Kamis, 01 September 2016

MEMBERI UNTUK MENDAPATKAN LEBIH

Memberi, bukan sesuatu pekerjaan yang sia sia atau buang buang uang. Kita yang sudah  cape bekerja mencari dan mengumpulkan uang, tapi kenapa harus dibagi bagi kepada orang lain, bahkan untuk orang yang kita tidak kenal pula. Ingatlah, agar semua berjalan lancar maka harus diyakini bahwa semua yang kita lakukan harus berjalan seperti apa yang diperintahkan oleh Sang Maha Pencipta. Memberi menjadi urusan manusia karena itu yang diajarkan dan dicontohkan oleh para Nabi dan sudah diperintahkan oleh Tuhan. Allah SWT memberi banyak kepada umatnya, bahkan jika kita gunakan lautan sebagai tinta untuk menulis apa yang sudah kita terima dari Allah SWT, maka tidak akan pernah cukup. Maka manusia juga sewajarnya dan wajib memberi kepada sesama manusia, membangun hubungan yang baik antar yang punya kepada yang butuh, antar kaya kepada yang miskin, yang pintar kepada yang awam.

Tugas manusia kepada manusia lainnya adalah kepedulian, dan semakin sering kita melakukan pekerjaan tsb, maka semakin banyak berkah dan amal ibadah dari Allah SWT. Jadikan memberi dan peduli dengan niat iklas dan membantu sebagai  kebiasaan. Maka ini akan membuat Anda jadi manusia yang lebih beruntung karena ada energi semesta mengatur karma. Itu sudah jadi ketentuan Allah SWT yang mengatur semesta dan seluruh energinya. Bagi mereka yang banyak memberi dan membantu orang lain, maka niscaya hidupnya juga akan banyak dibantu oleh orang lain. Rantai lingkaran energi kebaikan.

Mungkin kita bisa menilai ada seseorang yang beruntung. Hidupnya sangat Indah, dari keluarga kaya, muda kaya raya, terkenal, menua dengan makmur dan meninggal dengan dikenang orang. Banyak rahasia Tuhan yang mungkin tidak kita pahami,  misal kenapa sebagian orang tampak hidupnya sangat mudah dan menyenangkan dan sebagian besar seperti terbanting terseret dalam penderitaan.  Allah memberi gambaran yang jelas dalam kehidupan agar bisa dijadikan contoh dan pelajaran.  Oklah ini bisa jadi terlalu sempurna. Kita ambil hal yang sederhana, misal saat yang lain susah mendapat pekerjaan, maka dia seperti mudah mendapatkan panggilan kerja. Di tempat kerja karir kawan kawan lain susah berkembang tapi dia cepat meningkat posisi dan jabatan sehingga gajipun naik berlipat jauh lebih besar dari kawan sekantor seangkatan. Jangan Anda sekedar menilai dia dari kompetensi kerja yang dia tampilkan di tempat kerja. Bagi mereka yang punya "hobby" memberi dan peduli biasanya tidak akan gembar gembor memberi tahu kepada semua orang jika dia sudah memberi kemana, memberi apa atau berapa yang diberi. Maka Anda tidak akan tahu "senjata rahasia" dia kenapa bisa lebih sukses dibanding orang lain.

Keberuntungan itu bukan kebetulan. Diluar masalah soft skill, EQ, IQ dan hard skill knowledge yang wajib terus dibangun, tentu saja kita membutuhkan "keberuntungan". Keberuntungan itu dibangun dari hati yang iklas, membantu dan peduli. Iklas juga berarti dia tidak merasa perlu memberi tahu kepada semua orang bahwa dia senang berbagi dan peduli. Bahkan bisa jadi keberuntungan sudah dibangun sejak jaman orang tua kita, yang menabung kebaikan dan mencari berkah lalu anak anaknya yang kemudian mendapatkan keberuntungan. Ditambah biasanya anak anak mengikuti teladan yang diajarkan orang tuanya dijadikan sebagai kebiasaan. Tapi walaupun begitu keberuntungan tidak bisa berlaku rata. Bahkan mungkin dari empat anak, belum tentu semuanya bisa beruntung, karena tidak semua orang bisa beruntung. Tergantung pada setiap perilaku karakter pribadi anak tsb.

Apakah Anda menyimak di sekitar Anda bahwa justru banyak orang kaya yang lebih beribadah dibanding orang miskin,  orang kaya lebih penuh sholat 5 waktu dibanding orang miskin,  orang kaya yang seperti itu sudah pasti lebih banyak bersyukur dan lebih banyak memberi. Maka sudah diajarkan bahwa jika kamu memberi, AKU akan kembalikan kepadamu dengan jumlah yang berlipat ganda. Tapi Anda tidak harus menunggu kaya atau memiliki posisi jabatan untuk bisa memberi atau menolong orang. Karena yang Anda bisa berikan tidak harus melulu uang atau materi. Yang penting Anda punya kepedulian dan niat. Memberi bukan hanya harus uang, tapi perhatian, bimbingan, sekedar makanan, buku bacaan, bahkan saran dan juga mendoakan orang lain.


Sehingga memberi bukan hanya sebatas memberi ikannya, tapi justru memberi pancing. Mendidik dan memberi wawasan jauh lebih baik bagi yang diberi. Jadikan peduli dan memberi sebagai kebiasaan, jadikan sifat ini membentuk karakter diri Anda. Tapi berikan dengan cara yang bijaksana. Pecayalah pada "jalan dari langit". SEMANGAT SUKSES (Mirza A.Muthi)