Minggu, 20 Juni 2010

JENIS-JENIS DAN SIFAT PROMOSI

Kegiatan Promosi itu didunia marketing terbagi dalam dua hal kalau dilihat dari Media yang digunakan, yaitu :
1.      Above the Line (ATL) iklan TV, Radio, Koran, BIllboard atau
2.      Below The Line (BTL) pameran, event, dsb.

Tapi Kalau dilihat goal atau target dari promosi itu, secara singkat bisa dikelompokan menjadi 4 hal:

1. Product awareness (Kesadaran) : artinya disini iklan yg dibuat hanya sebatas membuka otak kognitif kita akan ada suatu produk baru. Sehingga otak kita dirangsang utk menerka-nerka produk apa sekiranya yang akan keluar. Biasanya produk ini hanya berupa "At a Glance" atau sekilas tidak ada nama produk tapi hanya coorporate brand name (spt BMW, Sampoerna, Nokia,dsb), tidak ada description tentang produk tadi, dan hanya sebuah informasi kulit, seperti "Nantikan tanggal ...., Lihat jam..., atau ada apa di hari..., dsb" Karena itu intensitasnya pun hanya sesaat dan tidak mengambil slot panjang dalam tayangan iklan tv. Iklan seperti ini sering juga disebut  “Teaser”.

2. Product promotion (promosi) : biasanya pada kondisi ini bentuknya adalah mempromosikan jenis produk baru yang ditawarkan ke konsumen. Contohnya adalah iklan-iklan Koran, radio atau TV yang menyebutkan langsung jenis atau nama produk yang dijual, merek dan kelebihannya. Iklan ini merupakan iklan umum yang paling sering dilihat sehari-hari.

3. Recall/Reminding  (Pengingat) : promosi disini di targetkan terhadap produk yang sudah keluar di pasaran dalam kurun beberapa waktu yg lalu. Jadi awareness konsumen disadarkan kembali (diingatkan kembali) terhadap produk yang kita jual.  Jenis ini bisa menggunakan pola media yg sudah kita pake pada point 2. Jadi penekanannya hanya mengingatkan atas produk kita di pasaran. Iklan jenis ini banyak digunakan oleh merek yang sudah besar seperti Coca-cola, Mc. Donald, Sprite, Bodrex, dll.

4. Penetrate (memperdalam) : promosi ini yang biasanya digunakan para produsen untuk merubah pola konsumsi konsumennya. Maksudnya begini, sebagai contoh iklan pasta gigi. Merek apa saja, tapi Pepsodent contoh gampang. Menurut dokter gigi penggunaan pasta gigi itu sebenarnya cukup hanya seujung sikat gigi-nya saja (sekitar 1 Cm). Namun pesan yg diberikan oleh Pepsodent adalah memberikan contoh dengan mengoleskan pasta giginya sepenuh sikat giginya. Secara tidak langsung otak kognitif kita disadarkan bahwa setiap membersihkan gigi berarti harus menggunakan pasta giginya sepenuh sikat giginya, artinya produsen merangsang konsumen untuk menggunakan sebanyak-banyaknya. Walaupun dari manfaat yg dilihat tidak ada bedanya pakai sedikit atau banyak. Hal seperti ini juga dipakai oleh produsen Shampoo Rambut yang menganjurkan pemakaian setiap hari. Pesan yang Mereka pakai adalah “Aman digunakan setiap hari….”. Jadi fungsinya adalah agar konsumen lebih banyak dan sering menggunakan produk tersebut. ( http://purwanto89.blogspot.com/ )


Minggu, 13 Juni 2010

KATALOG PRODUK, FLYER & POSTER

Pada artikel bulan Mei 2010 Saya telah membahas sarana promosi yang paling umum yaitu Brosur. Di tulisan kali ini akan saya lanjutkan pembahasan mengenai sarana promosi lainnya yang tak kalah popular yaitu KATALOG PRODUK, FLYER/SELEBARAN & POTER.

1. KATALOG.

Bila produk yang ingin Anda promosikan jumlahnya banyak dan ingin sekaligus di-expose bersama-sama, maka disarankan untuk membuat Katalog. Karena produk yang dipromosikan dalam katalog ini jumlahnya banyak, maka biasanya cetakannya disatukan dalam bentuk buku atau majalah sederhana. Katalog ini biasanya dipakai oleh Supermarket seperti, produsen pakaian jadi, alat-alat kosmetika, produsen elektronika dan sebagainya. Katalog akan memudahkan konsumen untuk bisa memilih sendiri produk mana yang sesuai dengan keinginannya.

2. FLYER/SELEBARAN.

Selebaran/flyer Adalah bentuk sederhana dari brosur. Yang membedakannya dengan brosur adalah isi atau tema yang ada dalam disainnya. Brosur biasanya hanya menonjolkan kelebihan utama sebuah produk. Sedangkan selebaran/flyer biasanya berisi tentang program khusus yang sifatnya sementara (temporary). Jadi bila Anda sedang melakukan program cuci gudang, program berhadiah atau memberikan diskon khusus, maka buatlah flyer.  Selebaran/flyer biasanya menggunakan kertas cetakan yang lebih murah karena memang sifatnya yang harus segera disebarkan kepada banyak orang dalam waktu tertentu dan hanya selama program berlangsung.
                                                                                                                  
3. POSTER.

Secara fisik poster biasanya lebih besar ukurannya dibandingkan dengan brosur, katalog atau flyer. Poster mempunyai fungsi hampir seperti ketiga jenis media cetakan di atas. Dia bisa berfungsi seperti brosur, yaitu menampilkan keunggulan utama dari sebuah produk. Tapi tampilan pada poster biasanya lebih sederhana. Kalimat-kalimat panjang yang biasanya digunakan pada brosur untuk menjelaskan keunggulan produk biasanya tidak ada pada poster. Poster biasanya akan banyak menggunakan visual/ilustrasi gambar untuk menonjolkan produk bersangkutan.

Poster juga bisa berfungsi seperti layaknya katalog. Jumlah halaman yang berlembar-lembar pada katalog bisa disatukan menjadi satu halaman besar berbentuk poster yang meng-expose seluruh produk.

Poster juga bisa berfungsi untuk mempublikasikan suatu program penjualan khusus seperti layaknya flyer. Hanya saja kalau flyer bisa langsung dibagikan kepada khalayak umum satu-persatu, sedangkan poster biasanya ditempel pada dinding yang bisa dilihat oleh orang banyak.
(http://purwanto89.blogspot.com)

Minggu, 06 Juni 2010

KESALAHAN PELAKU USAHA

Seringkali pelaku usaha kecil menengah yang berhasil maju hanya sekejap menkmati sukses karena sekian waktu kemudian usahanya justru gagal. Jika sudah gagal banyak kemudian yang disalahkan, apakah karyawan yang katanya tidak kompeten, atau persaingan yang mulai ketat, atau produk yang sudah tidak laku lagi dijual. Coba kita lihat bersama apa saja yang mungkin terjadi dalam fenomena “bubble” , cepat menggelembung lalu pecah secara drastic.

5 KESALAHAN UTAMA PELAKU USAHA KECIL MENENGAH

UMKM ( Usaha Mikro Kecil Menengah ) adalah salah satu jalan mengatasi pengangguran akibat kurangnya lapangan kerja. Berwiraswasta mandiri bahkan merekrut karyawan karyawan walaupun dalam jumlah yang kecil tapi jika dalam radius 10 km2 ada 100 unit usaha skala kecil di berbagai bidang maka paling tidak dapat menyerap 1000 orang pekerja. Bayangkan berapa pekerja yang bisa ditampung di unit unit usaha kecil menengah untuk wilayah operasional DKI Jakarta.
Hanya saja UMKM sering dikelola secara tradisional, kurang professional, hanya berumur pendek dan tidak jarang tidak berkembang. Berikut diuraikan 5 kesalahan mendasar pengelolaan UMKM pada umumnya

1. Promosi dan marketing tidak penting
Beberapa dari pengusaha skala menengah yang sudah cukup berhasil dalam omzetnya menganggap bahwa marketing atau program promo tidak perlu karena outletnya sudah cukup dikenal, mereka cukup puas dengan omzet outletnya saat ini. Lainnya lagi bahkan berkeras bahwa marketing adalah pemborosan uang, menghambur hamburkan uang untuk sesuatu yang tidak penting dan tidak bermanfaat untuk bisnis, hanya mengurangi margin katanya. Apalagi saat mereka berpikir pengunjung sudah datang sendiri ke outlet tanpa kita harus promosi pasang iklan atau bikin program diskon misalnya.
Mereka baru pusing memikirkan marketing pada saat orang tidak lagi datang ke restonya, orang tidak lagi belanja di tokonya atau tidak lagi sekedar melihat lihat produknya. Namun pada saat itu biaya marketing dan promo rasanya sangat berat. Apalagi pada saat kondisi omzet sedang defisit. Masa jaya telah lewat berganti masa susah karena tidak pintar ‘menabung’ promo dan ‘memelihara’ pelanggan di masa jaya

Pada dasarnya setiap yang lahir pasti akan mati. Dalam bisnis, setiap produk dan merk yang lahir diciptakan, diterima pasar, disukai market dan tumbuh berkembang juga punya umur dan pasti sewaktu waktu akan mati, hilang ditelan zaman. Tidak lagi dibutuhkan orang, tidak lagi diingat orang karena telah digantikan oleh produk dan merk lain yang lebih disukai pelanggan. Hanya saja panjang umurnya ini sangat tergantung kepada pengelola usaha atau merk yang mengelola usahanya. Ada merek yang dari jaman nenek kita dulu pakai sampai sekarang kita punya anak saat ini juga masih pakai merek yang sama, seperti Lux, Pepsodent, Kijang. Tapi lebih banyak lagi merek yang rasanya baru kemarin kita dengar, tapi kalau kita sekarang cari di toko toko sudah hilang ditarik dari peredaran. “Product Life Cycle” pada setiap product ini berbeda beda.  Perhatikanlah, perusahaan besar saja yang dibidani oleh banyak karyawan professional kadang kadang tidak mampu menjaga merknya dapat bertahan dikenal untuk jangka waktu panjang, apalagi pengusaha kecil menengah yang hanya punya satu atau beberapa outlet lebih bisa dimaklumi. Tapi biarpun usaha kecil ataupun besar bukankah kita membuat usaha untuk langgeng dan menguntungkan? 
Bagaimana cara menjaga produk dan merek produk/ usaha kita agar panjang umur?
Selain service, salah satunya adalah dengan mempromosikan secara berkala baik brand maupun spesifikasi produk. Iklan media, billboard, brosur , voucher, program discount, kalender promo, baju brand, souvenir, sponsorship suatu event, dll adalah variasi cara agar produk dan brand kita dikenal secara luas dan jangka panjang. Dalam hal penerimaan panca indera, rumusnya sangat sederhana: buat sebanyak mungkin orang sering mendengar, sering melihat, sering membicarakan mengenai hal produk dan brand kita.  Tentunya mengenai hal yang baik baik dan bukan hal sebaliknya.
Untuk perusahaan besar apalagi berskala nasional , strategi promosi dan marketing komunikasi diupayakan dengan maksimal oleh department sendiri walaupun belum menjamin hasilnya. Tapi itu tetap harus dilakukan mengingat produk lain sejenis dari perusahaan kompetitor juga melakukan hal yang sama untuk bersaing merebut perhatian pelanggan. Yang harus diperhatikan untuk usaha kecil menengah adalah bagaimana dana yang terbatas bisa digunakan untuk promo yang efektif dan berpotensi didengar, dilihat, dibicarakan orang sebanyak banyaknya paling tidak di radius 2 km wilayah operasional  usaha dan untuk jangka waktu yang selama lamanya dengan membawa pesan pesan positif dan menarik tentang produk maupun merk kita.

2. Manajemen pribadi ‘one man show’
Setiap usaha kecil menengah paling tidak memiliki 5 – 40 orang karyawan yang bertugas menggerakan usaha sehingga berjalan sebagai sebuah operasional bisnis yang berkesinambungan. Keseluruhan karyawan tersebut memiliki posisi, tugas dan tanggung jawab sesuai kebutuhan. Tentu saja upahnya juga disesuaikan dengan tanggung jawabnya masing masing. Walaupun kadang dalam bisnis usaha kecil menengah tidak ada hirarki organisasi yang resmi tertulis dan disosialisasikan seperti antara divisi, antar department dan antar kepala seksi seperti pada perusahaan skala besar, tapi secara garis kerja dan koordinasi tetap harus jelas dan dipahami setiap karyawan yang ada. Tujuannya agar mereka merasa bekerja sesuai porsinya, dibayar sesuai tanggung jawabnya, tidak disalahkan hal yang bukan kewajibannya, ditegur dan diberi sanksi oleh pimpinan yang semestinya dan dihargai sesuai hasil kerjanya. Dengan perasaan bekerja positif seperti itu maka suasana kerja akan kondusif dan sangat berpengaruh terhadap output produk atau service yang akan diterima pelanggan. 

Kebanyakan usaha kecil menengah menerapkan ‘one man show’ dari pemiliknya atau orang yang dipercaya pemiliknya. Jika orang tersebut bersifat bijaksana, tegas, mempunyai dasar dasar kepemimpinan yang positif, cukup berpengalaman di bisnis dan berani mengambil tanggung jawab dan resiko sebagai bagian dari bisnis maka usaha bisa saja usaha berjalan dengan baik. Masalahnya jika usaha dikelola pribadi oleh karakter yang defensif, egois, merendahkan, menyalahkan, menyudutkan, sok pintar, tidak bisa menerima masukan, sok bossy, maka akan hancurlah usaha tersebut. Cirinya adalah tingkat pergantian karyawan di perusahaan cukup tinggi. Karyawan hanya betah bekerja 1 bulan – 3 bulan lalu mengundurkan diri, atau memang akhirnya terpancing untuk konfrontasi dengan pimpinan karena sering merasa tertekan dan stress. Kinerja perusahaan juga tidak berprogress, hanya jalan di tempat bahkan dari bulan ke bulan karyawan merasakan visi misinya semakin tidak jelas. Bisa dibayangkan dengan situasi seperti itu apa mungkin bisa menjalankan usaha dengan efesien dan terencana?


3. Usaha dipimpin oleh orang yang tidak tepat
Serahkan pada ahlinya! Banyak usaha skala kecil menengah yang di’wariskan’. Pewarisnya kadang bahkan sebenarnya tidak berminat terhadap jenis usaha yang dulunya dikelola orang tuanya, tidak memiliki latar belakang bidang bisnis yang sama atau memang tidak punya keinginan untuk belajar menambah pengetahuan di bidang usaha tersebut. Jika seseorang tidak memiliki ilmu atau pengalaman di bidang bisnis tertentu dan diminta untuk menjalankannya, maka satu satunya jalan adalah dia harus menunjuk / membayar seseorang yang mampu dan cocok untuk membantunya mengelola usaha dan disosialisasikan ke seluruh karyawan. Jika tidak dilakukan maka lagi lagi perusahaan menuju kearah kehancuran pelan pelan. Kadang rasa frustasi dan tidak percaya diri dari pemilik usaha yang diwariskan dari pendahulunya membuat dia jadi seperti sibuk dan repot untuk urusan hal hal yang sebenarnya tidak perlu dan tidak efektif. Sebagai pemimpin perusahaan dia dituntut harus mampu membangun perusahaan seperti pendahulunya, padahal dalam hati kecilnya dia tidak merasa yakin. Membuat aturan aturan yang tidak kondusif, membuat jadwal meeting berkepanjangan yang tidak efektif, mengambil keputusan keputusan yang bahkan merugikan perusahaan untuk jangka panjang, melewatkan peluang yang belum tentu bisa didapatkan kembali di lain waktu, membuat program marketing yang boros tetapi tidak tepat sasaran dan lain lain.

4. Pengelolaan keuangan perusahaan bercampur dengan keuangan pribadi
Uang adalah bahan bakar untuk menggerakan operasional perusahaan. Jika bahan bakar bercampur dengan bahan lain yang tidak senyawa maka bisa dibayangkan mesin pasti bermasalah dalam kinerjanya.  Bahayanya jika pemilik perusahaan merasa seluruh omzet yang didapat dari usaha adalah miliknya, dan perusahaan diberikan ‘jatah’ uang bulanan sesuai keperluan. Bukan pemilik mengambil ‘jatah’ nya dari kas perusahaan. Komposisinya kalau sudah begini jadi tidak ideal. Uang yang diambil masuk kantong pribadi lebih besar daripada dana yang dialokasikan untuk perusahaan. Padahal perusahaan adalah ‘mesin pembuat uang’, sedangkan pribadi pemilik adalah ‘pemakai uang’ . Uang yang dialokasikan untuk pemilik cenderung habis karena digunakan untuk hal hal yang tidak produktif oleh dirinya atau keluarganya bahkan oleh pihak lain yang tidak ada sangkut pautnya dengan perusahaan. Seharusnya, walaupun ini adalah usaha milik pribadi tetapi hirarki pengaturan keuangan perusahaan harus sesuai komposisinya, atau terjadi masalah perusahaan yang ‘kurang gizi’.

Yang lebih bahaya lagi jika keuangan perusahaan dipakai untuk membayar ‘hutang hutang pribadi’ , maka secara akutansi akan terjadi gali lubang tutup lubang. Dalam hal ini perusahaan akan bleeding ( krisis keuangan ) jika terjadi masalah dengan perencanaan income misalnya pendapatan harian yang tidak sesuai target atau keterlambatan penerimaan pembayaran dari sebuah project. Hal ini terjadi karena pengeluaran yang tidak produktif bahkan yang tidak berhubungan dengan perusahaan lebih besar dari pendapatan usaha yang mungkin didapat. Berhati hati mengelola keuangan adalah hal yang bijaksana, terutama dalam pengelolaan keuangan  UMKM.

5. Tidak siap mental untuk menjadi besar
Pada saat membangun usaha kecil menengah bagi sebagian orang mungkin awalnya tidak berharap terlalu muluk akan perkembangan usahanya. Cukuplah untuk memenuhi kebutuhan bulanan keluarga dan bayar gaji beberapa karyawan. Tapi dalam perkembangannya ternyata perusahaan maju pesat dan kini dalam waktu cukup singkat terbentang kesempatan memperbesar usaha untuk keuntungan yang lebih besar, misalnya memperbanyak cabang, melakukan ekspor produk, dll. Disini karakter dan mental pemilik usaha akan sangat menentukan apakah dia akan tetap merasa cukup dengan kondisinya sekarang atau berkeinginan meningkatkan bisnisnya ke tahap yang lebih tinggi lagi. Beberapa pengusaha sebetulnya tampak tidak siap secara mental untuk berkembang lebih besar. Sebagaimana diketahui semakin besar usaha, maka semakin besar modal, semakin besar resiko, semakin besar pesaing memperhitungkan strategi kita sebagai pesaing serius, juga semakin tinggi harapan pelanggan tehadap produk atau jasa perusahaan kita. Mental dan karakter pengusaha skala kecil menengah harus berkembang mengikuti skala usahanya jika perusahaan ingin lepas landas dengan halus dan terbang dengan stabil. Seluruh perangkat kerja perusahaan membutuhkan pembenahan. Mulai dari organisasi, skill karyawan, perangkat kerja, marketing strategi, standard service / produk sebagai output sampai mungkin waktu bersama keluarga yang bisa jadi lebih sempit. Bahkan jika yakin dengan progress profitnya sehingga mulai berani untuk berhutang terencana ke Bank untuk membesarkan perusahaan. Mungkin ini langkah yang cukup berisiko mengingat selama ini berusaha dengan menggunakan modal kerja cukup dari dana sendiri atau dukungan keluarga walaupun jumlahnya terbatas. Atau mungkin untuk menghemat biaya atau mendatangkan potensi pelanggan baru maka mulai memikirkan strategi kerjasama promo atau saling tukar pelanggan dengan berbagai pihak luar yang selama ini belum pernah dilakukan.
Sekali melangkah untuk menjadi besar, maka mundur kembali adalah suatu kesalahan karena akan banyak hal hal yang harus dikorbankan. Jika pemilik belum siap secara mental, maka sebaiknya cukup memelihara dan memperbaiki apa yang saat ini sudah ada dari segi kualitas, segi service maupun citra dari usaha yang telah ada sekarang. Setidaknya itu cukup menjaga agar pelanggan tetap merasa puas dan tidak lari ke produk/ brand lain walaupun mungkin kita hanya bisa menghasilkan produksi dalam jumlah terbatas tapi dengan kualitas terbaik. Dengan beberapa keunggulan point unik yang kita miliki dan penyesuaian performance produk bahkan kita bisa meningkatkan harga jual agar berkesan produk / service kita lebih eksklusif dan tidak pasaran. Margin yang didapat tentunya akan semakin besar. 
SEMANGAT SUKSES ( Mirza A.M.)