Jumat, 01 Februari 2019

Perlunya Memberi Kepercayaan



Salah satu cara bagi Anda yang masih berstatus karyawan tapi masih bisa memiliki usaha sampingan adalah meminta seseorang untuk menjalankan bisnis sampingan Anda. Jadi Anda masih tetap bisa kerja dan tapi Anda bisa juga mendapatkan penghasilan tambahan. Di jaman kebutuhan hidup dan standard harga harga sekarang ini jika berharap dari gaji saja mungkin saja masih kurang dan harus ada tambahan pemasukan. Tentu saja pekerjaan tambahan ini tidak berisiko pekerjaan Anda sebagai profesional atau karyawan tidak terganggu, karena jika sampai terganggu maka akan timbul masalah baru.

Jika Anda lebih suka "mode aman", mungkin Anda bisa menanamkan uang di sektor investasi instrumen bank seperti saham, deposito, trading forex, danareksa, obligasi, dll. Tapi yang hendak saya bahas disini adalah jika Anda bertindak sebagai investor di usaha di sektor riil, seperti membuka booth kuliner, outlet resto atau cafe, factory outlet, laundry, bengkel, dll. Tentu saja untuk menjalankan fungsi operasional outlet ini perlu ada perangkat SDM. Maka disini pentingnya memberi kepercayaan dan wewenang kepada team yang ditunjuk.

Tidak semua owner/investor bijaksana dalam melakukan hal ini. Ada investor yang katanya bisa memberi wewenang, tapi kenyataannya terlalu strict dalam mengawasi kinerja manager dan teamnya. Misal mengawasi melalui CCTV tapi menerapkan peneguran melalui petugas security. Seakan di struktur organisasi posisi security lebih tinggi posisi jabatannya dari manager karena bisa menegur manager dan staff atas perintah langsung dari owner yang mengamati via CCTV. Jika sedikit saja owner tidak melihat petugas outlet di layar CCTV maka langsung dihubungi security untuk melakukan peneguran langsung. Padahal CCTV hanya menggambarkan visual, tidak bisa menjelaskan secara riil proses kerja atau komunikasi  apa yang sebenarnya sedang terjadi. Secara psycologis Manager dan staff seakan akan bukan sedang bekerja, tapi sedang dalam tahanan. Secara profesional juga Manager tidak merasa dihargai eksistensinya karena kerjanya terlalu diatur, diawasi dan bahkan ditegur dan dilaporkan oleh security. 
Ada baiknya setiap awal bulan diadakan meeting antara manager, spv dan owner. Minta Manager untuk mempresentasikan program kerja bulan berjalan, biaya biaya non rutin yang dibutuhkan, untuk tujuan apa  dan berapa target omzet yang akan dikejar. Lalu biarkan team  bekerja dibawah pengarahan dari Manager. Owner cukup melakukan pantauan terhadap pencapaian omzet rata rata per hari, melakukan peneguran   atas data omzet tsb. Seluruh penilaian kinerja profesional harus berdasarkan data, bukan atas dasar pelaporan dari security, infomasi katanya katanya yang tidak jelas sumber dan analisanya. Jangan buat Manager Anda merasa dibodohi dengan penilaian tidak objective, terlalu mengada ada dan kekanak kanakan dari owner terhadap cara kerja Manager dan teamnya. Manager juga manusia profesional yang punya harga diri dan jika harga dirinya terusik wajar jika kinerjanya jadi tidak lagi perform dan dia lebih memilih keluar dari lingkup usaha Anda sebelum target kerja tercapai. Berapa kalipun Anda mengganti manager tapi jika pola pengawasan kerja Anda terhadap Manager tidak berubah, maka jangan harap Anda bisa menemukan Manager profesional yang cukup bersabar mengahadapi Anda. Justru mungkin jikapun Anda dapat bisa jadi dari kalangan Manager yang sebetulnya kurang baik track record prestasinya, sudah berumur dan tidak diterima kerja dimana mana lagi dan yang sudah putus asa mencari pekerjaan lalu kebetulan  diterima bekerja di usaha Anda dan berpasrah atas perlakuan   Anda asal terpenting masih bisa terima gaji bulanan. 

Pengawasan yang terlalu mengada ada, misalnya sampai petugas security menegur Manager masalah pekerjaan. Mengontrol waktu Manager keluar masuk outlet dan sebentar sebentar melaporkan jadwal Manager ke Owner. Bisa jadi Manager memang sedang melakukan negosiasi dengan klien diluar outlet dan melakukan canvasing di area sekitar outlet. Security adalah petugas keamanan, kecuali Manager atau staff melakukan pelanggaran terkait keamanan atau pencurian asset perusahaan, maka tidak pada tempatnya security mengatur bagaimana cara Manager dan team bekerja. Kecuali jika security bermaksud membantu teamwork dengan saran, masukan atas informasi dari pelanggan atau bahkan jika security tsb mempunyai pengalaman dan pengetahuan terkait bisnis yang dijalankan silakan saja. Manager bisa menerima masukan dari siapa saja, bahkan dari security, hanya saja security sementara  harus berada di pihak teamwork, sama sama berjuang dan berkontribusi untuk kemajuan bisnis. Jadi bukan ada di pihak owner,  apalagi dengan maksud hanya untuk mencari muka dari owner yang akhirnya merusak ritme dan kenyamanan kerja dari teamwork.

Biasakan menilai kinerja Manager dan team dari pencapaian target kerja setiap bulan. Diakhir bulan nanti setelah semua data omzet didapat, lakukan meeting denga  seluruh team. Bagus jika di akhir bulan seluruh terget omzet tercapai 100% maka bisa dianggap  seluruh proses kerja berjalan sesuai rencana. Jika belum tercapai maka bisa bahas apa yang dikerjakan Manager dan team selama ini. Owner bisa menyampaikan data data yang didapat dari laporan security dan lakukan konfirmasi di depan forum meeting tentang apa yang dilakukan selama tidak terpantau CCTV ataupun security. Berikan waktu kepada Manager untuk melakukan konfirmasi dikaitkan dengan program kerja yang telah disepakati bersama. Walaupun ada evaluasi dan penilaian dari Owner tetapi tetap caranya profesional, wajar dan tidak mengusik harga diri Manager. Ini adalah cara kerja bisnis, maka perlakukan semua SDM yang terlibat dalam bisnis berdasarkan data pencapaian omzet. Bagaimana cara Manager mengelola kerja dan teamworknya bisa dievaluasi berdasarkan KPInya karena setiap Manager punya gaya kerja dan gaya komunikasi team sendiri yang dianggapnya sudah cukup nyaman dalam menjalankan proses kerjanya sehari hari. 

SEMANGAT SUKSES 
(Mirza A.Muthi)