Minggu, 15 Agustus 2010

BERPROMOSI DI MEDIA LUAR RUANG

Yang temasuk media luar ruang ini antara lain adalah :
  1. Billboard
  2. Baligho
  3. Umbul-umbul
  4. Spanduk
  5. Papan Nama Perusahaan/Toko (Shopsign)
  6. Balon Udara
  7. Neon Box, dll.
Hal khusus yang perlu diperhatikan saat Anda ingin menggunakan Media luar ruang ini adalah biaya pajak retribusi iklan.  Besarnya pajak iklan ini tiap daerah memiliki kebijaksanaan dan peraturan yang berbeda. Namun biasanya hitungan dasarnya adalah sebagai berikut :

Panjang x Lebar x jangka waktu pemasangan x Rupiah

Jadi pajak iklan yang harus dibayar adalah hasil perkalian dari Panjang dengan Lebar bidang gambar dikalikan dengan jumlah hari pemasangan iklan Anda dikalikan lagi dengan nilai Rupiah yang besarnya sesuai peraturan yang berlaku. Disamping faktor-faktor di atas, biasanya ada peraturan tambahan lagi yang bersangkutan dengan luas bidang minimum dari iklan, faktor pencahayaan (Frontlite atau Backlite), lokasi kelas jalan, dll.

Jadi Anda harus mengeluarkan dua macam biaya yaitu :
  1. Biaya produksi material promosi (termasuk ongkos pemasangan)
  2. Biaya pajak retribusi iklan daerah.
Jika Anda memutuskan untuk menggunakan media luar ruang ini maka pilihlah lokasi yang tepat sesuai sasaran konsumen serta produk Anda. Lokasi-lokasi persimpangan jalan biasanya menjadi incaran utama para pemasang iklan jenis ini. Namun tidak semuanya harus seperti itu. Kadang kala beriklan di dinding luar sebuah pusat pertokoan/Mall juga sangat efektif untuk mereka yang memiliki toko di dalam Mall tersebut. Jadi tidak perlu memasang iklan di persimpangan jalan yang biasanya sangat mahal. Pemasangan iklan di lapangan olah raga juga sangat efektif untuk produk minuman energy, air mineral, suplemen kesehatan dan peralatan olah raga.

Hal penting lainnya dalam merencanakan iklan luar ruang ini adalah jangan menggunakan kata-kata atau kalimat yang terlalu panjang. Karena lokasinya yang berada di tempat-tempat umum, biasanya orang akan membaca iklan ini sambil beraktifitas. Jadi waktu Anda untuk bisa menarik perhatian mereka sangatlah singkat. Supaya pesan dalam iklan Anda efektif maka utamakan untuk menampilkan gambar dan slogan singkat yang mudah diingat.

Minggu, 08 Agustus 2010

STRATEGY PEMBERDAYAAN POTENSI UMKM DAERAH (ANALISA SWOT)

UMKM atau Usaha Kecil Menengah yang didefinisikan sebagai Usaha dengan modal awal bisa dimulai dari Rp. 5.000.000,00 sampai Rp. 50.000.000,00 banyak diyakini oleh pelaku ekonomi dapat menjadi awal dari kebangkitan ekonomi kerakyatan di suatu daerah. UMKM ini menjadi wacana penting yang selalu dibahas jika membicarakan pemberdayaan masyarakat menengah bawah, pembukaan lapangan kerja ataupun peningkatan kesejahteraan rakyat. Tapi bagaimana aplikasinya hingga UMKM dapat menjadi pembangkit ekonomi Indonesia. Jika mengacu kepada strategy SWOT ( Strengths, Weaknesses, Opportunities dan Threats ) , maka berikut bagan analisa terhadap potensi UMKM di Indonesia secara umum

STRENGTHS
·        Penduduk usia produktifnya banyak
·        Tingkat konsumsi tinggi
·        Sumber daya alam melimpah
·        Musim panas ada sepanjang tahun
·        Budaya Kekeluargaan dan gotong royong
·        Warisan budaya yang khas
·        Kemauan untuk bertahan hidup tinggi

WEAKNESSES
  • Mayoritas penduduk Tingkat Pendidikan dan Skill kerja rendah
  • Mental daya juang masyarakat kelas ekonomi bawah kurang gigih
  • Kemampuan modal yang lemah
  • Tidak ada motivator penggerak usaha untuk kalangan menengah bawah
  • Penguasaan Teknologi industri masih rendah
OPPORTUNITIES
  • Masih banyak potensi yang belum dioptimalkan sebagai unsur penggerak mesin perekonomian
  • Banyak negara lain sebetulnya membutuhkan apa yang bisa dijual dari Indonesia jika ketersediaan produknya memenuhi persyaratan
THREATS
  • Banyak negara lain mengincar sebagai investor win – lose oriented di Indonesia untuk mengelola sumber daya alam Indonesia
  • Kebijakan standarisasi mutu internasional dan perdagangan bebas
  • Budaya hedonisme pengaruh dari luar, kerja UMKM kurang bergengsi

STRATEGI SWOT


STRENGTHS
WEAKNESSES
OPPORTUNITIES
     - Memanfaatkan sinar matahari dan angin sebagai sumber energi alternatif utama sepanjang tahun di seluruh Indonesia.
     - Mendayagunakan potensi jumlah penduduk dengan menciptakan unit usaha kecil kecil tapi jumlah total unitnya banyak dan tersebar sampai ke pelosok.
     - Pemda menganalisa potensi khas daerah dan sumber daya yang bisa dikembangkan dalam unit usaha kecil menengah.
    - Meminjam keahlian tenaga tenaga ahli pelaku usaha di seluruh Indonesia
     - Membuat sentra sentra inkubator UMKM yang banyak, potensial dan tersebar di seluruh Indonesia
     - Memberdayakan mahasiswa sebagai pengawas harian di lapangan
     - Pemerintah menerbitkan kebijakan Corporate Social Responsibility untuk perusahaan skala besar dan perusahaan asing


THREATS
    - Memproteksi masuknya pengusaha kuat ke sektor usaha UMKM
    - Pemda membuat kebijakan probisnis UMKM dari segi kemudahan izin
    - Membuat kebijakan usaha sektor hulu supply harus dari UMKM kepada pihak industri
    - Mengedukasi/ kampanye perilaku empati masyarakat menengah atas kepada UMKM
    - Membuat sentra sentra koperasi simpan pinjam, bank pengkreditan rakyat skala maks 5 juta di seluruh Indonesia
·   - Memperkuat jaringan database debitor yang sukses kepada bank untuk nilai pinjaman yang lebih besar
·    - Memberdayakan motivator terkenal untuk membentuk mental daya juang dan skill  pelaku UMKM

SEMANGAT SUKSES

SERVICE EXCELLENT

Dalam hal bisnis jasa seperti misalnya di Inul Vizta Karaoke Keluarga, tidak ada barang / produk yang bisa dibawa pulang untuk dinikmati kemudian seperti halnya menjual produk produk berupa barang. Apa yang dibawa oleh pelanggan adalah kesan selama dia menerima service di Inul Vizta Karaoke Keluarga. Baik dari kesan suasana, fasilitas, cita rasa makanannya, ramah tamah pelayanannya, respon dari permintaan atau keluhan. Bahkan hal hal kecil yang mungkin tidak sengaja ditunjukan waiters/ss outlet seperti wajah yang tidak tersenyum, sikap melayani yang terkesan seadanya mungkin karena hari itu sedang banyak urusan yang membebankan pikiran akan langsung ditangkap sebagai kesan jelek dari Inul Vizta. Kesan yang didapat adalah seketika itu juga dan tidak bisa ditunda oleh pihak manajemen outlet. Manajer Outlet tidak bisa menahan pelanggan untuk tidak kecewa dulu menunggu sampai semua dapat ditangani bila pelanggan saat itu merasa kecewa. Maka perlu ditegaskan pada seluruh pengelola outlet bahwa paling tidak selama masih jam operasional kita melayani pelanggan harus dengan sepenuh hati dan sesuai dengan standard kualitas.

Sifat yang harus ditunjukan dalam pelayanan yang sempurna:
  1. Ramah dan sopan
  2. Sigap / Cepat tanggap
  3. Membantu
  4. Empati & Perhatian
  5. Memberi pilihan / Solusi

Ramah dan sopan termasuk di dalamnya Senyum , Sapa dan Salam, basic attitude di dalam sikap melayani. Lalu harus sigap dalam memberikan respon. Jika ada pelanggan yang terlihat bingung melihat ke berbagai arah, langsung datangi dan tanyakan apa ada yang bisa dibantu. Mungkin pelanggan tersebut sedang mencari lokasi toilet maka bersikaplah membantu: antarkan langsung ke tujuan, jangan hanya menunjukan dengan jari arah toilet tersebut. Jika ada pelanggan komplain dengarkan dengan penuh perhatian apa yang jadi keluhan yang bersangkutan. Perlihatkan rasa empati bahwa kita merasakan kesusahan yang sama jika hal tersebut terjadi kepada kita. Lalu berikan jawaban yang simple dan menenangkan. Jika perlu berikan pilihan kompensasi yang memungkinkan dan bisa diterima agar mereka tetap jadi pelanggan dan tidak pindah ke competitor kita

Terutama yang perlu mendapat perhatian adalah mereka yang berada di garda terdepan ( Floor Operational ) seperti Receptionist, Cashier, Waiter/ waitress yang memang langsung berhadapan dengan pelanggan. Citra outlet selain diwakili oleh fisik gedung dan fasilitas sarana outlet juga sangat ditentukan pelayanan yang diberikan oleh pasukan front liner ini. Karena itu merekrut front liner tidak cukup hanya sekedar cantik/ tampan , tapi tentu saja juga harus smart. Smart artinya punya karakter minimal yang masuk katagori bisa diterima sebagai pelaku front liner. Tampak dari penampilannya, pikirannya, daya tangkapnya, sikapnya, body languangenya, caranya berbicara, sampai nada bicaranya dan kejelasan spellingnya perlu mempunyai score standard yang memenuhi syarat.

Yang harus coba diolah adalah bagaimana membawa membawa konsep pelayanan ini ke arah cara kekeluargaan. Misalnya waiter mulai mengenal nama pelanggan yang loyal dan sering datang, menyapa dengan menyebut namanya dengan sopan,  pelan pelan mengenal makanan favoritnya, pilihan minuman pilihannya, sedikit bercanda dengan anak anaknya yang sering dibawa ke outlet, sekedar bertegur sapa sedikit di luar konteks pelayanan antar pelayan dan tamunya, ingat harus tetap di koridor kesopanan dan kepantasan. Jangan kebabalasan dan pelayan kita menjadi kurang ajar terhadap tamu atau merasa sok akrab. Jika hubungan outlet dengan pelanggannya sudah mencapai tahap keakraban dalam suasana kekeluargaan, maka gaya komplain yang disampaikan bila itu terjadi akan lebih rendah “kadar kekerasan” komplainnya . Pelanggan yang merasa tidak ada hubungan bathin dengan crew outlet , dengan manager outlet pasti akan menyampaikan komplain dengan cara keras dan mungkin tidak akan kompromi sama sekali. Pelanggan yang memiliki ikatan hubungan bathin dengan outlet akan menyampaikan komplain cenderung seperti menegur baik baik seorang kawan dan lebih besar tujuannya seperti memberikan saran ke arah yang menurutnya lebih baik. Kadang komplain ini bisa disampaikan dengan cara bercanda. Mungkin ada juga rasa ikut memiliki dari kastemer tersebut, setidaknya memiliki ikatan pertemanan , persahabatan dengan para karyawan outlet. Itulah kekuatan dari SENSE OF BELONGING ( rasa memiliki ) dari kastemer. Jika tahap tersebut tercapai, itu adalah output dari pencapaian SERVICE EXCELLENT

Memang di penerimaan layanan, tidak pernah ada rasa puas dari pelanggan. Itu adalah hak prerogative pelanggan. Yang menentukan baik tidaknya layanan adalah pelanggan, bukan penyedia jasa. Pelanggan adalah raja. Level kepuasan dari pelanggan juga makin lama semakin tinggi. Biasanya mereka sudah puas di angka 3, beberapa bulan kemudian berharap pelayanan kita sampai di level 5. Nanti lihat di outlet lain lebih bagus lagi, pelanggan berharap menerima service level 7, dst. Apalagi jika tahu dia sedang BERADA DI TEMPAT  TERBAIK DI INDONESIA, pasti service level yang diharapkan juga maksimal. Pada akhirnya semakin tinggi manajemen outlet berusaha memberikan level pelayanan maksimal kepada pelanggan, maka akan lebih tinggi lagi harapan bagi para pelanggan jika mereka datang di sesi berikutnya.  Karena itu setiap outlet hendaknya senantiasa setiap hari untuk terus memperbaiki diri dan teamwork agar output service yang disampaikan dan diterima oleh pelanggan betul betul excellent.
SEMANGAT SUKSES ( Mirza A.Muthi )


Minggu, 01 Agustus 2010

MEMBER CARD

Dari beberapa pertanyaan yang masuk di email saya merujuk pada satu fokus pertanyaan, bagaimana parameternya cara melihat kinerja sebuah produk jasa semacam entertainment bisa diterima atau tidak di masyarakat selain melihat performance omzet bulanan?
Karena itu saya sampaikan pada kolom TIPS & TRIK ini kesimpulan untuk menjawab seluruh pertanyaan tadi.

Jadikan MEMBER CARD sebagai salah satu parameter

Member Card adalah kartu keanggotaan yang diterbitkan oleh pemilik usaha/ penyedia jasa yang dimiliki oleh pelanggannya.

Kenapa harus menjadi member ?
Karena di bisnis jasa non produk seperti misalnya entertainment, key performance indicator untuk bisa dianalisa selain omzet adalah berapa orang yang sudah pernah menikmati layanan jasa kita. Jika di penjualan product jumlah unit terjual akan berbanding lurus dengan omzet penjualan, barang/ produk banyak terjual berarti omzet tinggi berarti jumlah pembeli juga tinggi karena kemungkinan besar satu orang misalnya hanya membeli satu mobil BMW seri Z, jarang sekali 1 orang membeli mobil yang sama dalam jumlah lebih dari 1 unit pada saat yang sama. Namun tidak demikian halnya dengan bisnis jasa. Bisa jadi omzet tinggi atau cenderung meningkat, ataupun omzet rendah atau cenderung menurun, tapi outlet tidak bisa langsung mengkaitkan omzet dengan jumlah pemakai jasa outlet jika tidak ada catatan sebetulnya berapa orang yang sudah menggunakan jasa outlet.

Di jasa, bisa jadi dengan jumlah pelanggan yang tetap atau bahkan makin turun tapi omzet terlihat stabil atau meningkat karena memang tingkat usage / nominal pembelanjaan setiap pelanggan meningkat pada saat itu. Tapi ada kecenderungan di masa mendatang bisa langsung menurun drastis karena pelanggan mulai mengurangi tingkat pembelanjaan dan frekuensi kunjungannya disebabkan misalnya daya beli mulai menurun atau sudah ada kompetitor yang lebih menarik.  Penurunan signifikan juga pasti terlihat jika outlet membuat program discount. Kenapa bisa menurun drastis, karena outlet ‘terlena’ dengan omzet yang cukup baik selama ini, sedangkan dari berapa jumlah pelanggan omzet tersebut dihasilkan belum terpikirkan waktu itu. Sehingga sebetulnya outlet hanya memiliki pelanggan yang ‘itu itu saja’. Hal ini berbahaya jika terjadi untuk waktu yang cukup lama karena trend bisnis dan ancaman kompetitor terus berjalan. Apalagi jika outlet tidak pintar menjaga loyalitas pelanggannya.

Cara paling dekat untuk melihat berapa sesungguhnya jumlah kastemer yang sudah menggunakan jasa outlet entertainment tsb dan memberikan kontribusi omzet outlet adalah dengan menerbitkan kartu member ( MEMBER CARD ). Paling tidak dari jumlah pemegang MEMBER CARD kita dapat mengambil rata rata belanja setiap pelanggan outlet. Yang terpenting kita mendapat data kira kira 30% jumlah pelanggan loyal yang juga MEMBER CARD HOLDER yang memberi kontribusi 70% omzet Outlet.

Memang tidak semua pelanggan outlet menunjukkan Member Card atau memiliki Member Card. Tapi dengan mendata pertumbuhan member card , maka outlet dapat mendeteksi seberapa besar minat pasar terhadap usaha outlet. Yang ideal adalah jumlah member Outlet dari bulan ke bulan terus meningkat dan tentunya akan memberikan kontribusi relevan terhadap kenaikan Omzet outlet.
Sebagai warningjika jumlah pertumbuhan member card berbanding terbalik dengan pertumbuhan Omzet, maka pasti ada yang salah dalam fungsi service dan sales outlet.
Member juga memudahkan outlet membuat program customer loyalty sehingga member akan terikat secara bathin dengan Outlet dan menjadi loyal serta cukup tahan terhadap pengaruh ajakan pindah dari kompetitor.
Berikut beberapa contoh program/ fasilitas yang bisa diimplementasikan pada MEMBER CARD usaha Anda:
- Tentunya dari data yang didapat pada saat membuat Member Card diketahui data tanggal lahir, telp dan alamat member. Berilah kesan mendalam kepada member untuk memberi ucapan Selamat Ulang Tahun kepada member Anda baik melaui telepon ataupun surat ucapan yang indah. Sentuhan pribadi yang mengesankan.
- Secara sederhana keuntungannya adalah dengan menunjukan Member Card, maka otomatis mendapatkan discount istimewa di outlet Anda, dibandingkan dengan pembeli yang belum memiliki member card
- Member Card outlet bisa juga digunakan untuk mendapatkan discount di beberapa merchant partner lainnya yang berkerja sama dengan outlet Anda, untuk memberikan privilege discount kepada member dan sebagai “added value” Member Card outlet Anda
- Dengan dukungan IT system, pertimbangkan untuk menggunakan chip di Member Card dengan program isi saldo/ biasanya dari jenis prepaid card: Member card berfungsi sekaligus prepaid card dimana saldo akan berkurang otomatis setap kali digunakan. Untuk dapat selalu menggunakan Member Card system Prepaid Card ini maka isi saldo harus senantiasa diisi dalam jumlah ideal sesuai kebiasaan pemakaian
- Jika outlet Anda memiliki atau tergabung dalam jaringan di beberapa kota dengan brand yang sama, maka setiap pemegang kartu bisa menggunakan member card dengan segala fasilitasnya berlaku sama dan seragam di seluruh outlet brand yang sama

Tapi jangan juga demi mencapai target tinggi segera dalam pencapaian member card akhirnya jadi jor – joran. Jika segmen pasar Anda harus berada di segmen B, B+ sampai A, memberi Member Card secara gratis kepada semua orang tanpa diseleksi dan dimana saja juga bukan cara meningkatkan member card yang bijaksana. Jika 70% pemegang member card adalah golongan transaksi pasif, maka akan menyulitkan manajemen Anda sendiri dalam merancang program program loyalty yang diimplementasi berdasarkan member card karena tidak didukung oleh daya beli atau life style yang cukup dari mayoritas para member Anda. Artinya profile customer Anda tidak jelas ingin ditarget di segmen mana. Maka bagi Anda pengusaha jasa semacam entertainment, tingkatkanlah jumlah Member Card Anda secara bijaksana
SEMANGAT SUKSES ( Mirza A. Muthi )


Minggu, 18 Juli 2010

CARI TAHU DENGAN JARIMU......!!!!!


Media cetakan seperti brosur, flyers, katalog atau poster yang sudah pernah kita bahas sebelumnya kalau sudah habis dibagi-bagikan kepada konsumen, maka kita harus cetak ulang lagi beberapa kali sesuai kebutuhan Kita. Kalau kita melakukan promosi sepanjang tahun, maka dapat dipastikan bahwa kita akan mencetak brosur tersebut cukup banyak sekali. Kalau dihitung biaya cetak setahunnya bisa lumayan besar.

Ada cara yang lebih efektif dan Anda tidak perlu lagi repot untuk mencetak berulang-ulang sepanjang tahun, yaitu dengan membeli ruang iklan di buku panduan telepon (Yellow pages, Industri Niaga, dll). Selain itu Anda juga tidak perlu membayar Disainer untuk merancang iklan yang akan dimuat. Karena Salesman/Agen yang menawarkan ruang iklan di tempat tersebut biasanya bisa membantu mendisainkan iklan Anda. Sekali saja Anda memutuskan untuk berpromosi di buku panduan telepon, maka iklan Anda akan dicetak sebanyak jumlah buku yang diterbitkan pada tahun yang bersangkutan. Dan secara otomatis produk Anda sudah diiklankan setahun penuh bahkan lebih, karena buku tersebut kadangkala masih digunakan meskipun sudah berganti tahun.

Coba kita lihat diri kita sendiri masing-masing. Selama ini saat Kita mencari informasi sebuah produk/jasa yang dibutuhkan sedangkan Kita tidak punya banyak waktu untuk mencari brosur atau mengunjungi pameran, maka yang akan dilakukan adalah segera membuka halaman kuning. "Cari tahu dengan Jarimu......!!!!"  begitu bunyi iklannya. Ya, Yellow Pages!!! Namun kelemahan dari buku panduan telepon adalah dia tidak bisa meng-expose secara detail keunggulan produk kita. Selain itu cetakannya biasanya hanya hitam putih atau dua warna saja. Nah sekarang coba anda hitung ulang lagi budget promosi Anda. Selamat bekerja.
(purwanto89.blogspot.com)

Senin, 12 Juli 2010

BAGAIMANA MERUBAH HALUAN BISNIS DENGAN AMAN ?

Dalam sebuah perbincangan dengan pengusaha angkot ( angkutan kota seukuran carry ) yang mengeluh bahwa sewa sekarang sepi. Maksudnya penumpang makin sepi, karena jumlah motor makin lama makin banyak. Orang merasa lebih hemat membayar cicilan motor dan akhirnya punya motor daripada "membuang" uang untuk membayar ongkos angkot. Tapi saya jadi paham kenapa supir angkot kadang "menjengkelkan" di jalanan. Karena memang harus survive selain bersaing antar sesama angkot ternyata jumlah penumpang makin bulan ke bulan dirasakan pengusaha angkot juga makin sedikit.


Memang kebutuhan pasar bisa berubah karena beberapa hal perubahan seperti:

  • Teknologi: misalnya film negative sekarang sudah tidak layak jual karena semua  camera sudah menggunakan memory internal atau memory card , juga LCD TV saat ini lebih banyak dicari daripada TV tabung yang besar dan berat.
  • Trend: misalnya orang sekarang lebih senang cari hiburan ke karaoke keluarga untuk makan dan nyanyi bersama dibandingkan hanya ke restorant umumnya. Trend ini jika bersifat massal juga seringkali terkait dengan lifestyle
  • Politik: sejak Bpk Abdurachman Wahid mengizinkan etnis China untuk eksis di Indonesia, maka hiburan hiburan thematic China seperti barongsai dan seni kungfu bisa menjadi bisnis yang banyak dicari orang untuk mengisi acara besar yang dihadiri umum
  • Masuknya produk pengganti : Kasus ini bisa dijadikan contoh, karena ada motor yang lebih cepat dan tidak perlu berganti ganti kendaraan di setiap persimpangan maka angkutan kota yang penuh sesak dan lambat tidak lagi jadi pilihan
  • Kebijakan: misalnya kebijakan approval kredit motor yang makin mudah, ringan dan cepat. Dp yang kecil cukup Rp. 300 ribu dengan syarat slip gaji ,KTP dan KK sudah bisa bawa pulang motor

Kalau hal itu terjadi seperti dalam bisnis angkot diatas, maka tentu saja harus diwaspadai oleh pengusaha: SAMPAI BERAPA LAMA LAGI BISA BERTAHAN ? 

Jelas kebijakan financial yang memudahkan ini tidak akan berubah arah menjadi lebih mahal mencicil, lebih mahal Dp, karena itu akan menyebabkan perusahaan pembiayaan kehilangan nasabahnya. Bahkan mungkin makin lama bisa makin mudah, makin cepat dan makin ringan, karena pasar juga menginginkan hal tersebut. Kecuali ada kebijakan otoritas pemerintah ( dept keuangan ) yang mulai membatasi aliran dana ke nasabah dengan alasan kehati hatian penyaluran kredit konsumsi sehingga pengajuan cicilan motor ke perusahaan pembiayaan tidak lagi mudah.


Maka tentunya perubahan harus dilakukan oleh pelaku usaha angkot agar tidak tergilas turunnya kebutuhan. Jangan sampai kemampuan dana , modal tersedia atau nilai asset ( kendaraan ) sudah sangat menurun dan saat itu pengusaha angkot belum juga  merubah arah bisnisnya. Kalau antisipasi yang dilakukan terlambat, maka kelangsungan usaha dan potensi income untuk penghidupan juga akan terancam. 


Untuk masalah yang dihadapi pengusaha angkot ini ada beberapa hal yang bisa dilakukan:

  • Gunakan sebagian asset tersedia untuk diversifikasi usaha. Misalnya punya 2 mobil angkot, yang satu dijual dan uangnya untuk dijadikan modal usaha lain.
  • Gunakan sebagian mobil angkot untuk beralih fungsi. Misalnya dipotong bodynya dijadikan bak terbuka untuk disewakan ( tentunya setelah pengurusan surat surat kendaraan yang disesuaikan ), atau dijadikan mobil toko, atau diperbaiki, diperbagus agar layak menjadi mobil antar jemput anak sekolah.
  • Jual seluruh asset untuk merubah total bisnis baru. Tapi untuk mengambil keputusan usaha total baru yang sesuai dengan kemampuan, pengalaman dan modal memang tidak mudah. Apalagi umumnya pengusaha angkot skala kecil ini kurang siap dari segi skill atau pengetahuan dan  pengalaman untuk jenis usaha lain. Maka disarankan untuk merubah bisnis secara bertahap dan dicoba dulu apakah bisnis baru ini nantinya akan punya prospek
  • Gunakan hasil penjualan sebagian atau seluruh asset kendaraan untuk membeli satu/ beberapa bisnis franchise yang sesuai. Bisnis franchise dikenal layak untuk jadi pilihan karena pelaku tidak perlu harus jadi  ahli di bidang bisnis baru tsb tapi bisnis tetap bisa berjalan karena kekuatan merknya dan standarisasi operasional, service dan bantuan konsultasi masalah dan pemasaran yang diarahkan oleh franchisor
Pilih usaha riil yang memang kiranya masih sanggup dikelola sendiri. Jangan di bisnis yang sangat perlu konsep bisnis yang memusingkan kecuali ada orang yang berkompeten untuk membantu menjalankan. Apakah itu bisnis makanan/minuman, penjualan air mineral & gas atau pulsa elektrik, atau industri rumah tangga sederhana. Bahkan mungkin dengan uang dari penjualan angkot bisa dipakai untuk membeli mesin pencacah botol plastic untuk dijual potongannya ke pabrik pengolahan limbah plastic. Saran saya, jangan terlalu muluk muluk untuk mengejar keuntungan di bisnis yang belum dikuasai. Kalau menyimak bisnis angkot yang makin turun jumlah penumpangnya sehingga terpaksa harus diambil pilihan usaha lain maka tentunya dapat omzet 200rb-300rb per hari saja sudah bagus dan mungkin seimbang dengan pendapatan bisnis angkot di masa jayanya dulu. Ini waktunya belajar bisnis lagi. Kalau sudah mulai menguasai bidang bisnis baru tsb, baru bisa difokuskan untuk dikembangkan agar bisa betul betul diandalkan dan bisa menggantikan bisnis angkot yang kerap mulai merugi.

Demikian masukan dari saya, mudah mudahan dapat berguna.


SEMANGAT SUKSES ( Mirza A. Muthi)


Minggu, 11 Juli 2010

BAGAIMANA CARA MEMBUAT USAHA YANG AKAN DI-FRANCHISE KAN?

Pada intinya kita semua harus tahu apa inti dari mem-franchise-kan usaha. Franchisor, demikian  sebutan dari pemilik merk dagang dan pemilik konsep usaha franchise lalu menawarkan konsep bisnis di bawah merk dagang milik franchisor kepada calon investor. Lalu kita juga mengenal istilah Franchisee, penerima hak waralaba . pengguna merk dagang yang bisa beroperasi di wilayah operasional tertentu yang sudah disepakati bersama dengan Franchisor. Franchisee berkewajiban mengikuti ketentuan standard operasional prosedur yang menjadi platform bisnis Franchisor. Semua kesepakatan perjanjian bisnis atau kemitraan ini dituangkan dalam PERJANJIAN FRANCHISE yang ditandatangani oleh pihak Franchisee dan Franchisor. Biasanya dengan dilengkapi dengan sejumlah nilai franchise fee atau management fee setiap bulan sebagai kompensasi franchisee menggunakan brand , SOP dan menerima bimbingan bisnis dari Franchisor.

Ketentuan SOP ini bersifat copy paste. Dijalankan di outlet yang lebih awal dibuka, berhasil menghasilkan omzet dan strategi itu dilaksanakan juga di outlet baru. Jika seorang Franchisee tidak mengikuti dengan sungguh detil per detil strategi yang diwajibkan oleh Franchisor dan akhirnya usaha Franchisee gagal, maka Franchisor tidak akan bisa disalahkan karena pada faktanya Franchisee juga tidak mengikuti ketentuan operasional standard dari Franchisor. Tentunya di setiap daerah operasional outlet ada perbedaan karakter pasar, perbedaan profile kastemer dan perbedaan daya beli yang menyebabkan Franchisor perlu menyesuaikan sebagian strategi dan ketentuan lain selama itu masih sesuai dengan koridor image brand yang sudah kita tetapkan. Jangan karena kita mengejar omzet untuk masyarakat segmen ekonomi bawah yang kebetulan dominan di wilayah sekitar outlet, sehingga akhirnya image eksklusif yang sudah menjadi ciri sebuah sebuah brand franchise dikorbankan, misalnya dengan menjual produk/ jasa di level harga murah, mengorbankan kualitas interior, mengorbankan mutu service dan menu, sehingga pada akhirnya akan merusak image brand tersebut secara keseluruhan.

Maka bagi Pemilik brand yang ingin menjadi Franchisor, harus memenuhi ketentuan sebagai berikut:
-Sudah memiliki outlet / usaha sendiri yang sudah terbukti fakta aktual bisa berjalan baik dan menguntungkan selama minimal 2 ( dua ) tahun
-Memiliki konsep usaha yang jelas dan prospek jangka panjang, bukan sekedar ikut ikutan trend ( dianalisa masih ada kebutuhan untuk sampai minimal 10 tahun ke depan) 
- Memiliki alur uang yang jelas dan terukur. Investasi, uang masuk, income utama, income tambahan. Pola uang keluar yang jelas, pengeluaran tetap, pengeluaran tidak tetap, yang harus dituangkan dalam FINANCIAL MODEL.
-Memiliki konsep pengelolaan sumber daya manusia yang jelas. Spesifikasi kebutuhan skill, pengetahuan, pengalaman para karyawan dan tenaga ahli yang dibutuhkan di setiap outlet, memiliki materi training yang jelas dan berkesinambungan, memiliki trainer yang  komunikatif dan efektif, juga problem solving dari masalah masalah ketenaga kerjaan yang mungkin terjadi
-Memiliki konsep promo dan marketing baik bersifat nasional maupun lokal yang nanti bisa diajarkan dan dijalankan di outlet dan bisa diawasi efektifitasnya di outlet
-Franchisor di kantor Pusatnya harus memiliki tenaga ahli yang cakap, kompeten, bisa berkomunikasi dengan baik, dan bisa menjalankan fungsi dengan baik sesuai jobdesc department masing masing sebagai sebuah teamwork.
-Franchisor juga harus menjaga kemampuan daya saing agar dapat terus memperpanjang PLC ( Product Life Cycle ) usaha. Terus menciptakan innovasi baru yang diterima pasar dengan antusias untuk diterapkan di setiap outet, meningkatkan level of service, level of operasional, level of performance dan membuat standarisasi management organisasi yang produktif dan efektif.

Fokus bagi pihak Franchisor adalah membangun “kesaktian” Brand-nya agar semakin lama awarenessnya makin tinggi dan tetap dipersepsi bagus oleh kastemer sesuai image brand yang memang ingin dibangun. Jika Brand sebuah merk Franchise sudah di-asosiasikan dengan “wow, inilah bisnis yang menguntungkan yang sudah dibuktikan banyak orang!!” , maka tidak susah lagi bagi Franchisor untuk mencari calon franchisee yang berminat berinvestasi.

Sedangkan Fokus bagi Franchisee cukup agar outlet bisa berbisnis dengan baik, lancar tanpa gangguan berarti, omzet semakin optimal dan semakin menjadi pilihan masyarakat terutama radius 10 km seitar outlet dan masyarakat di wilayah operasional pada umumnya.

Menjaga ekuitas Brand adalah keharusan bagi bisnis Franchise. Karena jika satu outlet tercemar, maka seluruh jaringan brand tersebut juga terancam stabilitasnya. Jangan segan segan bagi Franchisor untuk mencabut merk dagang dari franchisee yang bandel, melanggar prosedur standard dan bergerak di luar aturan main yang ditetapkan franchisor. Apalagi jika itu menyangkut pelanggaran etika norma kesusilaan dan etika nilai kemasyarakatan.  
Demikian mengenai apa kira kira yang dibutuhkan jika Anda ingin menjadi  Franchisor.
SEMANGAT SUKSES ( Mirza A.Muthi )


Sabtu, 03 Juli 2010

DUKUNGAN PEMERINTAH DAERAH SEBAGAI EMBRIO PEMBENTUKAN UMKM UNGGUL

Saat ini UMKM ( usaha skala mikro kecil menengah ) seperti dagang dianggap bisnis tradisional yang dianggap bisa berjalan tanpa harus didukung oleh profesionalisme aspek aspek pengetahuan dan wawasan yang luas, bisa diturunkan secara turun menurun dan sangat sederhana. Seyogyanya potensi para pengusaha dan pedagang mikro belum digali sampai batas kemampuan maksimal dan bahkan mungkin potensi ini belum disadari oleh para pelakunya sendiri.
Tidak cukup hanya pinjaman modal yang disupport karena jika penggunaannya kurang taktis dan efektif, maka modal hanya akan berfungsi sebagai persiapan usaha tapi usahanya tidak bisa menghasilkan. Bisnis besar ataupun kecil tetap harus dikelola secara profesional agar menghasilkan produk atau jasa yang diminati dan kompetitif.

China dengan jumlah penduduk yang sangat besar tapi setiap Usaha Kecilnya disupport secara dana dan keilmuan manajemen oleh pemerintah maka menghasilkan raksaksa bisnis yang progresif dan merupakan ancaman “mengerikan” bagi negara lain. Biaya sumber daya manusia yang murah sehingga bisa menghasilkan harga jual yang sangat kompetitif. Juga produknya sangat innovatif, ragamnya banyak dan modelnya menarik sehingga dikombinasikan dengan harga murah menghasilkan daya saing yang tinggi. Bahkan jiplak , tiru dan bikin baru lagi dengan innovasi adalah hal yang legal di China dan dilindungi negara.
Bahkan negara berpotensi market besar seperti Indonesia, produk alam negerinya mengalami kesulitan bersaing dengan produk produksi bangsa China yang dijual di negara Indonesia. Masyarakat kita lebih suka membeli produk China dengan alasan yang reasonable: lebih modern produknya,lebih banyak pilihan ragamnya dan lebih murah harganya. Sungguh Ironis.
Jika hanya ada skala puluhan UMKM dalam skala negara sebesar Indonesia mungkin tidak berdampak signifikan bagi perekonomian nasional. Tapi jika UMKM bisa digerakkan seperti industri, terus dicetak sampai berskala ribuan bahkan jutaan Unit UMKM profesional tersebar di seluruh Indonesia, maka kekuatannya sebagai penggerak ekonomi bangsa akan sangat jelas sekali dan akan memberi efek domino yang positif terhadap meningkatnya kesejahteraan bangsa.
Tips ini ditujukan untuk pelaku UMKM di seluruh Indonesia , tapi juga bisa menjadi informasi bagi Pemerintah Daerah agar memiliki pola kerja pembinaan UMKM yang efektif dan terarah. Agar kita tidak takut lagi dengan yang namanya AFTA ataupun Free Trading yang lebih global lagi di masa depan.

MULAI DARI SETIAP PEMERINTAHAN DAERAH

Adalah juga menjadi tanggung jawab Pemda Propinsi untuk memajukan kesejahteraan seluruh penduduknya  tanpa terkecuali. Kesejahteraan penduduk secara umum bisa dicapai dengan meningkatkan kemampuan produksi sumber sumber penghasil pendapatan di semua aspek status mata pencaharian penduduk. Termasuk di dalamnya adalah daya produksi dan daya saing penduduk yang berprofesi sebagai pengusaha kecil / mikro. Bagi Pemda Propinsi, peningkatan pendapatan yang signifikan pada (misalnya) jumlah populasi pedagang Mikro akan sangat membawa peningkatan yang berarti bagi pendapatan per kapita propinsi. Belum jenis usaha lain selain perdagangan.
Oleh sebab itu Program Pelatihan ini diajukan untuk dapat dipertimbangkan. Tujuannya adalah memberi wawasan dan keilmuan non formal kepada pedagang mikro se-propinsi agar dapat menjadi nilai tambah bagi setiap pribadi peserta sebagai kekuatan agar dapat lebih berdaya saing dan berkemampuan tinggi dalam menjalankan usaha dagangnya. Dengan pelatihan ini diharapkan akan meningkatkan kesuksesan sebagai pengusaha kecil dan tentunya meningkatkan kesejahteraan keluarga pengusaha peserta pelatihan. Dengan semakin tingginya pengetahuan dan kemampuan para pelaku pedagang kecil juga akan meningkatkan kepercayaan institusi pemberi kredit usaha mikro baik dari Perbankan, BPR maupun Yayasan yayasan pendanaan usaha kecil lainnya untuk tidak segan segan menyalurkan kreditnya pada pelaku pelaku usaha dagang skala mikro.

PEMBENTUKAN TEAM KERJA PELAKSANA & LABORATORIUM SEBAGAI INKUBATOR PENGEMBANGAN EMBRIO BISNIS UMKM DI DAERAH

Sebetulnya masalah UMKM ini bukan sama sekali mulai dari awal. Di setiap daerah pasti sudah cukup banyak unit UMKM yang sudah eksis dan berjalan. Hanya saja seperti diulas di awal, sifat bisnisnya sangat konvensional dan belum menimbulkan efek menularkan rangsangan semangat wirausaha ke orang lain.

Laboratorium UMKMK yang tugasnya adalah menciptakan “ bentuk usaha mikro kecil menengah “ baru yang disesuaikan dengan potensi daerah setempat atau meningkatkan potensi profit dari usaha yang sudah eksis di daerah tersebut tapi belum terorganisir secara profesional. Laboatorium bertugas sebagai Inkubator adalah sebagai tempat untuk membesarkan embrio unit UMKM menjadi bibit UMKM yang potensial. Untuk menuju potensial ini maka prosesnya harus akurat sejak awal. Sejak penentuan bidang usaha, bagaimana organisasinya, bagaimana marketingnya, bagaimana alat produksinya, darimana input bahan baku dan channel penjualannya, siapa pembelinya berapa harga jualnya. Lalu embrio ini yang ditawarkan pada pelaku UMKM untuk dijalankan lengkap dengan Manual Book Standard Operasional Prosedurnya. Pelaku UMKM tidak mencari cari model usaha lagi.

Mereka yang dipilih kerja di Laboraturium ini adalah kalangan akademisi sebagai pelaksana dan kalangan muda praktikal dunia usaha sebagai konsultan pembimbingnya sehingga program dapat dipercepat kerjanya dengan hasil yang optimal, tentunya didukung oleh kemudahan birokrasi akses ke segala lapisan sumber daya yang dibutuhkan dari pejabat Pemda setempat. Team Kerja Pemberdayaan UMKM ini harus dibuat beberapa kelompok, diberi wilayah operasional tertentu yang tidak tumpang tindih satu team dengan team lainnya. Masing masing diberi target kerja dan reward jika target tercapai.

Maka tugas Team Kerja Pemberdayaan UMKM ini adalah
  • Memperbaiki kinerja dan profesionalisme unit UMKM yang sudah eksis
  • Menganalisa top 10 potensi jenis bisnis UMKM terbaik yang khas di wilayah daerah tersebut
  • Membuat model model UMKM yang siap ditawarkan kepada calon pelaksana UMKM
  • Mengadakan pelatihan calon calon pelaksana UMKM bekerjasama dengan pihak pendana / Bank Daerah
  • Melakukan promosi berkesinambungan semangat wirausaha melalui media massa lokal dan penyuluhan ke lapangan
  • Bekerja sama dengan sekolah sekolah kejuruan aplikasi kerja di wilayah setempat untuk membuat  dan merintis pembukaan unit unit UMKM baru bagi calon wirausaha
  • Memulai bimbingan dan pengawasan intensif 100 hari pembukaan unit UMKM baru untuk kemudian diserah terimakan kepada pelaku usaha
Bukan hanya terbatas pada niaga makanan, pakaian, tapi juga budaya yang bisa dikomersialkan, lokasi wisata yang pantas dijual, kerajinan khas yang unik dan menarik, jika perlu mengolah bahan pokok buah khas daerah menjadi panganan ringan yang baru jenisnya. Pelaku usaha dari embrio yang dihasilkan di laboraturium ini harus ditargetkan pada pelaku dengan skill menengah ke bawah, pria dan wanita juga bisa melakukannya. Jangan yang terlalu membutuhkan konsep dan pemikiran serius karena tidak cocok untuk UMKMK. Ada budget dari kas daerah untuk Laboratorium UMKMK ini dan memang ditarget untuk dalam 6 bulan harus bisa menghasilkan beberapa ide usaha baru skala Mikro Kecil Menengah yang sudah dianalisa dan siap dibuatkan embrionya sebelum ditawarkan kepada pelaku usaha. Jika usaha ini bisa memperkerjakan banyak orang, maka ditawarkan oleh Pemda kepada investor lokal sebagai bapak asuh permodalan agar pelaksanaan usaha bisa lebih cepat terealisasi, dengan kewajiban menggunakan tenaga kerja lokal setempat. 

SEMANGAT SUKSES ( Mirza A.Muthi ).

Minggu, 20 Juni 2010

JENIS-JENIS DAN SIFAT PROMOSI

Kegiatan Promosi itu didunia marketing terbagi dalam dua hal kalau dilihat dari Media yang digunakan, yaitu :
1.      Above the Line (ATL) iklan TV, Radio, Koran, BIllboard atau
2.      Below The Line (BTL) pameran, event, dsb.

Tapi Kalau dilihat goal atau target dari promosi itu, secara singkat bisa dikelompokan menjadi 4 hal:

1. Product awareness (Kesadaran) : artinya disini iklan yg dibuat hanya sebatas membuka otak kognitif kita akan ada suatu produk baru. Sehingga otak kita dirangsang utk menerka-nerka produk apa sekiranya yang akan keluar. Biasanya produk ini hanya berupa "At a Glance" atau sekilas tidak ada nama produk tapi hanya coorporate brand name (spt BMW, Sampoerna, Nokia,dsb), tidak ada description tentang produk tadi, dan hanya sebuah informasi kulit, seperti "Nantikan tanggal ...., Lihat jam..., atau ada apa di hari..., dsb" Karena itu intensitasnya pun hanya sesaat dan tidak mengambil slot panjang dalam tayangan iklan tv. Iklan seperti ini sering juga disebut  “Teaser”.

2. Product promotion (promosi) : biasanya pada kondisi ini bentuknya adalah mempromosikan jenis produk baru yang ditawarkan ke konsumen. Contohnya adalah iklan-iklan Koran, radio atau TV yang menyebutkan langsung jenis atau nama produk yang dijual, merek dan kelebihannya. Iklan ini merupakan iklan umum yang paling sering dilihat sehari-hari.

3. Recall/Reminding  (Pengingat) : promosi disini di targetkan terhadap produk yang sudah keluar di pasaran dalam kurun beberapa waktu yg lalu. Jadi awareness konsumen disadarkan kembali (diingatkan kembali) terhadap produk yang kita jual.  Jenis ini bisa menggunakan pola media yg sudah kita pake pada point 2. Jadi penekanannya hanya mengingatkan atas produk kita di pasaran. Iklan jenis ini banyak digunakan oleh merek yang sudah besar seperti Coca-cola, Mc. Donald, Sprite, Bodrex, dll.

4. Penetrate (memperdalam) : promosi ini yang biasanya digunakan para produsen untuk merubah pola konsumsi konsumennya. Maksudnya begini, sebagai contoh iklan pasta gigi. Merek apa saja, tapi Pepsodent contoh gampang. Menurut dokter gigi penggunaan pasta gigi itu sebenarnya cukup hanya seujung sikat gigi-nya saja (sekitar 1 Cm). Namun pesan yg diberikan oleh Pepsodent adalah memberikan contoh dengan mengoleskan pasta giginya sepenuh sikat giginya. Secara tidak langsung otak kognitif kita disadarkan bahwa setiap membersihkan gigi berarti harus menggunakan pasta giginya sepenuh sikat giginya, artinya produsen merangsang konsumen untuk menggunakan sebanyak-banyaknya. Walaupun dari manfaat yg dilihat tidak ada bedanya pakai sedikit atau banyak. Hal seperti ini juga dipakai oleh produsen Shampoo Rambut yang menganjurkan pemakaian setiap hari. Pesan yang Mereka pakai adalah “Aman digunakan setiap hari….”. Jadi fungsinya adalah agar konsumen lebih banyak dan sering menggunakan produk tersebut. ( http://purwanto89.blogspot.com/ )


Minggu, 13 Juni 2010

KATALOG PRODUK, FLYER & POSTER

Pada artikel bulan Mei 2010 Saya telah membahas sarana promosi yang paling umum yaitu Brosur. Di tulisan kali ini akan saya lanjutkan pembahasan mengenai sarana promosi lainnya yang tak kalah popular yaitu KATALOG PRODUK, FLYER/SELEBARAN & POTER.

1. KATALOG.

Bila produk yang ingin Anda promosikan jumlahnya banyak dan ingin sekaligus di-expose bersama-sama, maka disarankan untuk membuat Katalog. Karena produk yang dipromosikan dalam katalog ini jumlahnya banyak, maka biasanya cetakannya disatukan dalam bentuk buku atau majalah sederhana. Katalog ini biasanya dipakai oleh Supermarket seperti, produsen pakaian jadi, alat-alat kosmetika, produsen elektronika dan sebagainya. Katalog akan memudahkan konsumen untuk bisa memilih sendiri produk mana yang sesuai dengan keinginannya.

2. FLYER/SELEBARAN.

Selebaran/flyer Adalah bentuk sederhana dari brosur. Yang membedakannya dengan brosur adalah isi atau tema yang ada dalam disainnya. Brosur biasanya hanya menonjolkan kelebihan utama sebuah produk. Sedangkan selebaran/flyer biasanya berisi tentang program khusus yang sifatnya sementara (temporary). Jadi bila Anda sedang melakukan program cuci gudang, program berhadiah atau memberikan diskon khusus, maka buatlah flyer.  Selebaran/flyer biasanya menggunakan kertas cetakan yang lebih murah karena memang sifatnya yang harus segera disebarkan kepada banyak orang dalam waktu tertentu dan hanya selama program berlangsung.
                                                                                                                  
3. POSTER.

Secara fisik poster biasanya lebih besar ukurannya dibandingkan dengan brosur, katalog atau flyer. Poster mempunyai fungsi hampir seperti ketiga jenis media cetakan di atas. Dia bisa berfungsi seperti brosur, yaitu menampilkan keunggulan utama dari sebuah produk. Tapi tampilan pada poster biasanya lebih sederhana. Kalimat-kalimat panjang yang biasanya digunakan pada brosur untuk menjelaskan keunggulan produk biasanya tidak ada pada poster. Poster biasanya akan banyak menggunakan visual/ilustrasi gambar untuk menonjolkan produk bersangkutan.

Poster juga bisa berfungsi seperti layaknya katalog. Jumlah halaman yang berlembar-lembar pada katalog bisa disatukan menjadi satu halaman besar berbentuk poster yang meng-expose seluruh produk.

Poster juga bisa berfungsi untuk mempublikasikan suatu program penjualan khusus seperti layaknya flyer. Hanya saja kalau flyer bisa langsung dibagikan kepada khalayak umum satu-persatu, sedangkan poster biasanya ditempel pada dinding yang bisa dilihat oleh orang banyak.
(http://purwanto89.blogspot.com)

Minggu, 06 Juni 2010

KESALAHAN PELAKU USAHA

Seringkali pelaku usaha kecil menengah yang berhasil maju hanya sekejap menkmati sukses karena sekian waktu kemudian usahanya justru gagal. Jika sudah gagal banyak kemudian yang disalahkan, apakah karyawan yang katanya tidak kompeten, atau persaingan yang mulai ketat, atau produk yang sudah tidak laku lagi dijual. Coba kita lihat bersama apa saja yang mungkin terjadi dalam fenomena “bubble” , cepat menggelembung lalu pecah secara drastic.

5 KESALAHAN UTAMA PELAKU USAHA KECIL MENENGAH

UMKM ( Usaha Mikro Kecil Menengah ) adalah salah satu jalan mengatasi pengangguran akibat kurangnya lapangan kerja. Berwiraswasta mandiri bahkan merekrut karyawan karyawan walaupun dalam jumlah yang kecil tapi jika dalam radius 10 km2 ada 100 unit usaha skala kecil di berbagai bidang maka paling tidak dapat menyerap 1000 orang pekerja. Bayangkan berapa pekerja yang bisa ditampung di unit unit usaha kecil menengah untuk wilayah operasional DKI Jakarta.
Hanya saja UMKM sering dikelola secara tradisional, kurang professional, hanya berumur pendek dan tidak jarang tidak berkembang. Berikut diuraikan 5 kesalahan mendasar pengelolaan UMKM pada umumnya

1. Promosi dan marketing tidak penting
Beberapa dari pengusaha skala menengah yang sudah cukup berhasil dalam omzetnya menganggap bahwa marketing atau program promo tidak perlu karena outletnya sudah cukup dikenal, mereka cukup puas dengan omzet outletnya saat ini. Lainnya lagi bahkan berkeras bahwa marketing adalah pemborosan uang, menghambur hamburkan uang untuk sesuatu yang tidak penting dan tidak bermanfaat untuk bisnis, hanya mengurangi margin katanya. Apalagi saat mereka berpikir pengunjung sudah datang sendiri ke outlet tanpa kita harus promosi pasang iklan atau bikin program diskon misalnya.
Mereka baru pusing memikirkan marketing pada saat orang tidak lagi datang ke restonya, orang tidak lagi belanja di tokonya atau tidak lagi sekedar melihat lihat produknya. Namun pada saat itu biaya marketing dan promo rasanya sangat berat. Apalagi pada saat kondisi omzet sedang defisit. Masa jaya telah lewat berganti masa susah karena tidak pintar ‘menabung’ promo dan ‘memelihara’ pelanggan di masa jaya

Pada dasarnya setiap yang lahir pasti akan mati. Dalam bisnis, setiap produk dan merk yang lahir diciptakan, diterima pasar, disukai market dan tumbuh berkembang juga punya umur dan pasti sewaktu waktu akan mati, hilang ditelan zaman. Tidak lagi dibutuhkan orang, tidak lagi diingat orang karena telah digantikan oleh produk dan merk lain yang lebih disukai pelanggan. Hanya saja panjang umurnya ini sangat tergantung kepada pengelola usaha atau merk yang mengelola usahanya. Ada merek yang dari jaman nenek kita dulu pakai sampai sekarang kita punya anak saat ini juga masih pakai merek yang sama, seperti Lux, Pepsodent, Kijang. Tapi lebih banyak lagi merek yang rasanya baru kemarin kita dengar, tapi kalau kita sekarang cari di toko toko sudah hilang ditarik dari peredaran. “Product Life Cycle” pada setiap product ini berbeda beda.  Perhatikanlah, perusahaan besar saja yang dibidani oleh banyak karyawan professional kadang kadang tidak mampu menjaga merknya dapat bertahan dikenal untuk jangka waktu panjang, apalagi pengusaha kecil menengah yang hanya punya satu atau beberapa outlet lebih bisa dimaklumi. Tapi biarpun usaha kecil ataupun besar bukankah kita membuat usaha untuk langgeng dan menguntungkan? 
Bagaimana cara menjaga produk dan merek produk/ usaha kita agar panjang umur?
Selain service, salah satunya adalah dengan mempromosikan secara berkala baik brand maupun spesifikasi produk. Iklan media, billboard, brosur , voucher, program discount, kalender promo, baju brand, souvenir, sponsorship suatu event, dll adalah variasi cara agar produk dan brand kita dikenal secara luas dan jangka panjang. Dalam hal penerimaan panca indera, rumusnya sangat sederhana: buat sebanyak mungkin orang sering mendengar, sering melihat, sering membicarakan mengenai hal produk dan brand kita.  Tentunya mengenai hal yang baik baik dan bukan hal sebaliknya.
Untuk perusahaan besar apalagi berskala nasional , strategi promosi dan marketing komunikasi diupayakan dengan maksimal oleh department sendiri walaupun belum menjamin hasilnya. Tapi itu tetap harus dilakukan mengingat produk lain sejenis dari perusahaan kompetitor juga melakukan hal yang sama untuk bersaing merebut perhatian pelanggan. Yang harus diperhatikan untuk usaha kecil menengah adalah bagaimana dana yang terbatas bisa digunakan untuk promo yang efektif dan berpotensi didengar, dilihat, dibicarakan orang sebanyak banyaknya paling tidak di radius 2 km wilayah operasional  usaha dan untuk jangka waktu yang selama lamanya dengan membawa pesan pesan positif dan menarik tentang produk maupun merk kita.

2. Manajemen pribadi ‘one man show’
Setiap usaha kecil menengah paling tidak memiliki 5 – 40 orang karyawan yang bertugas menggerakan usaha sehingga berjalan sebagai sebuah operasional bisnis yang berkesinambungan. Keseluruhan karyawan tersebut memiliki posisi, tugas dan tanggung jawab sesuai kebutuhan. Tentu saja upahnya juga disesuaikan dengan tanggung jawabnya masing masing. Walaupun kadang dalam bisnis usaha kecil menengah tidak ada hirarki organisasi yang resmi tertulis dan disosialisasikan seperti antara divisi, antar department dan antar kepala seksi seperti pada perusahaan skala besar, tapi secara garis kerja dan koordinasi tetap harus jelas dan dipahami setiap karyawan yang ada. Tujuannya agar mereka merasa bekerja sesuai porsinya, dibayar sesuai tanggung jawabnya, tidak disalahkan hal yang bukan kewajibannya, ditegur dan diberi sanksi oleh pimpinan yang semestinya dan dihargai sesuai hasil kerjanya. Dengan perasaan bekerja positif seperti itu maka suasana kerja akan kondusif dan sangat berpengaruh terhadap output produk atau service yang akan diterima pelanggan. 

Kebanyakan usaha kecil menengah menerapkan ‘one man show’ dari pemiliknya atau orang yang dipercaya pemiliknya. Jika orang tersebut bersifat bijaksana, tegas, mempunyai dasar dasar kepemimpinan yang positif, cukup berpengalaman di bisnis dan berani mengambil tanggung jawab dan resiko sebagai bagian dari bisnis maka usaha bisa saja usaha berjalan dengan baik. Masalahnya jika usaha dikelola pribadi oleh karakter yang defensif, egois, merendahkan, menyalahkan, menyudutkan, sok pintar, tidak bisa menerima masukan, sok bossy, maka akan hancurlah usaha tersebut. Cirinya adalah tingkat pergantian karyawan di perusahaan cukup tinggi. Karyawan hanya betah bekerja 1 bulan – 3 bulan lalu mengundurkan diri, atau memang akhirnya terpancing untuk konfrontasi dengan pimpinan karena sering merasa tertekan dan stress. Kinerja perusahaan juga tidak berprogress, hanya jalan di tempat bahkan dari bulan ke bulan karyawan merasakan visi misinya semakin tidak jelas. Bisa dibayangkan dengan situasi seperti itu apa mungkin bisa menjalankan usaha dengan efesien dan terencana?


3. Usaha dipimpin oleh orang yang tidak tepat
Serahkan pada ahlinya! Banyak usaha skala kecil menengah yang di’wariskan’. Pewarisnya kadang bahkan sebenarnya tidak berminat terhadap jenis usaha yang dulunya dikelola orang tuanya, tidak memiliki latar belakang bidang bisnis yang sama atau memang tidak punya keinginan untuk belajar menambah pengetahuan di bidang usaha tersebut. Jika seseorang tidak memiliki ilmu atau pengalaman di bidang bisnis tertentu dan diminta untuk menjalankannya, maka satu satunya jalan adalah dia harus menunjuk / membayar seseorang yang mampu dan cocok untuk membantunya mengelola usaha dan disosialisasikan ke seluruh karyawan. Jika tidak dilakukan maka lagi lagi perusahaan menuju kearah kehancuran pelan pelan. Kadang rasa frustasi dan tidak percaya diri dari pemilik usaha yang diwariskan dari pendahulunya membuat dia jadi seperti sibuk dan repot untuk urusan hal hal yang sebenarnya tidak perlu dan tidak efektif. Sebagai pemimpin perusahaan dia dituntut harus mampu membangun perusahaan seperti pendahulunya, padahal dalam hati kecilnya dia tidak merasa yakin. Membuat aturan aturan yang tidak kondusif, membuat jadwal meeting berkepanjangan yang tidak efektif, mengambil keputusan keputusan yang bahkan merugikan perusahaan untuk jangka panjang, melewatkan peluang yang belum tentu bisa didapatkan kembali di lain waktu, membuat program marketing yang boros tetapi tidak tepat sasaran dan lain lain.

4. Pengelolaan keuangan perusahaan bercampur dengan keuangan pribadi
Uang adalah bahan bakar untuk menggerakan operasional perusahaan. Jika bahan bakar bercampur dengan bahan lain yang tidak senyawa maka bisa dibayangkan mesin pasti bermasalah dalam kinerjanya.  Bahayanya jika pemilik perusahaan merasa seluruh omzet yang didapat dari usaha adalah miliknya, dan perusahaan diberikan ‘jatah’ uang bulanan sesuai keperluan. Bukan pemilik mengambil ‘jatah’ nya dari kas perusahaan. Komposisinya kalau sudah begini jadi tidak ideal. Uang yang diambil masuk kantong pribadi lebih besar daripada dana yang dialokasikan untuk perusahaan. Padahal perusahaan adalah ‘mesin pembuat uang’, sedangkan pribadi pemilik adalah ‘pemakai uang’ . Uang yang dialokasikan untuk pemilik cenderung habis karena digunakan untuk hal hal yang tidak produktif oleh dirinya atau keluarganya bahkan oleh pihak lain yang tidak ada sangkut pautnya dengan perusahaan. Seharusnya, walaupun ini adalah usaha milik pribadi tetapi hirarki pengaturan keuangan perusahaan harus sesuai komposisinya, atau terjadi masalah perusahaan yang ‘kurang gizi’.

Yang lebih bahaya lagi jika keuangan perusahaan dipakai untuk membayar ‘hutang hutang pribadi’ , maka secara akutansi akan terjadi gali lubang tutup lubang. Dalam hal ini perusahaan akan bleeding ( krisis keuangan ) jika terjadi masalah dengan perencanaan income misalnya pendapatan harian yang tidak sesuai target atau keterlambatan penerimaan pembayaran dari sebuah project. Hal ini terjadi karena pengeluaran yang tidak produktif bahkan yang tidak berhubungan dengan perusahaan lebih besar dari pendapatan usaha yang mungkin didapat. Berhati hati mengelola keuangan adalah hal yang bijaksana, terutama dalam pengelolaan keuangan  UMKM.

5. Tidak siap mental untuk menjadi besar
Pada saat membangun usaha kecil menengah bagi sebagian orang mungkin awalnya tidak berharap terlalu muluk akan perkembangan usahanya. Cukuplah untuk memenuhi kebutuhan bulanan keluarga dan bayar gaji beberapa karyawan. Tapi dalam perkembangannya ternyata perusahaan maju pesat dan kini dalam waktu cukup singkat terbentang kesempatan memperbesar usaha untuk keuntungan yang lebih besar, misalnya memperbanyak cabang, melakukan ekspor produk, dll. Disini karakter dan mental pemilik usaha akan sangat menentukan apakah dia akan tetap merasa cukup dengan kondisinya sekarang atau berkeinginan meningkatkan bisnisnya ke tahap yang lebih tinggi lagi. Beberapa pengusaha sebetulnya tampak tidak siap secara mental untuk berkembang lebih besar. Sebagaimana diketahui semakin besar usaha, maka semakin besar modal, semakin besar resiko, semakin besar pesaing memperhitungkan strategi kita sebagai pesaing serius, juga semakin tinggi harapan pelanggan tehadap produk atau jasa perusahaan kita. Mental dan karakter pengusaha skala kecil menengah harus berkembang mengikuti skala usahanya jika perusahaan ingin lepas landas dengan halus dan terbang dengan stabil. Seluruh perangkat kerja perusahaan membutuhkan pembenahan. Mulai dari organisasi, skill karyawan, perangkat kerja, marketing strategi, standard service / produk sebagai output sampai mungkin waktu bersama keluarga yang bisa jadi lebih sempit. Bahkan jika yakin dengan progress profitnya sehingga mulai berani untuk berhutang terencana ke Bank untuk membesarkan perusahaan. Mungkin ini langkah yang cukup berisiko mengingat selama ini berusaha dengan menggunakan modal kerja cukup dari dana sendiri atau dukungan keluarga walaupun jumlahnya terbatas. Atau mungkin untuk menghemat biaya atau mendatangkan potensi pelanggan baru maka mulai memikirkan strategi kerjasama promo atau saling tukar pelanggan dengan berbagai pihak luar yang selama ini belum pernah dilakukan.
Sekali melangkah untuk menjadi besar, maka mundur kembali adalah suatu kesalahan karena akan banyak hal hal yang harus dikorbankan. Jika pemilik belum siap secara mental, maka sebaiknya cukup memelihara dan memperbaiki apa yang saat ini sudah ada dari segi kualitas, segi service maupun citra dari usaha yang telah ada sekarang. Setidaknya itu cukup menjaga agar pelanggan tetap merasa puas dan tidak lari ke produk/ brand lain walaupun mungkin kita hanya bisa menghasilkan produksi dalam jumlah terbatas tapi dengan kualitas terbaik. Dengan beberapa keunggulan point unik yang kita miliki dan penyesuaian performance produk bahkan kita bisa meningkatkan harga jual agar berkesan produk / service kita lebih eksklusif dan tidak pasaran. Margin yang didapat tentunya akan semakin besar. 
SEMANGAT SUKSES ( Mirza A.M.)