Sabtu, 19 Februari 2011

STRATEGI PROMO PRODUK AGAR SESUAI SEGMENTASI TARGET PELANGGAN

Dari beberapa email banyak yang bertanya bagaimana mengklasifikasi produk agar sesuai dengan segmentasi target pelanggan yang ditetapkan perusahaan. Untuk kondisi karakter pasar Indonesia saat ini saya bisa katakan tidak ada hal yang baku dalam hal ini. Banyak orang kaya tapi lebih suka tampil low profile dan merasa cukup menggunakan produk produk kelas menengah. Sebaliknya banyak juga orang dari segmen mid below demi mengejar standard lifestyle sengaja bekerja siang malam atau bahkan berhutang agar bisa membeli produk dari segmen kelas premium atau paling tidak membeli produk replikanya. Tidak ada pilihan sesorang selalu pasti akan ambil produk dari kelas premium. Kadang kadang dia bisa membeli produk kelas menengah atau bahkan rela lesehan di warung pinggir trotoar mentraktir kawan kawannya santap malam, karena kata orang orang warung lesehan itu adalah khasnya kota tersebut, jadi harus mau bergabung dengan orang orang dari golongan bawah untuk makan sama sama di sana. Atau bahkan tukang beca yang punya mindset lebih baik tidak makan daripada tidak merokok, dan luar biasanya rokoknya terus Dji Sam Soe yang terkenal mahal. Jadi mengasumsi potensi bisnis berdasarkan demografik atau PAD untuk produk produk tertentu agak kurang berlaku dengan karakter kastemer saat ini.

Klasifikasi produk untuk segmentasi target pasar tetap perlu. Dari segmentasi tersebut kita targetkan 70% pembeli memang sesuai dengan target pasar dan kelas produk. Tapi 30% lagi bisa datang dari segmen pembeli dari kalangan mana saja. Yang terpenting pada akhirnya adalah eksekusi panetrasi pasar. Strategi yang diambil oleh pemegang kebijakan bisnis dan diterapkan secara segmented di wilayah segmen target pasar. Aplikasi eksekusi strategi pasar juga harus segmented. Mulai dari materi brosure, gaya bahasa, edukasi market, cara pendekatan yang dipakai, jika perlu endorser yang dipakai juga beda untuk produk yang sama tapi segmen pasar yang beda.

Bisa juga kita membedakan harga dari produk yang sama tapi dengan dilengkapi collateral yang berbeda untuk setiap segmen. Misalnya sebagai contoh biasa dilakukan untuk produk mobil yang mengeluarkan seri mulai dari “E” untuk segmen mid sampai “V” untuk segmen premium. Tapi tentu saja dibedakan fitur fitur kelengkapannya mulai dari kapasitas mesin, fitur keselamatan, interior sampai eksteriornya. Pembedaan type tersebut membedakan juga harga jual unitnya. Untuk mobil type “E” yang paling murah diperuntukan untuk segmen pasar angkutan, pelajar/ mahasiswa dan karyawan pemula bisa menggunakan bahasa promo yang lebih merakyat dan sehari hari. Konteksnya cukup untuk kemudahan penunjang aktifitas sehari hari. Misalnya endorsernya menggunakan artis ABG yang sedang naik daun. BTL yang dilakukan di kampus kampus dengan event yang banyak diminati kalangan mahasiswa.
Untuk type “G” yang menengah, konteks promo ditujukan pada best value, nilai jual kembali yang stabil dan gengsi. Bisa dilakukan promo di perkantoran atau kawasan bisnis ternama. Testimoni bisa dijaring di kalangan eksekutif karyawan kantoran, misalnya jemput mereka untuk keluar makan siang dengan mobil type “G” tersebut agar bisa langsung merasakan sensasinya. Lalu dimintakan testimoninya untuk dipromo.
Untuk seri “G” ini bisa juga dibuat versi “sporty” karena segmen seri ini cenderung masih berjiwa muda tapi sudah punya daya beli cukup kuat. Seri “sporty” ini bahasa promonya tentu saja harus mereferensikan mobil ini mampu berlari kencang tapi tetap stabil dan berpenampilan gaya balap. Misalnya endorsernya menggunakan atlet pembalap yang cukup dikenal lengkap dengan demo balapnya dengan mobil tersebut. BTL yang dilakukan di sirkuit balap dengan event one make race.

Lalu untuk type “V” yang paling premium dengan kelengkapan fitur, gunakan bahasa promo yang lebih berkelas dengan mengeksploitasi keunggulan fitur istimewa dan standard lifestyle yang bisa didapat. Segmen market yang dituju yang lebih kelas bisnis, kelas golongan mapan yang mengutamakan kemewahan, luxury dan kelas tersendiri. Segmen premium seperti ini tidak membutuhkan endorser jika endorsernya tidak betul betul high level. Lebih efektif referensi pertemanan/ koneksi dari kalangan atas ke lingkungan sesamanya. Untuk type ini bisa dilakukan pemasaran secara personal langsung menggunakan personal marketer dengan wanita cantik atau pria tampan plus excellent communication skill dengan seragam yang chic dan elegant langsung membuat perjanjian demo di lokasi rumah atau kantor target agar bisa uji coba langsung.


Demikian strategi untuk panetrasi pasar produk yang sama tapi ditujukan untuk beberapa segmen pasar. Eksekusi lapangan dari marketer dan konsep penawaran di lapangan memegang peranan penting untuk keberhasilan. Komunikasi, gaya bahasa, endorser, penjelasan perbedaan yang jelas antar produk yang sama di setiap type menjadi kunci sukses pemasaran sesuai segmen pasar. SEMANGAT SUKSES ( Mirza A.Muthi )

Sabtu, 12 Februari 2011

SPIRIT DARI OM BOB SADINO

Alhamdulillah dulu waktu masih karyawan saya sempat beberapa kali bertemu dengan Om BOB (Pengusaha Bob Sadino) di rumahnya. Beliau juga yang meyakinkan saya untuk segera keluar dari kerjaan dan menempuh hidup baru yang lebih merdeka.

Waktu itu sempat saya tanya: "Gimana sih supaya bisa sukses seperti om Bob?"
Dengan gampangnya Dia bilang "Besok pagi kamu telpon saya dan bilang ke saya bahwa pagi ini saya sudah jadi orang yang MERDEKA. Saya sudah tidak bekerja di kantor lagi.....!!!"

GILA...!!! itu yang ada dalam hati saya saat mendengarkannya. Bagaimana mungkin kondisi saya yg sudah berkeluarga dan istri sedang Hamil tua (anak pertama) harus RESIGN besok pagi juga!!!!! Mau dikasih apa anak istri saya nanti>>>??/

Pagi harinya saya tidak berani menelpon Beliau, karena saya masih berangkat ke kantor seperti biasa. Saya takut resikonya kalo nekat Resign saat itu juga. Ketakutan saya berlangsung sampai 4 tahun dan akhirnya saya Resign juga.

Alhamdulillah saya bisa menjawab tantangan dari beliau setelah 4 tahun kemudian. Dan Alhamdulillah juga ketakutan akan resikonya bisa saya hadapi dengan baik sampai saat ini.

Saya bersyukur karena ternyata saya tidak perlu jadi TUKANG/KULI BANGUNAN seperti yg Beliau pernah alami dulu saat berhenti dari pekerjaannya.
Saya bersyukur karena tidak jadi SUPIR TAXI GELAP yang menabrakkan mobil Bosnya seperti yg Beliau juga alami dulu.
Saya bersyukur karena tidak harus sampai NGUTANG TEMPE dua potong kepada tukang gado-gado. Dan kisah-kisah "penderitaan" lainnya yg pernah beliau alami.
Saya juga bersyukur karena kalau dipikir ternyata ujian yang saya hadapi masih lebih ringan dibanding yang beliau pernah ceritakan kepada saya waktu itu.

Saat lagi Down, saya sengaja berlama-lama memandangi foto yang bergambar saya saat bersama dengan om BOB, sebagai penyemangat & pengingat bahwa orang sukses seperti Beliau saja pernah bahkan SERINGmengalami hal yang lebih buruk dari yang saya hadapi, KENAPA SAYA HARUS CENGENG....!!!!???
Maka saat itu juga darah saya mendidih kembali.

Selamat Berjuang untuk Kawan-Kawan Pengusaha yang lagi DROP.....!!!!! 
Nikmati saja Kesulitannya...!!!
Nikmati saja Penderitaannya....!!!
Nikmati saja perjuangannya.... !!!
Karena kita yakin itu semua adalah jalan menuju sukses seperti om BOB....

Jadi orang yang MERDEKA...!!!! (yaitu : setiap saat pake celana pendek & baju buntung...he....he...he...)

Purwanto


Sabtu, 05 Februari 2011

TIDAK ADA SESUATU HASIL BAIK TANPA PROSES USAHA YANG BAIK

Seringkali kita melihat seorang yang sudah sukses masih dipandang sinis oleh orang yang belum sukses. “Enak ya dia bisa beli mobil Jaguar, pasti bisa soalnya dia khan kaya”, atau “Kok artis itu tampil sebentar tapi dibayar belasan juta, gampang bener hidupnya ya”, atau “ Yah pasti saja dia cepet dapat bisnisnya, khan dia dekat dengan pejabat A,B, pasti dia yang menang tendernya “. Dan banyak lagi komentar komentar sinis. Perlu saya tegaskan tidak ada hasil yang serta merta datang tanpa didahului oleh proses usaha. Banyak orang melihat dari apa yang ada pada seseorang di kondisinya saat sekarang, tapi mereka tidak melihat kepada prosesnya bagaimana dia bisa sampai di kondisi sekarang.

Pasti banyak kesakitan jatuh bangun perjalanan hidup yang sudah dialami, waktu bertahun yang telah disempatkan untuk selalu kerja keras, komunikasi dengan orang orang tertentu yang positif dan membangun relasi, kurang waktu santai bersama keluarga, pergi pagi pulang malam untuk bekerja di luar rumah, berkeliling di bawah panas matahari dan hujan untuk menjual sesuatu, dicemooh tetangga karena dianggap melakukan pekerjaan berderajat rendah, mengikuti seminar seminar pengembangan diri dengan biaya mahal, membeli buku buku bacaan bermutu, hanya bergaul dengan orang orang positif dan mengurangi bergaul yang tidak perlu walaupun itu menyenangkan, sampai mungkin ada pengorbanan pengorbanan besar lain yang berisiko demi teguh kepada tujuan adalah proses hidup si orang sukses yang kita belum tentu tahu, bahkan belum tentu kita bisa sanggup menjalani tahap tahap susah dan berjuangnya jika kita dalam posisi orang itu.
Semua apa yang baik yang sedang kita usahakan saat ini adalah investasi untuk masa depan kita. Buah dari investasi kita akan kita dapat pada saatnya nanti. Jika kita tidak pernah berinvestasi, maka tidak pernah akan ada hasil buah yang baik yang bisa kita dapat walaupun sampai kapanpun kita menunggu. Orang yang bersedia membayar investasi itu yang akan mendapatkan barangnya.

Tidak ada yang gratis di dunia ini. Itu sudah hukum Alam yang diungkapkan dalam berbagai gaya bahasa. Siapa menanam akan menuai, tidak ada makan siang gratis, Karma baik dan karma buruk. Membayar bukan hanya berkonotasi pada uang tapi ini ungkapan pada usaha baik yang berkesinambungan dan mengarah kepada tujuan hidup. Bangun pagi setiap hari selama belasan tahun, keluar uang untuk ikut seminar ini itu, membeli buku buku keilmuan, menjalin relasi dengan orang orang potensial, terbiasa bersikap ramah, optimis, seperti yang saya uraikan di atas itu adalah “investasi” . Anda berinvestasi membayar / berusaha untuk harapan tercapainya tujuan akhir yaitu “buah sukses” yang bisa Anda terima di masa depan. Tidak ada yang instant dalam hidup ini. Membayar adalah investasi yang nanti investasi ini akan memberikan hasil sukses di jangka waktu kemudian.

Kalaupun Anda tidak melakukan pembayaran investasi baik, maka akhirnya Anda juga harus membayar untuk resiko kegagalan hidup Anda, hanya dalam konteks yang negative. Misalnya Anda terus saja bertahan untuk hidup tidak produktif, tidak jelas arah tujuan, bersenang senang terus, tidak mengembangkan potensi diri, bersikap negative dan sulit bersosialisasi, nanti dibeberapa tahun mendatang hidup Anda akan nyata nyata sulit secara ekonomi, mau berobat susah, mau sekolahkan anak susah, terus naik angkot panas dan hujan karena tidak pernah punya uang untuk mencicil mobil, hutang menumpuk tanpa jelas bagaimana cara membayarnya, cerai dengan pasangan hidup karena pasangan mungkin lama lama tidak tahan hidup susah terus, dan banyak hal susah lainnya. Anda membayar lebih mahal daripada seharusnya Anda investasi di awal agar kesusahan ini tidak terjadi. Tapi sudah agak terlambat karena sekarang usia Anda sudah semakin tua sehingga kesempatan sudah makin kecil bagi Anda untuk bisa bangkit.

Atau jika kita ingin instant mencari kekayaan cepat dengan cara korupsi, curang dalam pengelolaan uang perusahaan tempat kita bekerja, mempungli pihak pihak yang bisa kita tekan, maka mungkin saja Anda akan terlihat sukses secara financial. Tapi tetap saja Anda nantinya juga harus membayar jika ternyata kecurangan Anda terbongkar. Anda bisa berhadapan dengan pihak berwajib, pengadilan, mungkin media massa sehingga nama baik dan kredibilitas Anda hancur, ditinggalkan kawan, relasi bahkan saudara, atau mungkin harus menghabiskan sisa hidup dalam kurungan penjara. Apalagi jika sebenarnya Anda adalah orang baik yang terpaksa melakukan hal tersebut karena dorongan lingkungan, pasti Anda terus merasa berdosa pada hati kecil Anda. Hidup Anda tidak akan pernah tenang lagi setelah itu karena dihantui rasa bersalah yang tidak ada obatnya.


Tidak ada sesuatupun yang gratis. Anda harus membayar, apa itu pembayaran investasi di awal agar Anda bisa memetik buah hasil sukses di akhir ataupun menerima hasil instant dulu di depan tapi Anda harus membayar dengan kehancuran di belakang. Hidup adalah pilihan, dan Anda yang menentukan. Pilihan sudah Anda ambil dan Anda harus menerima konsekuensinya. Maka jangan salahkan orang lain pada keburukan apa yang sudah terjadi atau nanti terjadi pada hidup Anda. SEMANGAT SUKSES ( Mirza A. Muthi )