Sabtu, 11 Agustus 2012

KEKUATAN PENDEKATAN LANGSUNG

Menganalisa hasil pilgub DKI Jakarta, mari kita lihat korelasinya dalam sisi marketing. Tgl 11 Juli lalu, rakyat DKI Jakarta melakukan pilgub pemilihan DKI Jakarta 1. Didapat fakta yg menarik bahwa hasil survey beberapa lembaga survey berbeda jauh dengan hasil quick count. Menurut survey bahwa sudah hampir dipastikan pasangan Fauzi Bowo dan Nachrowi Ramli akan unggul jauh dibanding calon kandidat lainnya. Bahkan team sukses Foke berani mengumbar pilkada 1 putaran saja, yaitu kemenangan mutlak diatas 50% dimana kemenangan sudah dipastikan tidak perlu diadakan putaran pilkada lagi. Survey ini memang lebih banyak dianalisa dari data data sebelumnya yang bisa diambil sebagai sample. Padahal untuk urusan "trust", faktor X psycologis yang lebih banyak bergerak di lapangan dan tidak dimasukan sebagai parameter dalam survey.

Ternyata pasca pilgub disepanjang perhitungan suara system quick count menunjukan Jokowi Ahok unggul cukup signifikan dibanding 5 kandidat lainnya. Apa kira kira yang menyebabkan Jokowi dan Ahok "lebih menjual" dibanding kandidat lainnya? Padahal "iklan" Foke lebih jor joran. Apalagi sebagai incumbent, Foke tentunya punya rasa percaya diri yang sangat kuat di daerahnya sendiri karena pasti semua warga DKI Jakarta kenal dirinya. Apa lalu kita bisa berpikir kalau begitu brand awareness tidak cukup untuk mengarahkan rakyat DKI Jakarta untuk mencoblos Foke.

Jokowi dikenal sebagai pemimpin kota Surakarta yang juga dinobatkan sebagai  walikota terbaik. Sederet prestasi anugrah penghargaan skala nasional dan international jg sudah disematkan untuk performance Jokowi. Penghargaan itu juga direlevansikan dengan kecintaan rakyat Solo kepada Jokowi, itu membuktikan bahwa Jokowi bukan hanya bekerja di sektor pencitraan, tapi langsung ke aplikasi akar rumput. Bukti nyata yang dirasakan langsung oleh warga kota Solo dengan adanya perubahan skala kota ke arah perbaikan daripada periode walikota sebelumnya.

Jokowi mungkin baru 4 bulan betul betul fokus di kampanye di DKI Jakarta, tapi itupun masih belum terlalu "wah" dibanding strategi team sukses Foke. Strategi kampanye Jokowi Ahok lebih langsung mendekatkan diri ke rakyat pemilih. Berkunjung ke masyarakat kelas bawah,kelas pekerja fisik di perkampungan DKI,rumah tangga,dan semacamnya dimana kelas masyarakat tersebut lebih mengena jika didekati secara "service konvensional", yaitu salam, sapa, senyum. Berkumpul dengan tidak ada jarak sosial, menepuk pundak rakyat dan memeluk manula. Pendekatan yang lebih menyentuh sisi emosional rakyat dan diapresiasi tinggi oleh rakyat.

Sedangkan iklan iklan koran, media Televisi, radio, serta pemaparan strategi dan janji janji yang diselenggarakan station TV antar sesama kandidat akan lebih diserap pemilih level menengah atas. 

Diluar rakyat DKI Jakarta yang melaksanakan haknya, ada  32% masyarakat DKI Jakarta yang notabene kelas menengah atas hanya ikut keputusan final saja dengan memutuskan Golput atau tidak memilih. Mereka lebih memilih memanfaatkan hari libur sehari di Puncak atau Bandung bersama keluarga. Entah karena mereka sudah tidak peduli, tidak ketemu pilihan yang cocok atau karena berpikir sama saja untuk DKI Jakarta siapa pemimpin terpilihnya. Yang bisa merubah keadaan jika ternyata profile Golput ini adalah pemilih incumbent yang tadinya sudah merasa yakin bahwa DKI 1 saat ini akan kembali terpilih. Untuk putaran ke 2 ini mereka bisa berbalik rematch mendukung Foke lagi. Atau sedang terperangah melihat kenyataan bahwa incumbent ternyata bisa kalah juga. Tapi saat ini masyarakat sudah semakin cerdas. Buktinya Faisal Basri yang calon independen bisa lebih unggul dari calon partai politik yang sudah besar.

Pada komposisinya pemilih kelas grass root ini mencakup 60% dibanding 40% pemilih kelas menengah atas. Itupun 70% didalamnya mungkin memang pemilih yang sudah menentukan pilihan kandidat mana yang akan dicoblosnya. Sisanya adalah massa mengambang. Kira kira 30% massa mengambang ini bisa memilih siapa saja di menit menit terakhir. Kalaupun akhirnya Jokowi dan Ahok menjadi terdepan di hasil Pilkada DKI ini diindikasi banyaknya massa mengambang yang detik detik di kotak pemilih mencoblos Jokowi Ahok berdasarkan informasi via social media mengenai keberhasilan Jokowi Ahok di kota Solo, yang hal itu "secara nurani" dimaknai sangat dalam oleh momentum Jokowi, sehingga akal sehatnya seketika memerintahkan tangannya mencoblos Jokowi Ahok. Walaupun secara kenyataan mereka sebagai penduduk berKTP DKI Jakarta belum pernah merasakan langsung "kesaktian" Jokowi seperti yang dirasakan warga kota Solo.
   
Goal dari proses kampanye dan pilkada ini adalah menjual sebanyak banyaknya suara kepada rakyat DKI. Semakin banyak pemilih "membeli" janji dan komitmen dari calon Gubernur, maka dialah yang menang. Belajar dari pilkada DKI ini, massa di dasar piramida yang profilenya lebih merakyat, mengapresiasi aplikasi nyata yang bisa dirasakan lebih bernilai dibanding paparan strategi. Strategi yang dilakukan Jokowi Ahok sudah tepat dan jangan salah, mereka tidak mulai hanya 4 bulan kampanye tapi sesungguhnya sudah selama memimpin Solo. Prestasi Jokowi yang dirasakan masyarakat Solo terpublikasi secara efektif ke seluruh kota di Indonesia, terutama di DKI Jakarta, kota dimana Jokowi mencalonkan diri sebagai Gubernur. Apalagi belum lama ini ada mobil Esemka yang awal tahun ini  sering diekspose di media massa dan mengikat simpati sebagai momentum Jokowi di masyarakat kelas menengah. 

Sebaliknya prestasi Fauzi Bowo di DKI Jakarta walaupun bukannya tidak nyata tapi masih on going progress dan dirasakan cenderung "kurang berpihak" kepada kelas akar rumput. Banyak sekali rakyat akar rumput DKI Jakarta selama periode Fauzi Bowo menjadi Gubernur tidak merasakan perbaikan kesejahteraan dan perbaikan hidup. Rakyat menengah frustasi dengan kemacetan yang makin menggila.
Ini seperti bom waktu, karena justru pemilih terbanyak rakyat DKI ada di kelas akar rumput ini. Team sukses Foke sibuk beriklan di sektor media massa yang diserap oleh segmen menengah atas. Sedangkan justru warga kelas menengah atas yang tingkat edukasinya cukup akan lebih kritis untuk memilih atas dasar logika dan penilaian sendiri tanpa harus merefer ke media massa dimana kandidat Gubernur jor joran beriklan. 
Dalam marketing, profile pemilih ini bisa kita anggap target market yang biasa kita hujani dengan iklan dan promo dari produk kita. Maka itu perlunya segmentasi pasar bagaimana kita menentukan profile target market dan menentukan strategi marketing yang tepat. Tepat caranya dan effesien biayanya. Tapi sebuah "produk mass market yang super" adalah yang bisa diserap sebanyak mungkin varian segmen pasar.

Dalam bisnis, misalnya jika kita menjual produk hiburan keluarga yang target pasarnya sebetulnya adalah mass segmen. Persaingan di bisnis mass market yang sedang trend saat ini seperti "karaoke keluarga". Manajemen outlet karaoke keluarga merasa tidak perlu terlalu banyak melakukan promo di media massa yang diserap level masyarakat menengah atas. Mereka di level menengah atas ini sudah tahu karaoke keluarga, tidak perlu diedukasi lagi mengenai karaoke keluarga, punya uang lebih buat berkaraoke, punya standard sendiri mengenai kepuasan berkaraoke dan sepenuhnya pilihan brand karaoke keluarga  yang dibeli adalah atas keputusan mereka sendiri. Kendala mereka berkaraoke hanya dari ketersediaan waktu luang berkaraoke diluar kesibukan rutinitasnya. Selebihnya mereka aktif memilih sendiri dimana mereka akan berkaraoke berdasarkan banyak source yang dianggap bernilai bagi mereka, seperti referensi relasi, influence dari komunitas sosial mereka, pengalaman service excellent di kunjungan waktu sebelumnya,dan kelihatannya sama sekali bukan karena iklan, promo atau brochure yang dilakukan manajemen outlet karaoke. Bahkan bukan karena Iconnya.

Justru manajemen karaoke keluarga lebih keras berusaha untuk merebut perhatian mass segmen dan menjual room type small dan medium kepada level mass market. Room small dan medium juga tetap dijaga kualitas kenyamanan interior dan sound systemnya, bukan karena harga murah maka lantas diturunkan kualitas performancenya.
"Kampanye" dilakukan mulai penetapan harga room charge dan menu yang bersaing antar type room sejenis dari brand lain, sampai compliment, bonus, undian untuk segmen pasar ini. Hal ini harus dilakukan karena sebagai "karaoke keluarga" tetap karaoke ini didesign untuk dikunjungi sebanyak mungkin pelanggan dari 80% dasar piramida yang berada di level ekonomi menengah bawah. Semakin banyak tamu, semakin besar omzet dan semakin sering kunjungan walaupun nilai transaksinya kecil kecil saja, dibanding hanya berharap kunjungan 20% tamu menengah atas yang walaupun nilai transaksinya besar tapi kadang kadang saja datangnya dan bahkan "hilang berlibur" jika ada waktu libur kerja diatas 2 hari. Kami manajemen karaoke keluarga berjuang jauh lebih keras untuk merebut perhatian pasar akar rumput kami, dibanding dengan merebut perhatian segmen pasar menengah atas. Pada akhirnya "secara nurani" pasar akan memilih brand yang bisa menyentuh hati mereka,melibatkan emosional faktor yang membangkitkan loyalitas, bukan hanya sekedar menjadi pasar akar rumput ini sebagai obyek pasar Maka gunakanlah strategi pendekatan ala Jokowi. 

Saat ini citra Jokowi sudah hampir mendekatkan dirinya sebagai Icon pemimpin kota yang menjadi panutan. Walaupun Jokowi dipilih bukan karena beliau sudah menjadi Icon. Jadi jika pasca pemilihan ini Jokowi tidak menjaga citranya bisa diaplikasikan dan dirasakan memberikan perubahan perbaikan skala kota megapolitan yang jauh lebih besar daripada kota Solo kepada rakyat DKI Jakarta, maka Jokowi Ahok pun niscaya akan ditinggalkan rakyat DKI Jakarta di pemilihan Gubernur DKI Jakarta periode berikutnya. Saya tidak sedang menyatakan simpati kepada Jokowi ataupun Fauzi Bowo, karena saya hanya mengajak pembaca mengkorelasikannya dengan wacana marketing yang berguna untuk bisnis Anda. Terlebih saya bukan warga berKTP DKI Jakarta.

Maka dalam bisnispun jangan pernah terlena kalaupun brand dan bisnis Anda sudah menjadi trendsetter bagi pelanggan, karena brand  adalah "tumbuh", bisa tumbuh besar , berkembang atau kalau tidak dirawat dan dijaga dan selalu innovatif kreatif sebaliknya bisa sakit, makin layu dan mati, ditinggal pelanggannya. Karena pesaing lain juga bebernah dan tumbuh. Kompetisi dalam setiap aspek kehidupan selalu ada. Bukan hanya kompetisi di PilGub, tapi sejatinya selalu terjadi kompetisi di bisnis. Bahkan jangan sampai brand Anda akhirnya dikenal sebagai brand besar yang ternyata memberi pengalaman kekecewaan kepada pelanggan. SEMANGAT SUKSES (Mirza A. Muthi)


KEKUATAN PENDEKATAN LANGSUNG

Menganalisa hasil pilgub DKI Jakarta, mari kita lihat korelasinya dalam sisi marketing. Tgl 11 Juli lalu, rakyat DKI Jakarta melakukan pilgub pemilihan DKI Jakarta 1. Didapat fakta yg menarik bahwa hasil survey beberapa lembaga survey berbeda jauh dengan hasil quick count. Menurut survey bahwa sudah hampir dipastikan pasangan Fauzi Bowo dan Nachrowi Ramli akan unggul jauh dibanding calon kandidat lainnya. Bahkan team sukses Foke berani mengumbar pilkada 1 putaran saja, yaitu kemenangan mutlak diatas 50% dimana kemenangan sudah dipastikan tidak perlu diadakan putaran pilkada lagi. Survey ini memang lebih banyak dianalisa dari data data sebelumnya yang bisa diambil sebagai sample. Padahal untuk urusan "trust", faktor X psycologis yang lebih banyak bergerak di lapangan dan tidak dimasukan sebagai parameter dalam survey.

Ternyata pasca pilgub disepanjang perhitungan suara system quick count menunjukan Jokowi Ahok unggul cukup signifikan dibanding 5 kandidat lainnya. Apa kira kira yang menyebabkan Jokowi dan Ahok "lebih menjual" dibanding kandidat lainnya? Padahal "iklan" Foke lebih jor joran. Apalagi sebagai incumbent, Foke tentunya punya rasa percaya diri yang sangat kuat di daerahnya sendiri karena pasti semua warga DKI Jakarta kenal dirinya. Apa lalu kita bisa berpikir kalau begitu brand awareness tidak cukup untuk mengarahkan rakyat DKI Jakarta untuk mencoblos Foke.

Jokowi dikenal sebagai pemimpin kota Surakarta yang juga dinobatkan sebagai  walikota terbaik. Sederet prestasi anugrah penghargaan skala nasional dan international jg sudah disematkan untuk performance Jokowi. Penghargaan itu juga direlevansikan dengan kecintaan rakyat Solo kepada Jokowi, itu membuktikan bahwa Jokowi bukan hanya bekerja di sektor pencitraan, tapi langsung ke aplikasi akar rumput. Bukti nyata yang dirasakan langsung oleh warga kota Solo dengan adanya perubahan skala kota ke arah perbaikan daripada periode walikota sebelumnya.

Jokowi mungkin baru 4 bulan betul betul fokus di kampanye di DKI Jakarta, tapi itupun masih belum terlalu "wah" dibanding strategi team sukses Foke. Strategi kampanye Jokowi Ahok lebih langsung mendekatkan diri ke rakyat pemilih. Berkunjung ke masyarakat kelas bawah,kelas pekerja fisik di perkampungan DKI,rumah tangga,dan semacamnya dimana kelas masyarakat tersebut lebih mengena jika didekati secara "service konvensional", yaitu salam, sapa, senyum. Berkumpul dengan tidak ada jarak sosial, menepuk pundak rakyat dan memeluk manula. Pendekatan yang lebih menyentuh sisi emosional rakyat dan diapresiasi tinggi oleh rakyat.

Sedangkan iklan iklan koran, media Televisi, radio, serta pemaparan strategi dan janji janji yang diselenggarakan station TV antar sesama kandidat akan lebih diserap pemilih level menengah atas. 

Diluar rakyat DKI Jakarta yang melaksanakan haknya, ada  32% masyarakat DKI Jakarta yang notabene kelas menengah atas hanya ikut keputusan final saja dengan memutuskan Golput atau tidak memilih. Mereka lebih memilih memanfaatkan hari libur sehari di Puncak atau Bandung bersama keluarga. Entah karena mereka sudah tidak peduli, tidak ketemu pilihan yang cocok atau karena berpikir sama saja untuk DKI Jakarta siapa pemimpin terpilihnya. Yang bisa merubah keadaan jika ternyata profile Golput ini adalah pemilih incumbent yang tadinya sudah merasa yakin bahwa DKI 1 saat ini akan kembali terpilih. Untuk putaran ke 2 ini mereka bisa berbalik rematch mendukung Foke lagi. Atau sedang terperangah melihat kenyataan bahwa incumbent ternyata bisa kalah juga. Tapi saat ini masyarakat sudah semakin cerdas. Buktinya Faisal Basri yang calon independen bisa lebih unggul dari calon partai politik yang sudah besar.

Pada komposisinya pemilih kelas grass root ini mencakup 60% dibanding 40% pemilih kelas menengah atas. Itupun 70% didalamnya mungkin memang pemilih yang sudah menentukan pilihan kandidat mana yang akan dicoblosnya. Sisanya adalah massa mengambang. Kira kira 30% massa mengambang ini bisa memilih siapa saja di menit menit terakhir. Kalaupun akhirnya Jokowi dan Ahok menjadi terdepan di hasil Pilkada DKI ini diindikasi banyaknya massa mengambang yang detik detik di kotak pemilih mencoblos Jokowi Ahok berdasarkan informasi via social media mengenai keberhasilan Jokowi Ahok di kota Solo, yang hal itu "secara nurani" dimaknai sangat dalam oleh momentum Jokowi, sehingga akal sehatnya seketika memerintahkan tangannya mencoblos Jokowi Ahok. Walaupun secara kenyataan mereka sebagai penduduk berKTP DKI Jakarta belum pernah merasakan langsung "kesaktian" Jokowi seperti yang dirasakan warga kota Solo.
   
Goal dari proses kampanye dan pilkada ini adalah menjual sebanyak banyaknya suara kepada rakyat DKI. Semakin banyak pemilih "membeli" janji dan komitmen dari calon Gubernur, maka dialah yang menang. Belajar dari pilkada DKI ini, massa di dasar piramida yang profilenya lebih merakyat, mengapresiasi aplikasi nyata yang bisa dirasakan lebih bernilai dibanding paparan strategi. Strategi yang dilakukan Jokowi Ahok sudah tepat dan jangan salah, mereka tidak mulai hanya 4 bulan kampanye tapi sesungguhnya sudah selama memimpin Solo. Prestasi Jokowi yang dirasakan masyarakat Solo terpublikasi secara efektif ke seluruh kota di Indonesia, terutama di DKI Jakarta, kota dimana Jokowi mencalonkan diri sebagai Gubernur. Apalagi belum lama ini ada mobil Esemka yang awal tahun ini  sering diekspose di media massa dan mengikat simpati sebagai momentum Jokowi di masyarakat kelas menengah. 

Sebaliknya prestasi Fauzi Bowo di DKI Jakarta walaupun bukannya tidak nyata tapi masih on going progress dan dirasakan cenderung "kurang berpihak" kepada kelas akar rumput. Banyak sekali rakyat akar rumput DKI Jakarta selama periode Fauzi Bowo menjadi Gubernur tidak merasakan perbaikan kesejahteraan dan perbaikan hidup. Rakyat menengah frustasi dengan kemacetan yang makin menggila.
Ini seperti bom waktu, karena justru pemilih terbanyak rakyat DKI ada di kelas akar rumput ini. Team sukses Foke sibuk beriklan di sektor media massa yang diserap oleh segmen menengah atas. Sedangkan justru warga kelas menengah atas yang tingkat edukasinya cukup akan lebih kritis untuk memilih atas dasar logika dan penilaian sendiri tanpa harus merefer ke media massa dimana kandidat Gubernur jor joran beriklan. 
Dalam marketing, profile pemilih ini bisa kita anggap target market yang biasa kita hujani dengan iklan dan promo dari produk kita. Maka itu perlunya segmentasi pasar bagaimana kita menentukan profile target market dan menentukan strategi marketing yang tepat. Tepat caranya dan effesien biayanya. Tapi sebuah "produk mass market yang super" adalah yang bisa diserap sebanyak mungkin varian segmen pasar.

Dalam bisnis, misalnya jika kita menjual produk hiburan keluarga yang target pasarnya sebetulnya adalah mass segmen. Persaingan di bisnis mass market yang sedang trend saat ini seperti "karaoke keluarga". Manajemen outlet karaoke keluarga merasa tidak perlu terlalu banyak melakukan promo di media massa yang diserap level masyarakat menengah atas. Mereka di level menengah atas ini sudah tahu karaoke keluarga, tidak perlu diedukasi lagi mengenai karaoke keluarga, punya uang lebih buat berkaraoke, punya standard sendiri mengenai kepuasan berkaraoke dan sepenuhnya pilihan brand karaoke keluarga  yang dibeli adalah atas keputusan mereka sendiri. Kendala mereka berkaraoke hanya dari ketersediaan waktu luang berkaraoke diluar kesibukan rutinitasnya. Selebihnya mereka aktif memilih sendiri dimana mereka akan berkaraoke berdasarkan banyak source yang dianggap bernilai bagi mereka, seperti referensi relasi, influence dari komunitas sosial mereka, pengalaman service excellent di kunjungan waktu sebelumnya,dan kelihatannya sama sekali bukan karena iklan, promo atau brochure yang dilakukan manajemen outlet karaoke. Bahkan bukan karena Iconnya.

Justru manajemen karaoke keluarga lebih keras berusaha untuk merebut perhatian mass segmen dan menjual room type small dan medium kepada level mass market. Room small dan medium juga tetap dijaga kualitas kenyamanan interior dan sound systemnya, bukan karena harga murah maka lantas diturunkan kualitas performancenya.
"Kampanye" dilakukan mulai penetapan harga room charge dan menu yang bersaing antar type room sejenis dari brand lain, sampai compliment, bonus, undian untuk segmen pasar ini. Hal ini harus dilakukan karena sebagai "karaoke keluarga" tetap karaoke ini didesign untuk dikunjungi sebanyak mungkin pelanggan dari 80% dasar piramida yang berada di level ekonomi menengah bawah. Semakin banyak tamu, semakin besar omzet dan semakin sering kunjungan walaupun nilai transaksinya kecil kecil saja, dibanding hanya berharap kunjungan 20% tamu menengah atas yang walaupun nilai transaksinya besar tapi kadang kadang saja datangnya dan bahkan "hilang berlibur" jika ada waktu libur kerja diatas 2 hari. Kami manajemen karaoke keluarga berjuang jauh lebih keras untuk merebut perhatian pasar akar rumput kami, dibanding dengan merebut perhatian segmen pasar menengah atas. Pada akhirnya "secara nurani" pasar akan memilih brand yang bisa menyentuh hati mereka,melibatkan emosional faktor yang membangkitkan loyalitas, bukan hanya sekedar menjadi pasar akar rumput ini sebagai obyek pasar Maka gunakanlah strategi pendekatan ala Jokowi. 

Saat ini citra Jokowi sudah hampir mendekatkan dirinya sebagai Icon pemimpin kota yang menjadi panutan. Walaupun Jokowi dipilih bukan karena beliau sudah menjadi Icon. Jadi jika pasca pemilihan ini Jokowi tidak menjaga citranya bisa diaplikasikan dan dirasakan memberikan perubahan perbaikan skala kota megapolitan yang jauh lebih besar daripada kota Solo kepada rakyat DKI Jakarta, maka Jokowi Ahok pun niscaya akan ditinggalkan rakyat DKI Jakarta di pemilihan Gubernur DKI Jakarta periode berikutnya. Saya tidak sedang menyatakan simpati kepada Jokowi ataupun Fauzi Bowo, karena saya hanya mengajak pembaca mengkorelasikannya dengan wacana marketing yang berguna untuk bisnis Anda. Terlebih saya bukan warga berKTP DKI Jakarta.

Maka dalam bisnispun jangan pernah terlena kalaupun brand dan bisnis Anda sudah menjadi trendsetter bagi pelanggan, karena brand  adalah "tumbuh", bisa tumbuh besar , berkembang atau kalau tidak dirawat dan dijaga dan selalu innovatif kreatif sebaliknya bisa sakit, makin layu dan mati, ditinggal pelanggannya. Karena pesaing lain juga bebernah dan tumbuh. Kompetisi dalam setiap aspek kehidupan selalu ada. Bukan hanya kompetisi di PilGub, tapi sejatinya selalu terjadi kompetisi di bisnis. Bahkan jangan sampai brand Anda akhirnya dikenal sebagai brand besar yang ternyata memberi pengalaman kekecewaan kepada pelanggan. SEMANGAT SUKSES (Mirza A. Muthi)

Sabtu, 04 Agustus 2012

SEDEKAH KUNCI SEGALA PINTU REJEKI

Di bulan suci Ramadhan ini cobalah bersedekah lebih baik. Apa keuntungan bersedekah? Ada kalanya kita yang berniat menjadi pengusaha atau calon entepreneur seperti menemui jalan buntu dimana mana. Sudah usaha ini gagal, usaha itu bangkrut, sebentar ketipu orang, lalu hutang seperti sudah menumpuk dan kita dikejar kejar debt collector. Masalah saja yang datang, kapan keberhasilan dan kesuksesan akan datang? Rejeki itu kadang seperti teka teki. Dicari menjauh tapi tidak berniat mencari bisa tahu tahu datang sendiri. Dia akan menemukan jodohnya pada orang orang yang tepat

Bagaimana agar rejeki dan kesuksesan itu datang kepada kita? 
Berkali kali saya ditanya, apa kunci sukses menjadi pengusaha. Saya sendiri belum merasa. sangat sukses. Tapi paling tidak saya sudah menjadi pengusaha dan sedang berprogress. Saya sudah buktikan keajaiban sedekah. Maka berkali kali ditanya kunnci sukses menjadi pengusaha, saya jawab tetap jawaban kuncinya ada di SEDEKAH. Dengan berbagi, memberi, empati , beramal atau apapun sebutannya insya ALLAH rejeki yang baik akan datang. Memang bersedekah tidak berarti melulu uang, bisa nasihat, pikiran, bantuan akses. Tapi apa yang bisa kita nasihatkan dari buah pikiran kita saat itu, sedangkan kita sendiri juga sangat butuh saran untuk keluar dari masalah. Bersedekahlah diawal dengan uang dan harta bendamu, walaupun tidak harus besar. Anda sangat menyayangi uang bukan? Jika kita berkorban dari apa yang sangat kita sayangi, maka kita akan diberil lebih banyak. Semampunya saja, tapi lakukan, karena ini ujian. Pada saat kita sangat mebutuhkan uang tapi kita malah iklas membagi sebagiannya untuk orang yang lebih membutuhkannya. Alam semesta tidak diam, ALLAH SWT punya sistem matematika sendiri untuk apa pengeluaran yang sudah dilakukan umatnya. Bukan makin banyak keluar uang yang disedekahkan maka malah makin sedikit uang yang tersisa.

Bersedekah berarti kita membukakan pintu rejeki kepada orang orang yang sangat membutuhkan. Orang tersebut akan sangat bersyukur dan memanjatkan doa syukurnya sekaligus doa bagi kita kepada sang pencipta. Semakin banyak kita disebut dalam doa doa orang orang yang kita bantu, walaupun orang tersebut juga tidak mendoakan kita tapi setiap amal kebaikan ALLAH SWT pasti mencatat dan membalas berkali lipat, itulah pada saatnya nanti kita akan disiapkan pintu rejeki bagi kita.

Ini seperti kita terus berputar putar dalam ruangan besar berbentuk bola. Setahun yang lalu rasanya kita sudah ke pintu A tapi belum ada yang cocok kuncinya untuk membuka pintu rejekinya. Sambil terus beramal, bersedekah, kita terus berputar mengumpulkan anak kunci dan mampir di pintu B, C, kadang sebulan kemudian seperti kembali lagi ke pintu A, belum juga ketemu pintunya yang cocok dengan kuncinya. Jangan berhenti bersedekah, terus kumpulkan anak anak kunci lainnya sambil terus berputar di bulan bulan berikutnya berusaha mencari kunci dan pintu rejeki yang cocok. Sudah berputar putar sampai di pintu Z,kembali lagi ke pintu G, H, terus bersedekah dan berputar jangan berhenti, kadang bisa tahunan. Baru lusa lalu Anda mampir di pintu yang sama belum ada pintu rejeki, akhirnya hari ini Anda ketemu pintu rejeki di pintu C. Kunci Anda ternyata sudah ada yang bisa membuka pintu ini. Padahal setahun yang lalu di pintu C ini belum cocok kunci dengan pintunya. Alhamdulillah. Ini seperti Anda sudah  memegang anak kuncinya dan mencoba mencari pintu yang tepat yang bisa dibuka dengan kunci tersebut. Dengan masuk ke pintu di C ternyata kita dapat kunci lain lagi untuk membuka pintu A, B dan D lagi.

Bagaimana jadinya jika Anda tidak memiliki kunci itu? Dan jangan salah persepsi, pintu itu jika bisa dibuka pun bukan berarti Anda menemukan uang langsung di hadapan Anda. Ini bukan seperti "harta karun" dimana Anda membuka peti dan terlihat timbunan emas permata dan koin koin uang didalamnya. Anda khan bukan bajak laut. Pintu rejeki itu seperti membuka pintu demi pintu agar terbuka jalan untuk bisa sampai ke Pintu Rejeki seseungguhnya. Mulai misalnya dari bertemu teman lama yang bisa memberikan pencerahan, lalu ketemu kawan lain yang bisa memberikan akses pekerjaan, maka bekerjalah dulu selama sekian tahun untuk menimba ilmu dan pengalaman lalu mengambil manfaat lebih dari status karyawan tersebut. Seiriing dari pergaulan yang lebih luas dan wawasan yang bertambah lalu pintu yang kita buka selanjutnya adalah perasaan terbukanya pikiran kita. Kok rasanya tahun ini otak Anda jauh lebih cemerlang dan ide ide usaha terus saja terbuka padahal di tahun sebelumnya otak rasanya buntu. Itu rejeki bagus dan nikmati saja. Biarkan pikiran Anda menjelajah semua kemungkinan usaha. Selanjutnya lalu pintu bertemu investor yang menawarkan modalnya terbuka,  dilanjutkan pintu kesempatan terbuka untuk jalan yang makin lebar saat beretemu kawan kawan yang se-misi se-visi dan punya kompetensi dalam bermitra membangun usaha, tahu tahu terbuka pintu lagi dari orang yang butuh bantuan kita untuk mengerjakan sebuah proyek, dari proyek pertama terbuka lagi pintu untuk kesempatan lebih dikenal secara luas mengerjakan proyek proyek lain, selanjutnya pintu rejeki yang lebih lebar lagi menuju jalan utama kemakmuran terbuka dengan terus berdatangannya proyek dari banyak client. Bisa menyewa lokasi usaha dengan harga sewa murah. Seakan akan semua dimudahkan jalannya. Kita pun mantap untuk membuka usaha sendiri dengan prospek client yang sudah tergambar jelas di depan.. Begitulah skema pintu rejeki. Kita punya kuncinya yaitu SEDEKAH, nanti ALLAH akan berikan kunci kunci lainnya dan siapkan pintu pintunya untuk mengarahkan kita ke jalan menuju gudang rejeki yang tepat untuk kita buka pada waktunya yang juga tepat juga..  Jangan menyerah kepada waktu.

Kenapa tidak langsung kita bersedekah besoknya kita dapat pintu rejekinya? Bukan ALLAH tidak memberi rejeki segera setelah kita berusaha. Itu pikiran kita, tapi mungkin menurut ALLAH kita belum siap secara mental dan skill untuk menerima rejeki besar. Jika Anda baru punya gelas kapasitas 1 liter, dan diberi air 5 liter, maka pasti akan terbuang sia sia 4 liter. Artinya Anda belum punya gelas yang cukup untuk menerima seluruh rejeki yang ALLAH akan berikan. Usahakan dulu gelas yang lebih besar agar siap. Jika secara mental Anda tidak siap, maka mudah saja menghabiskan uang kaget Rp. 100 juta dengan konsumtif belanja barang ini itu yang tidak perlu dan akhirnya Anda menyesal setelah uangnya habis tidak berguna. Lain halnya jika Anda secara mental dan skill sudah siap. Uang Rp. 100jt bisa Anda usahakan sehingga tahun berikutnya bisa berkembang menjadi Rp. 1 Milyar. Jadi jangan pernah ragu soal waktu, ALLAH yang memiliki waktu dan maha tahu kapan Anda siap menerima rejeki. Tugas Anda adalah menyiapkan mental, kemampuan diri, pengetahuan wawasan, jaringan komunitas yang tepat dan Anda tahu arah tujuan usaha dan hidup Anda, sehingga saat rejeki itu datang maka Anda akan siap. Bukalah pintu pintu rejeki Anda secara bertahap dan terarah.

Perbaiki hubungan dengan orang tua, sesama manusia dan hubungan dengan sang Pencipta Alam Semesta yang akan memilihkan pintu pintu rejeki yang Anda bisa buka.. Selama Anda menjadi pengusaha juga tetap jangan berhenti bersedekah, agar dijaga kelanggengan usaha Anda, dimudahkan usahanya, diarahkan dan dibukakan pikiran Anda untuk terus bisa meningkatkan usaha.

Sedekah juga menjaga "kebersihan rejeki"  apa yang kita dapat Orang bilang rejeki yang haram lebih mudah dicari daripada rejeki yang halal. Memang betul, tapi dalam konsep hidup kita, semua ada pertanggung jawabannya pada saat umur kita di dunia usai. Juga ada karmanya selama anak keturunan kita masih hidup di dunia. Hidup adalah pilihan. Kadang di saat yang sama dibukakan kita 2 pintu untuk cara yang susah dan lama tapi berkah dan halal. Atau pilih pintu lainnya yang cepat, mudah kerjanya tapi haram. Setiap pilihan ada konsekuensinya.

Jika kita bersedekah, insya ALLAH akan dipilihkan jalan rejeki yang baik dan halal untuk bisa kita ambil.  Rejekinya misalnya melalui ditetapkannya hati kita menjadi pengusaha walaupun merintis dari pengusaha kecil. Jangan lupa, menjadi pedagang atau pengusaha itu adalah pekerjaan mulia. Jangan malu mulai menjadi pedagang atau pengusaha kecil walaupun harus berpeluh keringat atau bekerja berat. Beberapa orang atau keluarga lain yang bisa hidup dengan kita mempekerjakan karyawan dengan gaji dan bayaran yang layak. Beda jika kita jadi karyawan dimana kita bekerja hanya menghidupi diiri sendiri dan keluarga..

Sedekah membersihkan rejeki yang kita dapat dan meluruskan niat kita dalam berusaha. Jangan lupa, Dunia dan Akhirat adalah tujuan kita semua. Selama di dunia, kita punya nama baik diri dan keluarga yang harus kita jaga agar setelah meninggal nanti nama kita tetap dikenang dalam kesan positif. Itulah kesempurnaan hidup yang kita cari. Amin.


SEMANGAT SUKSES (Mirza A. Muthi)