karena buku tersebut kadangkala masih digunakan meskipun sudah berganti tahun.

Coba kita lihat diri kita sendiri masing-masing. Selama ini saat Kita mencari informasi sebuah produk/jasa yang dibutuhkan sedangkan Kita tidak punya banyak waktu untuk mencari brosur atau mengunjungi pameran, maka yang akan dilakukan adalah segera membuka halaman kuning. "Cari tahu dengan Jarimu......!!!!"  begitu bunyi iklannya. Ya, Yellow Pages!!! Namun kelemahan dari buku panduan telepon adalah dia tidak bisa meng-expose secara detail keunggulan produk kita. Selain itu cetakannya biasanya hanya hitam putih atau dua warna saja. Nah sekarang coba anda hitung ulang lagi budget promosi Anda. Selamat bekerja.
(purwanto89.blogspot.com)

Senin, 12 Juli 2010

BAGAIMANA MERUBAH HALUAN BISNIS DENGAN AMAN ?

Dalam sebuah perbincangan dengan pengusaha angkot ( angkutan kota seukuran carry ) yang mengeluh bahwa sewa sekarang sepi. Maksudnya penumpang makin sepi, karena jumlah motor makin lama makin banyak. Orang merasa lebih hemat membayar cicilan motor dan akhirnya punya motor daripada "membuang" uang untuk membayar ongkos angkot. Tapi saya jadi paham kenapa supir angkot kadang "menjengkelkan" di jalanan. Karena memang harus survive selain bersaing antar sesama angkot ternyata jumlah penumpang makin bulan ke bulan dirasakan pengusaha angkot juga makin sedikit.


Memang kebutuhan pasar bisa berubah karena beberapa hal perubahan seperti:

  • Teknologi: misalnya film negative sekarang sudah tidak layak jual karena semua  camera sudah menggunakan memory internal atau memory card , juga LCD TV saat ini lebih banyak dicari daripada TV tabung yang besar dan berat.
  • Trend: misalnya orang sekarang lebih senang cari hiburan ke karaoke keluarga untuk makan dan nyanyi bersama dibandingkan hanya ke restorant umumnya. Trend ini jika bersifat massal juga seringkali terkait dengan lifestyle
  • Politik: sejak Bpk Abdurachman Wahid mengizinkan etnis China untuk eksis di Indonesia, maka hiburan hiburan thematic China seperti barongsai dan seni kungfu bisa menjadi bisnis yang banyak dicari orang untuk mengisi acara besar yang dihadiri umum
  • Masuknya produk pengganti : Kasus ini bisa dijadikan contoh, karena ada motor yang lebih cepat dan tidak perlu berganti ganti kendaraan di setiap persimpangan maka angkutan kota yang penuh sesak dan lambat tidak lagi jadi pilihan
  • Kebijakan: misalnya kebijakan approval kredit motor yang makin mudah, ringan dan cepat. Dp yang kecil cukup Rp. 300 ribu dengan syarat slip gaji ,KTP dan KK sudah bisa bawa pulang motor

Kalau hal itu terjadi seperti dalam bisnis angkot diatas, maka tentu saja harus diwaspadai oleh pengusaha: SAMPAI BERAPA LAMA LAGI BISA BERTAHAN ? 

Jelas kebijakan financial yang memudahkan ini tidak akan berubah arah menjadi lebih mahal mencicil, lebih mahal Dp, karena itu akan menyebabkan perusahaan pembiayaan kehilangan nasabahnya. Bahkan mungkin makin lama bisa makin mudah, makin cepat dan makin ringan, karena pasar juga menginginkan hal tersebut. Kecuali ada kebijakan otoritas pemerintah ( dept keuangan ) yang mulai membatasi aliran dana ke nasabah dengan alasan kehati hatian penyaluran kredit konsumsi sehingga pengajuan cicilan motor ke perusahaan pembiayaan tidak lagi mudah.


Maka tentunya perubahan harus dilakukan oleh pelaku usaha angkot agar tidak tergilas turunnya kebutuhan. Jangan sampai kemampuan dana , modal tersedia atau nilai asset ( kendaraan ) sudah sangat menurun dan saat itu pengusaha angkot belum juga  merubah arah bisnisnya. Kalau antisipasi yang dilakukan terlambat, maka kelangsungan usaha dan potensi income untuk penghidupan juga akan terancam. 


Untuk masalah yang dihadapi pengusaha angkot ini ada beberapa hal yang bisa dilakukan:

  • Gunakan sebagian asset tersedia untuk diversifikasi usaha. Misalnya punya 2 mobil angkot, yang satu dijual dan uangnya untuk dijadikan modal usaha lain.
  • Gunakan sebagian mobil angkot untuk beralih fungsi. Misalnya dipotong bodynya dijadikan bak terbuka untuk disewakan ( tentunya setelah pengurusan surat surat kendaraan yang disesuaikan ), atau dijadikan mobil toko, atau diperbaiki, diperbagus agar layak menjadi mobil antar jemput anak sekolah.
  • Jual seluruh asset untuk merubah total bisnis baru. Tapi untuk mengambil keputusan usaha total baru yang sesuai dengan kemampuan, pengalaman dan modal memang tidak mudah. Apalagi umumnya pengusaha angkot skala kecil ini kurang siap dari segi skill atau pengetahuan dan  pengalaman untuk jenis usaha lain. Maka disarankan untuk merubah bisnis secara bertahap dan dicoba dulu apakah bisnis baru ini nantinya akan punya prospek
  • Gunakan hasil penjualan sebagian atau seluruh asset kendaraan untuk membeli satu/ beberapa bisnis franchise yang sesuai. Bisnis franchise dikenal layak untuk jadi pilihan karena pelaku tidak perlu harus jadi  ahli di bidang bisnis baru tsb tapi bisnis tetap bisa berjalan karena kekuatan merknya dan standarisasi operasional, service dan bantuan konsultasi masalah dan pemasaran yang diarahkan oleh franchisor
Pilih usaha riil yang memang kiranya masih sanggup dikelola sendiri. Jangan di bisnis yang sangat perlu konsep bisnis yang memusingkan kecuali ada orang yang berkompeten untuk membantu menjalankan. Apakah itu bisnis makanan/minuman, penjualan air mineral & gas atau pulsa elektrik, atau industri rumah tangga sederhana. Bahkan mungkin dengan uang dari penjualan angkot bisa dipakai untuk membeli mesin pencacah botol plastic untuk dijual potongannya ke pabrik pengolahan limbah plastic. Saran saya, jangan terlalu muluk muluk untuk mengejar keuntungan di bisnis yang belum dikuasai. Kalau menyimak bisnis angkot yang makin turun jumlah penumpangnya sehingga terpaksa harus diambil pilihan usaha lain maka tentunya dapat omzet 200rb-300rb per hari saja sudah bagus dan mungkin seimbang dengan pendapatan bisnis angkot di masa jayanya dulu. Ini waktunya belajar bisnis lagi. Kalau sudah mulai menguasai bidang bisnis baru tsb, baru bisa difokuskan untuk dikembangkan agar bisa betul betul diandalkan dan bisa menggantikan bisnis angkot yang kerap mulai merugi.

Demikian masukan dari saya, mudah mudahan dapat berguna.


SEMANGAT SUKSES ( Mirza A. Muthi)


Minggu, 11 Juli 2010

BAGAIMANA CARA MEMBUAT USAHA YANG AKAN DI-FRANCHISE KAN?

Pada intinya kita semua harus tahu apa inti dari mem-franchise-kan usaha. Franchisor, demikian  sebutan dari pemilik merk dagang dan pemilik konsep usaha franchise lalu menawarkan konsep bisnis di bawah merk dagang milik franchisor kepada calon investor. Lalu kita juga mengenal istilah Franchisee, penerima hak waralaba . pengguna merk dagang yang bisa beroperasi di wilayah operasional tertentu yang sudah disepakati bersama dengan Franchisor. Franchisee berkewajiban mengikuti ketentuan standard operasional prosedur yang menjadi platform bisnis Franchisor. Semua kesepakatan perjanjian bisnis atau kemitraan ini dituangkan dalam PERJANJIAN FRANCHISE yang ditandatangani oleh pihak Franchisee dan Franchisor. Biasanya dengan dilengkapi dengan sejumlah nilai franchise fee atau management fee setiap bulan sebagai kompensasi franchisee menggunakan brand , SOP dan menerima bimbingan bisnis dari Franchisor.

Ketentuan SOP ini bersifat copy paste. Dijalankan di outlet yang lebih awal dibuka, berhasil menghasilkan omzet dan strategi itu dilaksanakan juga di outlet baru. Jika seorang Franchisee tidak mengikuti dengan sungguh detil per detil strategi yang diwajibkan oleh Franchisor dan akhirnya usaha Franchisee gagal, maka Franchisor tidak akan bisa disalahkan karena pada faktanya Franchisee juga tidak mengikuti ketentuan operasional standard dari Franchisor. Tentunya di setiap daerah operasional outlet ada perbedaan karakter pasar, perbedaan profile kastemer dan perbedaan daya beli yang menyebabkan Franchisor perlu menyesuaikan sebagian strategi dan ketentuan lain selama itu masih sesuai dengan koridor image brand yang sudah kita tetapkan. Jangan karena kita mengejar omzet untuk masyarakat segmen ekonomi bawah yang kebetulan dominan di wilayah sekitar outlet, sehingga akhirnya image eksklusif yang sudah menjadi ciri sebuah sebuah brand franchise dikorbankan, misalnya dengan menjual produk/ jasa di level harga murah, mengorbankan kualitas interior, mengorbankan mutu service dan menu, sehingga pada akhirnya akan merusak image brand tersebut secara keseluruhan.

Maka bagi Pemilik brand yang ingin menjadi Franchisor, harus memenuhi ketentuan sebagai berikut:
-Sudah memiliki outlet / usaha sendiri yang sudah terbukti fakta aktual bisa berjalan baik dan menguntungkan selama minimal 2 ( dua ) tahun
-Memiliki konsep usaha yang jelas dan prospek jangka panjang, bukan sekedar ikut ikutan trend ( dianalisa masih ada kebutuhan untuk sampai minimal 10 tahun ke depan) 
- Memiliki alur uang yang jelas dan terukur. Investasi, uang masuk, income utama, income tambahan. Pola uang keluar yang jelas, pengeluaran tetap, pengeluaran tidak tetap, yang harus dituangkan dalam FINANCIAL MODEL.
-Memiliki konsep pengelolaan sumber daya manusia yang jelas. Spesifikasi kebutuhan skill, pengetahuan, pengalaman para karyawan dan tenaga ahli yang dibutuhkan di setiap outlet, memiliki materi training yang jelas dan berkesinambungan, memiliki trainer yang  komunikatif dan efektif, juga problem solving dari masalah masalah ketenaga kerjaan yang mungkin terjadi
-Memiliki konsep promo dan marketing baik bersifat nasional maupun lokal yang nanti bisa diajarkan dan dijalankan di outlet dan bisa diawasi efektifitasnya di outlet
-Franchisor di kantor Pusatnya harus memiliki tenaga ahli yang cakap, kompeten, bisa berkomunikasi dengan baik, dan bisa menjalankan fungsi dengan baik sesuai jobdesc department masing masing sebagai sebuah teamwork.
-Franchisor juga harus menjaga kemampuan daya saing agar dapat terus memperpanjang PLC ( Product Life Cycle ) usaha. Terus menciptakan innovasi baru yang diterima pasar dengan antusias untuk diterapkan di setiap outet, meningkatkan level of service, level of operasional, level of performance dan membuat standarisasi management organisasi yang produktif dan efektif.

Fokus bagi pihak Franchisor adalah membangun “kesaktian” Brand-nya agar semakin lama awarenessnya makin tinggi dan tetap dipersepsi bagus oleh kastemer sesuai image brand yang memang ingin dibangun. Jika Brand sebuah merk Franchise sudah di-asosiasikan dengan “wow, inilah bisnis yang menguntungkan yang sudah dibuktikan banyak orang!!” , maka tidak susah lagi bagi Franchisor untuk mencari calon franchisee yang berminat berinvestasi.

Sedangkan Fokus bagi Franchisee cukup agar outlet bisa berbisnis dengan baik, lancar tanpa gangguan berarti, omzet semakin optimal dan semakin menjadi pilihan masyarakat terutama radius 10 km seitar outlet dan masyarakat di wilayah operasional pada umumnya.

Menjaga ekuitas Brand adalah keharusan bagi bisnis Franchise. Karena jika satu outlet tercemar, maka seluruh jaringan brand tersebut juga terancam stabilitasnya. Jangan segan segan bagi Franchisor untuk mencabut merk dagang dari franchisee yang bandel, melanggar prosedur standard dan bergerak di luar aturan main yang ditetapkan franchisor. Apalagi jika itu menyangkut pelanggaran etika norma kesusilaan dan etika nilai kemasyarakatan.  
Demikian mengenai apa kira kira yang dibutuhkan jika Anda ingin menjadi  Franchisor.
SEMANGAT SUKSES ( Mirza A.Muthi )


Sabtu, 03 Juli 2010

DUKUNGAN PEMERINTAH DAERAH SEBAGAI EMBRIO PEMBENTUKAN UMKM UNGGUL

Saat ini UMKM ( usaha skala mikro kecil menengah ) seperti dagang dianggap bisnis tradisional yang dianggap bisa berjalan tanpa harus didukung oleh profesionalisme aspek aspek pengetahuan dan wawasan yang luas, bisa diturunkan secara turun menurun dan sangat sederhana. Seyogyanya potensi para pengusaha dan pedagang mikro belum digali sampai batas kemampuan maksimal dan bahkan mungkin potensi ini belum disadari oleh para pelakunya sendiri.
Tidak cukup hanya pinjaman modal yang disupport karena jika penggunaannya kurang taktis dan efektif, maka modal hanya akan berfungsi sebagai persiapan usaha tapi usahanya tidak bisa menghasilkan. Bisnis besar ataupun kecil tetap harus dikelola secara profesional agar menghasilkan produk atau jasa yang diminati dan kompetitif.

China dengan jumlah penduduk yang sangat besar tapi setiap Usaha Kecilnya disupport secara dana dan keilmuan manajemen oleh pemerintah maka menghasilkan raksaksa bisnis yang progresif dan merupakan ancaman “mengerikan” bagi negara lain. Biaya sumber daya manusia yang murah sehingga bisa menghasilkan harga jual yang sangat kompetitif. Juga produknya sangat innovatif, ragamnya banyak dan modelnya menarik sehingga dikombinasikan dengan harga murah menghasilkan daya saing yang tinggi. Bahkan jiplak , tiru dan bikin baru lagi dengan innovasi adalah hal yang legal di China dan dilindungi negara.
Bahkan negara berpotensi market besar seperti Indonesia, produk alam negerinya mengalami kesulitan bersaing dengan produk produksi bangsa China yang dijual di negara Indonesia. Masyarakat kita lebih suka membeli produk China dengan alasan yang reasonable: lebih modern produknya,lebih banyak pilihan ragamnya dan lebih murah harganya. Sungguh Ironis.
Jika hanya ada skala puluhan UMKM dalam skala negara sebesar Indonesia mungkin tidak berdampak signifikan bagi perekonomian nasional. Tapi jika UMKM bisa digerakkan seperti industri, terus dicetak sampai berskala ribuan bahkan jutaan Unit UMKM profesional tersebar di seluruh Indonesia, maka kekuatannya sebagai penggerak ekonomi bangsa akan sangat jelas sekali dan akan memberi efek domino yang positif terhadap meningkatnya kesejahteraan bangsa.
Tips ini ditujukan untuk pelaku UMKM di seluruh Indonesia , tapi juga bisa menjadi informasi bagi Pemerintah Daerah agar memiliki pola kerja pembinaan UMKM yang efektif dan terarah. Agar kita tidak takut lagi dengan yang namanya AFTA ataupun Free Trading yang lebih global lagi di masa depan.

MULAI DARI SETIAP PEMERINTAHAN DAERAH

Adalah juga menjadi tanggung jawab Pemda Propinsi untuk memajukan kesejahteraan seluruh penduduknya  tanpa terkecuali. Kesejahteraan penduduk secara umum bisa dicapai dengan meningkatkan kemampuan produksi sumber sumber penghasil pendapatan di semua aspek status mata pencaharian penduduk. Termasuk di dalamnya adalah daya produksi dan daya saing penduduk yang berprofesi sebagai pengusaha kecil / mikro. Bagi Pemda Propinsi, peningkatan pendapatan yang signifikan pada (misalnya) jumlah populasi pedagang Mikro akan sangat membawa peningkatan yang berarti bagi pendapatan per kapita propinsi. Belum jenis usaha lain selain perdagangan.
Oleh sebab itu Program Pelatihan ini diajukan untuk dapat dipertimbangkan. Tujuannya adalah memberi wawasan dan keilmuan non formal kepada pedagang mikro se-propinsi agar dapat menjadi nilai tambah bagi setiap pribadi peserta sebagai kekuatan agar dapat lebih berdaya saing dan berkemampuan tinggi dalam menjalankan usaha dagangnya. Dengan pelatihan ini diharapkan akan meningkatkan kesuksesan sebagai pengusaha kecil dan tentunya meningkatkan kesejahteraan keluarga pengusaha peserta pelatihan. Dengan semakin tingginya pengetahuan dan kemampuan para pelaku pedagang kecil juga akan meningkatkan kepercayaan institusi pemberi kredit usaha mikro baik dari Perbankan, BPR maupun Yayasan yayasan pendanaan usaha kecil lainnya untuk tidak segan segan menyalurkan kreditnya pada pelaku pelaku usaha dagang skala mikro.

PEMBENTUKAN TEAM KERJA PELAKSANA & LABORATORIUM SEBAGAI INKUBATOR PENGEMBANGAN EMBRIO BISNIS UMKM DI DAERAH

Sebetulnya masalah UMKM ini bukan sama sekali mulai dari awal. Di setiap daerah pasti sudah cukup banyak unit UMKM yang sudah eksis dan berjalan. Hanya saja seperti diulas di awal, sifat bisnisnya sangat konvensional dan belum menimbulkan efek menularkan rangsangan semangat wirausaha ke orang lain.

Laboratorium UMKMK yang tugasnya adalah menciptakan “ bentuk usaha mikro kecil menengah “ baru yang disesuaikan dengan potensi daerah setempat atau meningkatkan potensi profit dari usaha yang sudah eksis di daerah tersebut tapi belum terorganisir secara profesional. Laboatorium bertugas sebagai Inkubator adalah sebagai tempat untuk membesarkan embrio unit UMKM menjadi bibit UMKM yang potensial. Untuk menuju potensial ini maka prosesnya harus akurat sejak awal. Sejak penentuan bidang usaha, bagaimana organisasinya, bagaimana marketingnya, bagaimana alat produksinya, darimana input bahan baku dan channel penjualannya, siapa pembelinya berapa harga jualnya. Lalu embrio ini yang ditawarkan pada pelaku UMKM untuk dijalankan lengkap dengan Manual Book Standard Operasional Prosedurnya. Pelaku UMKM tidak mencari cari model usaha lagi.

Mereka yang dipilih kerja di Laboraturium ini adalah kalangan akademisi sebagai pelaksana dan kalangan muda praktikal dunia usaha sebagai konsultan pembimbingnya sehingga program dapat dipercepat kerjanya dengan hasil yang optimal, tentunya didukung oleh kemudahan birokrasi akses ke segala lapisan sumber daya yang dibutuhkan dari pejabat Pemda setempat. Team Kerja Pemberdayaan UMKM ini harus dibuat beberapa kelompok, diberi wilayah operasional tertentu yang tidak tumpang tindih satu team dengan team lainnya. Masing masing diberi target kerja dan reward jika target tercapai.

Maka tugas Team Kerja Pemberdayaan UMKM ini adalah
  • Memperbaiki kinerja dan profesionalisme unit UMKM yang sudah eksis
  • Menganalisa top 10 potensi jenis bisnis UMKM terbaik yang khas di wilayah daerah tersebut
  • Membuat model model UMKM yang siap ditawarkan kepada calon pelaksana UMKM
  • Mengadakan pelatihan calon calon pelaksana UMKM bekerjasama dengan pihak pendana / Bank Daerah
  • Melakukan promosi berkesinambungan semangat wirausaha melalui media massa lokal dan penyuluhan ke lapangan
  • Bekerja sama dengan sekolah sekolah kejuruan aplikasi kerja di wilayah setempat untuk membuat  dan merintis pembukaan unit unit UMKM baru bagi calon wirausaha
  • Memulai bimbingan dan pengawasan intensif 100 hari pembukaan unit UMKM baru untuk kemudian diserah terimakan kepada pelaku usaha
Bukan hanya terbatas pada niaga makanan, pakaian, tapi juga budaya yang bisa dikomersialkan, lokasi wisata yang pantas dijual, kerajinan khas yang unik dan menarik, jika perlu mengolah bahan pokok buah khas daerah menjadi panganan ringan yang baru jenisnya. Pelaku usaha dari embrio yang dihasilkan di laboraturium ini harus ditargetkan pada pelaku dengan skill menengah ke bawah, pria dan wanita juga bisa melakukannya. Jangan yang terlalu membutuhkan konsep dan pemikiran serius karena tidak cocok untuk UMKMK. Ada budget dari kas daerah untuk Laboratorium UMKMK ini dan memang ditarget untuk dalam 6 bulan harus bisa menghasilkan beberapa ide usaha baru skala Mikro Kecil Menengah yang sudah dianalisa dan siap dibuatkan embrionya sebelum ditawarkan kepada pelaku usaha. Jika usaha ini bisa memperkerjakan banyak orang, maka ditawarkan oleh Pemda kepada investor lokal sebagai bapak asuh permodalan agar pelaksanaan usaha bisa lebih cepat terealisasi, dengan kewajiban menggunakan tenaga kerja lokal setempat. 

SEMANGAT SUKSES ( Mirza A.Muthi ).